Tindak Kekerasan di YLBHI Gara-gara Kabar Hoax

Jumat, 22 September 2017 - Thomas Kukuh

MerahPutih.com - Pemerintah seolah tak pernah bosan mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi berbagai informasi negatif yang berseliweran di media sosial. Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Pol Martinus Sitompul meminta agar masyarakat tak mudah percaya informasi yang tak jelas sumbernya.

“Sangat penting bagi masyarakat di era informasi untuk menganalisis situasi dan tidak gegabah menyatakan pro atau kontra terhadap hal-hal baru,” kata dia.

Dia menambahkan, masyarakat juga perlu memahami sejarah dan peta perpolitikan global sehingga mampu mencerna informasi yang berkembang di media massa dan informasi di media sosial dengan lebih obyektif dan bijak.

"Selain itu jangan mudah terkagum atau heran terhadap suatu fenomena yang dapat menekan sikap reaktif terhadap suatu isu," katanya.

Menurut dia, cepatnya arus informasi dapat berdampak baik bagi masyarakat karena informasi yang terjadi di belahan dunia lain lebih cepat tersampaikan, namun terkadang informasi yang tersebar belum bisa dijamin kebenarannya.

Ada banyak sejumlah kasus tindak kekerasan yang dipicu oleh kabar "hoax" yang tersebar di medsos.

Martinus mencontohkan terjadinya kasus aksi demo yang berujung kericuhan di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Jakarta, baru-baru ini. Kasus tersebut berawal dari informasi bahwa ada pembicara komunis di acara YLBHI.

Kemudian informasi ini tersebar dengan cepat melalui internet dan medsos. "Penggerebekan di LBH ternyata (didorong) 'hoax' di dalamnya. Tidak ada pembicara komunis," katanya.

Pihaknya pun meminta masyarakat mewaspadai informasi sensitif yang berkembang di medsos karena belum bisa dipastikan kebenarannya. "Teknologi juga berperan dalam memecah belah. Siapa yang kemudian menjadi korbannya? Ya masyarakat, ya polisi," katanya. (*)

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan