Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Stagnan Pertumbuhan Ekonomi Gerus Elektabilitas Jokowi

Wisnu Cipto - Senin, 08 April 2019

MerahPutih.com - Lembaga Internasional Moodys Investor Services memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 masih di bawah 5 persen alias lebih kecil dari target pemerintah dalam UU APBN 2019 di kisaran 5,3%.

Wajar bila rendahnya pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap elektabilitas calon petahana Joko Widodo (Jokowi) menjelang pilpres 17 April, terlebih presiden sempat menjanjikan target pertumbuhan ekonomi mencapai 7% saat 2014 silam.

"Elektabilitas pak Jokowi sampai sekarang tidak melewati 55% ya, salah satu faktornya adalah masalah ekonomi jadi kalau kita tanya di hasil survei itu apa masalah yang mendesak atau masalah yang serius, itu perbaikan ekonomi," kata Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago, dalam rilis yang diterima, Senin (8/4).

pangi
Direktur Lembaga Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago (MP/Asropih)

Menurut Pangi, persoalan ekonomi menempati tingkat ketidakpuasan yang tinggi dari sekian hasil survei terhadap kinerja pemerintah. Kondisi ekonomi yang dikeluhkan contohnya meliputi mata uang rupiah yang cenderung terus melemah, utang luar negeri, lapangan pekerjaan tidak terlalu menjanjikan, serta lemah daya beli masyarakat.

BACA JUGA:

Pengamat Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2019 Hanya Berkisar 4,9 Persen

Staf Khusus Presiden Nilai Pertumbuhan Ekonomi 5,17 Persen Sebuah Prestasi Mengesankan

Target Pertumbuhan Ekonomi 6-7 Persen, Ekonom Indef Sebut Terlalu Jauh

"Jadi, masalah pertumbuhan ekonomi yang hanya 5% ini langsung mempunyai efek terhadap elektabilitas pak Jokowi termasuk kepuasan terhadap pemerintahan," kritik Direktur Voxpol Institute itu.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: Pixabay/Mohamed Hasan

Pangi memaparkan posisi petahana saat ini pun berbeda dengan ketika Susilo Bambang Yudhoyono kembali mencalonkan diri pada 2009 lalu. Kala itu, kata dia, elektabilitas SBY berada di atas 60%, berbeda dengan Jokowi yang berada pada kondisi riskan jelang pencoblosan.

"Kalau kita bandingkan di era SBY kan kepuasannya 70% elektabilitasnya jadi di atas 60% ini 51% saja masih susah, artinya pak Jokowi masih kalah kenapa, karena masalahnya di masalah ekonomi," tutup dosen UIN itu. (*)

Baca Artikel Asli