Waka Komisi XII DPR Ungkap Poin Krusial Revisi UU Migas

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 21 September 2026
Waka Komisi XII DPR Ungkap Poin Krusial Revisi UU Migas

Ilustrasi SPBU Pertamina. (Foto: dok. Pertamina)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - DPR RI mengungkap sejumlah poin krusial dalam draf revisi Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi (RUU Migas) yang tengah dibahas bersama pemerintah. Salah satu substansi utama yakni pembentukan Badan Usaha Khusus (BUK) Migas yang nantinya memiliki kewenangan besar dalam pengelolaan kegiatan usaha hulu.


Wakil Ketua Komisi XII DPR Bambang Haryadi mengatakan draf RUU Migas mengatur BUK Migas bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Ketentuan tersebut tercantum dalam Pasal 5 ayat (3).


"Dalam Draf RUU Migas yang telah diserahkan ke pemerintah ditegaskan dalam pasal 5 ayat (3) bahwa BUK bertanggung jawab kepada Presiden, dan alhamdulillah ketentuan yang kita usulkan terkait dengan kedudukan BUK sudah disepakati pemerintah," ujar Bambang di Jakarta, Senin (21/9).


Berdasarkan draf yang diberitakan, pemerintah pusat mendelegasikan pengusahaan kegiatan usaha hulu kepada BUK Migas. BUK menjadi pemegang kuasa usaha pertambangan dan dapat melakukan kerja sama dengan badan usaha atau bentuk usaha tetap apabila tidak mampu mengelola suatu wilayah kerja sendiri.

Baca juga:

Gugat UU Migas ke MK, Pemohon Persoalkan Penetapan Harga BBM yang Mengacu Harga Global




Poin lain yang disoroti ialah perubahan ketentuan domestic market obligation (DMO). Frasa 'paling banyak 25 persen' dalam UU Nomor 22 Tahun 2001 diusulkan menjadi 'paling sedikit 25 persen'. Bambang menyebut perubahan tersebut diperlukan untuk menyesuaikan aturan dengan putusan Mahkamah Konstitusi.


Selanjutnya, BUK Migas diusulkan memiliki kewenangan khusus yang dapat diutamakan dibandingkan aturan sektoral lain ketika terdapat cadangan migas di kawasan hutan, kelautan, pertanian, dan wilayah lainnya. DPR juga mengusulkan agar seluruh wilayah kerja migas berada dalam penguasaan BUK. Jika suatu wilayah tidak dapat dikelola sendiri, BUK dapat menawarkan kerja sama kepada badan usaha atau bentuk usaha tetap. Namun, penguasaan wilayah kerja tetap berada pada BUK.


Menurut Bambang, skema tersebut juga dirancang untuk menyederhanakan proses perizinan. Investor nantinya dapat langsung menjalankan kegiatan setelah memperoleh kerja sama, sementara pengurusan izin dilakukan BUK.


Selain itu, RUU Migas juga memuat pembentukan petroleum fund yang akan digunakan untuk membiayai eksplorasi, penelitian, dan pengembangan cadangan migas. Bambang mengatakan konsep tersebut memiliki kemiripan dengan tata kelola migas di Malaysia dan Arab Saudi.


Ia berharap perubahan tata kelola tersebut dapat mendorong investasi sekaligus meningkatkan produksi dan lifting migas nasional. Pembahasan RUU Migas sendiri masih berlangsung antara DPR dan pemerintah.(Pon)

Baca juga:

DPR Percepat RUU Migas, Pertamina PHE Jadi Calon Tunggal Pengelola Kontrak Energi















#RUU Migas #Migas #DPR RI
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
DPR Desak Pemerintah Tindak Lanjuti Rekomendasi Pencabutan Izin 23 Korporasi
Penanganan karhutla tidak cukup hanya melalui proses pidana, tetapi juga harus menyasar izin usaha dan kewajiban pemulihan lingkungan.
Dwi Astarini - Sabtu, 31 Oktober 2026
DPR Desak Pemerintah Tindak Lanjuti Rekomendasi Pencabutan Izin 23 Korporasi
Indonesia
DPR Desak Hukuman Maksimal bagi Tersangka Karhutla, 20 Korporasi yang Terlibat Harus Tanggung Jawab
Mendesak penegakan hukum dilakukan hingga tuntas dengan menjatuhkan hukuman maksimal kepada pihak yang terbukti bersalah.
Dwi Astarini - Sabtu, 31 Oktober 2026
DPR Desak Hukuman Maksimal bagi Tersangka Karhutla, 20 Korporasi yang Terlibat Harus Tanggung Jawab
Indonesia
Gatot Subroto Macet Parah, Imbas Tabrakan Tronton Depan Gedung DPR
Tabrakan truk tronton vs truk ringan patah as di depan DPR/MPR picu kemacetan panjang di Jalan Gatot Subroto arah Slipi. Cekkronologi resminya!
Wisnu Cipto - Kamis, 29 Oktober 2026
Gatot Subroto Macet Parah, Imbas Tabrakan Tronton Depan Gedung DPR
Indonesia
DPR Khawatir Nilai Aset Rampasan Turun, Minta Pengelolaannya Dimaksimalkan
Pengelolaannya juga perlu diperhatikan agar nilai ekonominya tidak menyusut dan potensi penerimaan negara dapat dimaksimalkan.
Dwi Astarini - Selasa, 27 Oktober 2026
DPR Khawatir Nilai Aset Rampasan Turun, Minta Pengelolaannya Dimaksimalkan
Indonesia
DPR Wanti-Wanti Kepentingan Asing Menyusup dalam Pembahasan RUU Perampasan Aset
Pembahasan regulasi tersebut harus tetap berorientasi pada kepentingan nasional, terutama dalam memperbaiki penegakan hukum di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 27 Oktober 2026
DPR Wanti-Wanti Kepentingan Asing Menyusup dalam Pembahasan RUU Perampasan Aset
Indonesia
Komisi III DPR Sebut RUU Perampasan Aset Berpotensi Disahkan sebelum 15 Desember
Salah satu langkah yang ditempuh yakni memajukan jadwal rapat dengar pendapat umum (RDPU) untuk menyerap masukan dari masyarakat.
Dwi Astarini - Senin, 26 Oktober 2026
Komisi III DPR Sebut RUU Perampasan Aset Berpotensi Disahkan sebelum 15 Desember
Indonesia
Demo Jakarta 20 Oktober 2026, ini Daftar Jalan Alternatif dan Titik Aksi
Demo Jakarta 20 Oktober 2026 akan dimulai pukul 10.00 WIB. Ada sejumlah jalan alternatif yang bisa dilalui.
Soffi Amira - Selasa, 20 Oktober 2026
Demo Jakarta 20 Oktober 2026, ini Daftar Jalan Alternatif dan Titik Aksi
Indonesia
Karhutla Berbulan-bulan, DPR Desak Pemerintah Pertimbangkan Bantuan Singapura
Penerimaan bantuan luar negeri bukan berarti Indonesia tidak memiliki kemampuan.
Yusuf Abdillah - Sabtu, 17 Oktober 2026
Karhutla Berbulan-bulan, DPR Desak Pemerintah Pertimbangkan Bantuan Singapura
Indonesia
Warga Dikepung Asap Karhutla, DPR Ingatkan Pejabat jangan Asal Bicara
Penanganan bencana tidak cukup hanya mengandalkan koordinasi dan pernyataan resmi.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
Warga Dikepung Asap Karhutla, DPR Ingatkan Pejabat jangan Asal Bicara
Indonesia
Baleg DPR dan Pemerintah Targetkan RUU Hak Cipta Rampung Sebelum Akhir Desember 2026
Baleg DPR RI dan pemerintah tetap mengejar target penyelesaian RUU Hak Cipta pada 17 Desember 2026 meski pembahasan DIM disesuaikan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 08 Oktober 2026
Baleg DPR dan Pemerintah Targetkan RUU Hak Cipta Rampung Sebelum Akhir Desember 2026
Bagikan