Kesehatan

Mikroba Bisa Tumpangi Perut Pelancong

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Kamis, 17 Juni 2021
Mikroba Bisa Tumpangi Perut Pelancong

Perut para pengelana ini mungkin menyimpan penumpang gelap mikroba baru. (Foto: 123RF/Surasak Saneha)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PELANCONG yang pulang dari negara asing membawa kembali lebih dari sekadar oleh-oleh dan kenangan wisata. Perut mereka mungkin menyimpan penumpang gelap mikroba baru. Bahanyanya, beberapa di antaranya mengandung sekuens gen yang membuat antibiotik kurang efektif.

Temuan baru yang diterbitkan daring di Genome Medicine (7/6), menarik perhatian karena para peneliti menangkap profil mikrobioma tinja para pelancong sebelum mereka berangkat dan segera setelah mereka kembali. Perbandingan sebelum dan sesudah adalah temuan paling baru di sini. Demikian dikatakan Jonathan Eisen, PhD, profesor dan ahli mikrobiologi di University of California, AS.

Eisen yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan, "Mereka mendapatkan gambaran tentang waktu di mana kumpulan organisme atau gen resistensi antimikroba berada."

Baca juga:

Terasa 6 Tanda Sakit Perut Begini, Kamu Wajib Cek Kesehatan

Mikroba Bisa Tumpangi Perut Pelancong
Orang dapat memiliki mikroba baru di usus dari makanan, minuman, dan menggunakan fasilitas toilet. (Foto: 123RF/primagefactory)

Pada penelitian ini para ilmuwan membuat profil sampel tinja dari 190 orang yang bepergian dari kota domisili mereka di Belanda ke daerah-daerah di Afrika Utara dan Timur serta Asia Selatan dan Tenggara. Waktu yang dihabiskan pengunjung di tempat tujuan setidaknya seminggu, tetapi tidak lebih dari tiga bulan. Mereka juga tidak minum antibiotik tiga bulan sebelum perjalanan.

Segera setelah mereka kembali dari perjalanan, yang sebagian besar dilakukan untuk liburan, individu yang sama memberikan sampel tinja tambahan. Analisis sampel tersebut menunjukkan banyak mikrobiota baru yang datang bersama dengan inang perjalanan mereka, termasuk 56 sekuens gen yang terkait dengan resistensi antibiotik.

Orang dapat memiliki mikroba baru di usus mereka dengan beberapa cara, termasuk dengan makan dan minum dan menggunakan fasilitas toilet di tempat yang mereka kunjungi. Siapa pun yang bepergian dianggap sebagai 'wadah' untuk teman mikroba baru, dan tempat baru yang mereka kunjungi adalah 'sumbernya'.

Mereka yang mengunjungi tujuan yang sama cenderung mengambil mikroba baru yang serupa, menunjukkan kekhususan bakteri ini dan gen mereka ke sumber geografis. Para peneliti menguji kemampuan beberapa sekuens gen tersebut akan resistensi antibiotik terhadap bakteri E.coli dan menemukan bahwa mereka resisten.

Baca juga:

Faktor Usia Pengaruhi Kekuatan Perut Terima Makanan Pedas

Mikroba Bisa Tumpangi Perut Pelancong
Banyak mikroba baru yang datang bersama dengan inang yang merupakan para pengelana. (Foto: 123RF/Sebastien Decoret)

Studi ini tidak memeriksa apakah mikroba yang didapat ini berhubungan dengan risiko pengembangan penyakit manusia, kata penulis studi Gautam Dantas, PhD, seorang profesor patologi dan imunologi di Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis, AS.

Dantas dan rekan-rekannya juga tidak mengevaluasi apa yang terjadi pada penghuni usus baru setelah pengelana menetap di rumah. "Kami tidak tahu seberapa sementara akuisisi itu. Siapa tahu, mungkin satu minggu kemudian, setengah dari hal-hal ini hilang, mungkin setahun kemudian semuanya hilang ... kami belum memiliki jawaban itu," kata Dantas seperti diberitakan webmd (14/6).

Kekhawatiran dengan kehadiran sementara gen resistensi baru di usus seseorang berhubungan dengan cara bakteri cenderung bertukar sekuens. Sebuah sel bakteri yang membawa gen seperti itu mungkin tidak akan bertahan lama, tetapi jika ia mentransfer gen itu ke mikroba asli di usus seseorang, sekuens gen itu sendiri bisa menjadi penduduk permanen.

Pada titik tertentu, "sekuens akhirnya bisa melompat ke bug yang dapat menyebabkan penyakit," kata Dantas, melucuti efek pengobatan antibiotik yang biasa.

Hasil hipotetis dari efek antibiotik yang dikompromikan masih harus dibuktikan, kata Dantas. Dia menekankan bahwa temuan saat ini menunjukkan bahwa perjalanan internasional membawa peningkatan risiko mengambil langkah pertama ke arah hadirnya mikroba yang mengandung sekuens gen resisten.

Eisen menambahkan, meskipun pengambilan sampel untuk mikroba dan gen resisten cukup teliti di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, "Kami tidak memiliki banyak data resistensi antimikroba dari tempat lain." Studi seperti ini menunjukkan bagaimana para pengelana dapat menjadi "wadah" bagi mikroba ini dan sekuensnya ketika mereka melakukan perjalanan ke 'sumber'. Penelitian ini menyoroti perlunya pengawasan global, katanya.

"Kami tahu bahwa kami memiliki masalah global dengan resistensi antimikroba dan pergerakan orang berkontribusi terhadap penyebaran. Tidak perlu dipikirkan lagi bahwa kita membutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana orang membawa para mikroba ini dari satu tempat ke tempat lain, dan penelitian ini manyajikan bagian dari gambaran itu," demikian jelas Eisen. (aru)

Baca juga:

Resisten Antimikroba Sebabkan Kematian

#Kesehatan #Traveling #Wisatawan #Wisata #Traveling Ke Luar Negeri
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
PAM Jaya Perkuat K3, Siapkan Pembangunan 7.000 Km Jaringan Pipa
PAM Jaya kini memperkuat K3 dalam implementasinya. PAM Jaya juga telah menyiapkan pembangunan 7.000 km jaringan pipa.
Soffi Amira - Senin, 10 Agustus 2026
PAM Jaya Perkuat K3, Siapkan Pembangunan 7.000 Km Jaringan Pipa
Lifestyle
Kopi Menu Andalan Temani Gaya Hidup Sehat
Kopi menjadi pilihan utama masyarakat yang ingin tetap produktif sekaligus menjaga kesehatan.
Dwi Astarini - Selasa, 04 Agustus 2026
Kopi Menu Andalan Temani Gaya Hidup Sehat
Fun
Australia Barat Tawarkan Destinasi Liburan Keluarga dengan Alam yang Tenang dan Aktivitas Edukatif
Australia Barat menawarkan berbagai destinasi wisata ramah keluarga, mulai dari Busselton Jetty, Ngilgi Cave, hingga Lucky Bay yang dihuni kanguru liar.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 03 Agustus 2026
Australia Barat Tawarkan Destinasi Liburan Keluarga dengan Alam yang Tenang dan Aktivitas Edukatif
Indonesia
6 Dokter Intership Meninggal, DPR Minta Evaluasi Total
Langkah darurat ini dinilai sebagai keputusan krusial untuk mencegah berulangnya tragedi serta melindungi keselamatan jiwa dokter maupun pasien.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Juli 2026
6 Dokter Intership Meninggal, DPR Minta Evaluasi Total
Indonesia
Kemenkes Kampanyekan Jangan Takut Stigma Negatif Tes HIV, Makin Cepat Diketahui Lebih Baik
Kemenkes dorong masyarakat lakukan tes HIV tanpa takut stigma negatif. Deteksi dini penting untuk menekan penularan dan memastikan pengobatan segera dengan terapi ARV.
Wisnu Cipto - Minggu, 26 Juli 2026
Kemenkes Kampanyekan Jangan Takut Stigma Negatif Tes HIV, Makin Cepat Diketahui Lebih Baik
Indonesia
Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Temukan 40,8% Anak Punya Gigi Berlubang
Pemeriksaan sejak 1 Januari hingga 14 Juli 2026, karies gigi atau gigi berlubang menjadi keluhan terbanyak, disusul anemia pada remaja putri dan hipertensi.
Dwi Astarini - Kamis, 23 Juli 2026
Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Temukan 40,8% Anak Punya Gigi Berlubang
Indonesia
Tragedi Kapal Turis Pulau Komodo Tenggelam di Lautan Gelap: 45 Korban Terapung Semua Selamat
Kapal wisata dari Gili Trawangan menuju Pulau Komodo tenggelam di perairan Bima. SAR Mataram evakuasi 45 penumpang dan awak dalam kondisi selamat.
Wisnu Cipto - Jumat, 17 Juli 2026
Tragedi Kapal Turis Pulau Komodo Tenggelam di Lautan Gelap: 45 Korban Terapung Semua Selamat
Indonesia
Stasiun Yogyakarta Kini Punya Lelana Gallery, Ruang Kreatif untuk UMKM Berbasis Budaya
Stasiun Yogyakarta kini memiliki Lelana Gallery yang menampilkan produk UMKM berbasis budaya dan keberlanjutan. Inisiatif KAI Wisata ini mendukung ekonomi kreatif lokal.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 16 Juli 2026
Stasiun Yogyakarta Kini Punya Lelana Gallery, Ruang Kreatif untuk UMKM Berbasis Budaya
Indonesia
Wong Kito Pemburu Kuliner-Belanja Langsung Gas, Dibuka Rute Baru Pelembang-Bandung!
Bandara Husein Sastranegara Bandung buka rute baru ke Bandar Lampung dan Palembang mulai Agustus 2026. Wings Air melayani penerbangan langsung dengan pesawat ATR 72 berkapasitas 72 kursi.
Wisnu Cipto - Selasa, 14 Juli 2026
Wong Kito Pemburu Kuliner-Belanja Langsung Gas, Dibuka Rute Baru Pelembang-Bandung!
Travel
Jalan-Jalan ke Arab Saudi Lebih Mudah dengan Package Visa, Bisa Fokus ke Pengalaman Wisata
Package Visa merupakan inisiatif digital yang mengintegrasikan penerbitan visa wisata secara langsung ke dalam pemesanan paket perjalanan yang telah dikurasi.
Dwi Astarini - Jumat, 10 Juli 2026
Jalan-Jalan ke Arab Saudi Lebih Mudah dengan Package Visa, Bisa Fokus ke Pengalaman Wisata
Bagikan