Bahan Kimia Beracun Ditemukan di Banyak Produk Kosmetik

Muchammad YaniMuchammad Yani - Kamis, 17 Juni 2021
Bahan Kimia Beracun Ditemukan di Banyak Produk Kosmetik

Banyak dari bahan kimia ini tidak dicantumkan pada label produk. (Foto: 123RF/Sebastian Duda)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KAMU mungkin telah menyerap dan menelan bahan kimia yang berpotensi beracun dari produk kosmetik yang kamu gunakan. Demikian sebuah studi baru menunjukkan.

Para peneliti menemukan kadar fluor yang tinggi di sebagian besar maskara tahan air, lipstik cair, dan alas bedak yang mereka uji. Penelitian itu menunjukkan kemungkinan adanya apa yang dikenal sebagai PFAS, zat per dan polifluoroalkil. Banyak dari bahan kimia ini tidak dicantumkan pada label produk, sehingga sulit bagi konsumen untuk secara sadar menghindarinya.

“Studi ini sangat membantu untuk menjelaskan kandungan PFAS dari berbagai jenis kosmetik di pasar AS dan Kanada,” kata Elsie Sunderland, PhD, seorang ilmuwan lingkungan yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Baca juga:

Mikroba Bisa Tumpangi Perut Pelancong

“Sebelumnya, semua data telah dikumpulkan di Eropa, dan penelitian ini menunjukkan bahwa kita menghadapi masalah serupa di pasar Amerika Utara,” kata Sunderland, profesor kimia lingkungan di Harvard T.H. Sekolah Kesehatan Masyarakat Chan di Boston, AS.

PFAS adalah kelas bahan kimia yang digunakan dalam berbagai produk konsumen, seperti peralatan masak antilengket, karpet tahan noda, dan pakaian anti air, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau CDC. Mereka ditambahkan ke kosmetik untuk membuat produk lebih tahan lama dan menyebar, kata para peneliti dalam penelitian tersebut.

“[PFAS] ditambahkan untuk mengubah sifat permukaan, membuatnya antilengket atau tahan terhadap air atau minyak,” kata rekan penulis studi Tom Bruton, PhD, ilmuwan senior di Green Science Policy Institute di Berkeley, CA.

PFAS ditambahkan untuk mengubah sifat permukaan, membuatnya antilengket atau tahan air. (Foto: 123RF/janifest)
PFAS ditambahkan untuk mengubah sifat permukaan, membuatnya antilengket atau tahan air. (Foto: 123RF/janifest)

"Hal yang mengkhawatirkan tentang kosmetik adalah bahwa ini adalah produk yang kamu aplikasikan ke kulit dan wajah setiap hari, jadi ada alur penyerapan kulit yang menjadi perhatian, tetapi juga tertelannya kosmetik yang tidak disengaja juga menjadi perhatian," tambah Bruton seperti diberitakan webmd.com (15/6).

CDC mengatakan beberapa efek kesehatan potensial dari paparan PFAS termasuk peningkatan kadar kolesterol, peningkatan risiko kanker ginjal dan testis, perubahan enzim hati, penurunan respons vaksin pada anak-anak, dan risiko tekanan darah tinggi atau preeklamsia yang lebih tinggi pada perempuan hamil.

“PFAS adalah kelas besar bahan kimia. Pada manusia, paparan beberapa bahan kimia ini telah dikaitkan dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh, jenis kanker tertentu, peningkatan risiko diabetes, obesitas, dan gangguan endokrin. Zat-zat ini tampaknya berbahaya bagi setiap sistem organ utama dalam tubuh manusia,” kata Sunderland.

Baca juga:

Vaksinasi Gotong Royong Percepat Herd Immunity

Untuk studi yang diterbitkan online di Environmental Science & Technology Letters ini, Bruton dan rekan-rekannya membeli 231 produk kosmetik di AS dan Kanada dari pengecer seperti Ulta Beauty, Sephora, Target, dan Bed Bath & Beyond. Mereka kemudian menapis produk-produ itu untuk fluor.

Tiga perempat sampel maskara tahan air mengandung konsentrasi fluor tinggi, seperti halnya hampir dua pertiga alas bedak dan lipstik cair, dan lebih dari separuh produk mata dan bibir diuji.

Para peneliti itu menemukan, kategori kosmetik yang berbeda cenderung memiliki konsentrasi fluor yang lebih tinggi atau lebih rendah. "Tingkat fluor tinggi ditemukan dalam produk yang biasa diiklankan sebagai 'tahan' terhadap air dan minyak atau 'tahan lama', termasuk alas bedak, lipstik cair, dan maskara waterproof," tulis Bruton dan rekannya.

Studi ini sangat membantu untuk menjelaskan kandungan PFAS dari berbagai jenis kosmetik. (Foto: 123RF/Monchai Tudsamalee)
Studi ini sangat membantu untuk menjelaskan kandungan PFAS dari berbagai jenis kosmetik. (Foto: 123RF/Monchai Tudsamalee)

Ketika mereka menganalisis lebih lanjut dari 29 set produk untuk menentukan jenis bahan kimia apa yang ada, mereka menemukan bahwa setiap produk kosmetik mengandung setidaknya 4 PFAS, dengan satu produk mengandung 13 PFAS. Zat PFAS yang ditemukan termasuk beberapa yang terurai menjadi bahan kimia lain yang dikenal sangat beracun dan berbahaya bagi lingkungan.

“Sangat memprihatinkan bahwa beberapa produk yang kami uji tampaknya sengaja menggunakan PFAS, tetapi tidak mencantumkan bahan-bahan tersebut pada labelnya,” kata Bruton.

“Saya pikir sangat membantu bagi konsumen untuk membaca label, tetapi di luar itu, tidak banyak cara yang dapat dilakukan konsumen sendiri untuk menyelesaikan masalah ini. Kami pikir industri perlu lebih proaktif untuk menjauh dari kelompok bahan kimia ini,” dia menambahkan.

Mengenai hal ini, Sunderland mengatakan, “Pada titik ini, sangat sedikit aktivitas regulasi terkait PFAS dalam kosmetik. Hal terbaik yang bisa dilakukan konsumen adalah dengan menunjukkan bahwa mereka lebih memilih produk tanpa PFAS dan menuntut transparansi yang lebih baik dalam daftar bahan produk.” (aru)

Baca juga:

6 Penyebab Alergi Kosmetik

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Muchammad Yani

Lebih baik keliling Indonesia daripada keliling hati kamu
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Indonesia
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Sekolah diminta tidak menjalankan aktivitas luar ruangan seolah kualitas udara dalam kondisi normal.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Bagikan