MERAHPUTIH.COM - GELOMBANG duka yang menyelimuti dunia medis Indonesia akibat meninggalnya enam dokter magang sepanjang 2026 memicu tuntutan evaluasi total dan perhatian serius dari parlemen. Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa menyatakan dukungan penuh atas langkah tegas Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang meliburkan puluhan ribu dokter internship untuk menjalani pemeriksaan ulang kesehatan fisik dan jiwa secara menyeluruh.
Langkah darurat ini dinilai sebagai keputusan krusial untuk mencegah berulangnya tragedi serta melindungi keselamatan jiwa dokter maupun pasien yang mereka layani.
"Kami mendukung penuh keputusan Kemenkes untuk memperketat screening fisik dan jiwa bagi calon dokter magang. Kebijakan ini harus menjadi instrumen perlindungan nyata, bukan sekadar pemenuhan syarat administratif di atas kertas. Dokter membutuhkan kondisi fisik dan mental yang kuat untuk bisa menyelamatkan nyawa orang lain," tegas Neng Eem di Jakarta, Jumat (31/7).
Legislator asal Jawa Barat ini membeberkan jam kerja yang terlewat panjang, beban tugas yang berat, serta tekanan psikologis di garda terdepan pelayanan kesehatan sangat rentan memicu burnout (kelelahan ekstrem) hingga gangguan mental serius.
Baca juga:
Dokter Internship di Jambil Meninggal, DPR Minta Investigasi dan Evaluasi Sistem
Oleh karena itu, pengetatan medical check-up (MCU) dan tes kepribadian Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) bertujuan memberikan penanganan dini dan pendampingan psikologis, bukan untuk memberikan stigma kepada para calon dokter. “Deteksi dini ini murni bentuk perlindungan. Jika sejak awal ditemukan adanya indikasi masalah kesehatan atau kelelahan mental, mereka bisa langsung mendapatkan terapi, pendampingan, atau penyesuaian beban kerja. Dokter yang terganggu kesehatan jiwanya tentu berisiko mengalami kelalaian," ujarnya.
Langkah pengetatan ini diambil Kemenkes setelah evaluasi atas meninggalnya enam dokter magang di berbagai daerah sepanjang 2026, yakni almarhum AMW (RSUD Pagelaran), KAP (RS Bhina Bhakti Husada), EBH (RS Bhayangkara Denpasar), MAZ (RSUD KH Daud Arif), MZD (RSUD Sukadana), serta SZM (RS Sentra Medika Cisalak).
Sebagai respons atas tragedi tersebut, pemerintah resmi meliburkan sementara 10.564 dari sekitar 12.000 dokter magang mulai 30 Juli hingga 14 Agustus 2026 untuk menjalani screening ulang massal.
"Tragedi hilangnya nyawa enam dokter muda ini harus menjadi koreksi mendasar bagi tata kelola program magang nasional. Komisi IX akan memastikan bahwa setelah evaluasi dua pekan ini selesai, regulasi jam kerja dan sistem pengawasan di rumah sakit rujukan benar-benar memanusiakan para tenaga medis kita," pungkasnya.(Pon)
Baca juga:

