Merahputih.com - Penurunan IHSG hari ini sukses bikin pusing para investor, di mana indeks saham ditutup anjlok mengekor pelemahan bursa Asia pada penutupan perdagangan Kamis (24/9) sore.
Penyebab IHSG turun secara drastis ini tak lepas dari kepanikan pasar terhadap ancaman inflasi global, ekspektasi kenaikan suku bunga, dan melesunya daya beli di dalam negeri.
Kondisi pasar modal yang memerah ini langsung menjawab kekhawatiran pelaku pasar yang sudah waswas melihat pergerakan indeks sejak sesi pembukaan.
Baca juga:
Buat kamu yang mantengin grafik saham anjlok seharian, tekanan ini sebenarnya sudah bisa ditebak dari loyonya pergerakan Wall Street dan bursa Eropa tadi malam.
Prediksi IHSG ke depan pun sepertinya masih dibayangi sentimen negatif karena memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah serta alotnya pembicaraan dagang AS-China.
Jadi, wajar saja kalau sentimen pasar modal saat ini lagi kurang asyik buat kaum bullish, apalagi ditambah isu ekonomi lesu yang bikin investor asing perlahan tarik dana.
Rapor Merah Penutupan IHSG dan Sektoral
Kalau kita bedah datanya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa parkir di zona merah dengan pelemahan 76,30 poin (1,20 persen) ke level 6.298,61. Nasib serupa juga dialami kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 yang merosot 8,68 poin (9,92 persen) ke posisi 623,26.
Sepanjang hari, indeks betah nyungsep di teritori negatif tanpa ampun. Seluruh 11 indeks sektoral kompak tumbang, dipimpin oleh:
-
Sektor Barang Baku: Turun paling parah (2,00%)
-
Sektor Industri: Terkoreksi (1,93%)
-
Sektor Properti: Terseret turun (1,62%)
IHSG dan bursa regional Asia cenderung tertekan seiring tekanan koreksi yang terjadi di penutupan Wall Street Amerika Serikat (AS) dan bursa di Eropa,
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus.
Biang Kerok dari Luar Negeri: Inflasi sampai Geopolitik

Menurut Nico Demus, bursa saham global lagi kena mental gara-gara beberapa hal berat. Mulai dari meroketnya imbal hasil (yield) obligasi AS, kekhawatiran inflasi, sampai ketegangan di Timur Tengah yang bikin harga minyak mentah melambung tinggi.
Akibatnya, ekspektasi pasar soal kebijakan The Fed yang bakal lebih agresif naikin suku bunga jadi makin kuat.
Kondisi geopolitik juga lagi panas-panasnya. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka meragukan progres perdamaian dan menegaskan tidak akan tunduk pada AS, meski tetap membuka pintu negosiasi bersyarat.
Di belahan bumi lain, para investor lagi wait and see memantau hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Kabarnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut ada perpanjangan masa gencatan senjata perang dagang selama dua bulan hingga 10 Januari 2026.
Tapi sayangnya, pihak China belum kasih konfirmasi resmi, sehingga pasar masih diliputi ketidakpastian.
Tantangan Berat di Kandang Sendiri
Meski Bank Indonesia (BI) sudah nahan suku bunga acuan pada September 2026 ini, sentimen dari dalam negeri nyatanya belum cukup kuat buat ngangkat IHSG. Risiko global yang tinggi bikin kondisi fundamental kita ikut terseret.
Di dalam negeri sendiri, situasi tidak kalah menantang karena laju pertumbuhan ekonomi melambat, belanja masyarakat lesu, dan rupiah terus dibayangi risiko melemah akibat penguatan mata uang dolar AS serta keluarnya dana investor asing,
tambah Nico.
Ringkasan Perdagangan dan Bursa Asia
Aktivitas jual-beli saham hari ini mencatatkan frekuensi 1,62 juta kali transaksi. Dari total 26,71 miliar lembar saham yang pindah tangan, nilai transaksinya tembus Rp11,21 triliun.
Rinciannya: 487 saham boncos, 278 saham stagnan, dan cuma 198 saham yang berhasil selamat di zona hijau.
Saham Paling Cuan (Top Gainers):
- BIPP
- UNSP
- WAPO
- FORU
- ASLI
Saham Paling Boncos (Top Losers):
- MSIN
- SAFE
- SDMU
- NASI
- MNCN.
Sebagai gambaran, IHSG nggak sendirian merana hari ini. Hampir seluruh bursa tetangga di Asia juga ikut lemas sore ini, seperti indeks Shanghai yang turun 1,22%, Hang Seng minus 0,29%, Kuala Lumpur melemah 0,25%, dan Straits Times terkoreksi 0,43%. Cuma indeks Nikkei yang berhasil rebound dan ditutup menghijau dengan kenaikan 0,88%.