Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Wabah Hantavirus Tewaskan Penumpang di MV Hondius, WHO Sebut bukan Paling Mematikan tapi Berbahaya

Dwi Astarini - Kamis, 07 Mei 2026

MERAHPUTIH.COM - KASUS hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul laporan wabah di kapal pesiar MV Hondius yang menyebabkan sejumlah penumpang mengalami gangguan pernapasan serius hingga meninggal dunia. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai seberapa berbahayanya hantavirus, termasuk apakah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menetapkannya sebagai virus mematikan.

Sampai artikel ini tayang, WHO memang belum pernah secara khusus menyebut hantavirus sebagai 'virus paling mematikan' di dunia. Meski begitu, WHO secara resmi mengategorikan hantavirus sebagai virus berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit serius dan berisiko fatal pada manusia.

Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus. Penularan biasanya terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus. Dalam beberapa kasus tertentu, varian Andes hantavirus juga diketahui memiliki kemungkinan penularan antarmanusia dalam kontak yang sangat dekat, meski kasus seperti ini tergolong langka.

WHO menjelaskan hantavirus dapat memicu dua sindrom utama yang berbahaya, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), yaitu kondisi yang menyerang paru-paru dan sistem pernapasan. Penyakit ini dapat berkembang cepat menjadi gagal napas akibat penumpukan cairan di paru-paru.

Sindrom kedua yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang lebih banyak menyerang ginjal dan dapat menyebabkan perdarahan hingga gagal ginjal. Kedua kondisi tersebut memiliki risiko kematian yang cukup tinggi apabila tidak segera ditangani secara medis.

Baca juga:

Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Hantavirus, Ini Langkah Pencegahannya



Seperti dilansir laman resmi WHO, tingkat fatalitas hantavirus berbeda-beda tergantung jenis strain virus dan wilayah penyebarannya. Di beberapa negara Asia dan Eropa, tingkat kematian akibat jenis hantavirus tertentu berkisar di bawah 1 persen hingga sekitar 15 persen. Namun, untuk jenis HPS yang banyak ditemukan di wilayah Amerika, angka kematiannya dapat mencapai hingga 50 persen.

Hal yang membuat hantavirus cukup berbahaya yakni gejala awalnya yang sering menyerupai flu biasa. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, hingga gangguan pencernaan seperti mual dan muntah. Karena terlihat seperti penyakit umum lainnya, banyak kasus baru diketahui setelah kondisi pasien memburuk dan mulai mengalami sesak napas berat atau gangguan organ.

Kasus di kapal pesiar MV Hondius juga menjadi perhatian karena adanya dugaan penyebaran hantavirus strain Andes, salah satu strain yang memiliki kemungkinan penularan antarmanusia. WHO saat ini masih terus menginvestigasi kasus tersebut untuk memastikan pola penularannya.

Meski demikian, WHO menilai risiko penyebaran luas hantavirus ke masyarakat global saat ini masih tergolong rendah. Sebagian besar penularan tetap terjadi melalui paparan hewan pengerat dan lingkungan yang terkontaminasi.

Para ahli kesehatan mengingatkan kewaspadaan tetap penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal atau bekerja di lingkungan dengan populasi tikus tinggi. Menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke rumah, serta menggunakan alat pelindung saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi menjadi langkah utama dalam pencegahan.

Hantavirus mungkin bukan virus yang paling umum ditemukan, tetapi tingkat fatalitasnya membuat penyakit ini tidak bisa dianggap sepele. Kasus terbaru yang terjadi di kapal pesiar menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis masih menjadi ancaman kesehatan global yang perlu diwaspadai sejak dini.(Far)

Baca juga:

Kasus Hantavirus Melonjak di Argentina, Tempat Awal MV Hondius Memulai Pelayaran, WHO Lacak Perjalanan Korban untuk Menentukan Awal Mula Infeksi

Baca Artikel Asli