MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, bergerak melemah 47 poin atau 0,26 persen menjadi Rp18.137 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.184 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini salah satunya terkait isu MSCI.
Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim S. Djojohadikusumo mengingatkan potensi pelemahan nilai tukar rupiah akibat derasnya aliran modal asing keluar (capital outflow) jika persoalan pasar modal Indonesia terkait evaluasi MSCI tidak segera diselesaikan.
“Saya mau terus terang saja, tapi ini masalah amat sangat serius. Jangan sampai rupiah jadi Rp 21.000 atau Rp2 2.000 (per dolar AS). Ini mempunyai dampak politik yang luar biasa negatif,” kata Hashim dalam Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis (29/10).
Hashim mengingatkan risiko penurunan status pasar modal Indonesia menjadi stand-alone market berpotensi mengurangi sumber pendanaan di pasar modal domestik karena investor asing berpotensi menarik investasinya.
Baca juga:
Rupiah Hari Ini Tumbang ke Rp18.046, Ancaman Suku Bunga The Fed Bikin Dolar AS Makin Beringas
Arus modal keluar tersebut juga berisiko memperlemah rupiah dan meningkatkan biaya pembayaran utang luar negeri Indonesia. Kondisi ini, menurutnya, dapat menjadi ancaman serius bagi perekonomian nasional.
Saya mohon kepada kawan-kawan dari Kadin, ini masalah sangat-sangat serius. Karena kalau investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah,
ujar Hashim.
Persoalan tersebut juga perlu mendapat perhatian mengingat sekitar 32,7 juta warga negara Indonesia tercatat memiliki akun untuk berinvestasi saham, berdasarkan data yang ia terima dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Hashim menyoroti indikasi praktik perdagangan saham yang tidak sehat, termasuk praktik “goreng” harga saham, sebab hal ini menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian MSCI dan investor asing.
Selain itu, ia menyinggung keterbatasan porsi saham yang beredar di publik (free float) serta rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/P/E) yang dinilai tidak wajar. Kedua aspek tersebut perlu menjadi perhatian dalam pembenahan pasar modal Indonesia.
Untuk itu, Hashim mengimbau pelaku usaha, termasuk anggota Kadin, agar mendukung terciptanya perdagangan saham yang sehat dan transparan.
Jangan sampai kawan-kawan Kadin juga ikut dengan praktik-praktik goreng-gorengan. Saya kira ini nanti yang jadi korban adalah 32.700.000 kawan-kawan kita, saudara-saudara kita,
kata dia.