Merahputih.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Senin (10/8) sore pada posisi melemah akibat himpitan kombinasi sentimen domestik dan global.
Baca juga:
Sentimen Global Meledak! IHSG dan Indeks LQ45 Dibuka Menguat pada Perdagangan Awal Pekan Ini
IHSG terkoreksi sebesar 44,28 poin atau 0,69 persen menuju level 6.365,37. Penurunan ini turut menyeret kelompok 45 saham unggulan (Indeks LQ45) merosot 6,16 poin atau 0,96 persen ke level 634,13. Pergerakan bursa domestik mengalami tekanan dari dua arah secara bersamaan.
Pergerakan IHSG dipengaruhi katalis sentimen eksternal dan juga internal,
ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus.
Faktor Domestik dan Tekanan Geopolitik Global
Laporan resmi Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode Juli berada pada angka 116,8, atau melambat ketimbang posisi bulan sebelumnya sebesar 117,8.
Penurunan IKK mengindikasikan penurunan daya beli masyarakat akibat tekanan kondisi ekonomi rumah tangga. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) ikut menyusut dari 109,2 menjadi 107,9, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) melemah dari 126,4 menjadi 125,7.
Sektor eksternal memberikan sinyal beragam saat pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) mengalami kontraksi tidak terduga berupa penurunan 23.000 lapangan kerja nonpertanian.
Kondisi tersebut meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September, dengan probabilitas pasar turun dari 67 persen menjadi 44 persen.
Kendati demikian, peningkatkan tensi geopolitik Timur Tengah akibat penolakan Iran atas klaim kesepakatan langsung bersama AS serta serangan kelompok Houthi ke kilang Jazan milik Saudi Aramco memicu kekhawatiran pasokan minyak dunia.
Rangkuman data perdagangan saham mencatat angka-angka teknis berikut:
-
Nilai dan Volume Transaksi: Total perdagangan mencapai Rp18,18 triliun dari nilai transaksi 45,45 miliar lembar saham.
-
Frekuensi Perdagangan: Terjadi pergerakan transaksi sebanyak 2.607.000 kali di pasar reguler.
-
Rasio Saham Perdagangan: Sebanyak 306 saham menguat, 340 saham melemah, dan 317 saham bertahan stagnan.
-
Sektor Melemah Terdalam: Sektor kesehatan memimpin penurunan sebesar 0,60 persen, disusul sektor industri (0,38 persen) dan barang konsumen primer (0,34 persen).
-
Saham Top Gainers: Kenaikan harga terbesar melanda saham GIAA, GMFI, SULI, STAR, dan IOTF.
-
Saham Top Losers: Pelemahan harga terdalam menimpa saham FORU, BAIK, VOKS, MITI, dan RODA.
Divergensi IHSG Terhadap Bursa Regional Asia
Pelemahan IHSG berbanding terbalik terhadap mayoritas bursa saham regional Asia justru ditutup menguat. Indeks Nikkei Jepang melonjak 2,22 persen ke posisi 67.064,00, sementara Indeks Hang Seng Hong Kong menguat 1,05 persen menuju level 25.937,49.
Baca juga:
Danantara Siapkan Anak Usaha Demi Caplok Saham Bursa Efek Indonesia
Indeks Straits Times Singapura ikut merangkak naik 1,05 persen ke posisi 5.694,43, Indeks Shanghai China menguat 0,67 persen ke level 3.966,59, serta Indeks Kospi Korea Selatan tumbuh 0,65 persen ke posisi 6.299,66.
Ekspektasi rilis data inflasi AS pekan ini menjadi fokus utama para pelaku pasar dalam mengukur arah kebijakan moneter global. Penurunan IHSG sepanjang dua sesi perdagangan membuktikan kehati-hatian investor menghadapi ketidakpastian kondisi makroekonomi internasional.