Sikapi Krisis Rohingya, Dr Adnan Anwar: Waspadai Politisasi Kelompok Radikal
Kamis, 07 September 2017 -
MerahPutih.com - Masyarakat diminta untuk waspada akan politisasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal terhadap krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya yang dapat memicu konflik di dalam negeri sendiri.
Apalagi, menurut peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan/Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Dr Adnan Anwar, MA, krisis etnis Rohingya ini ‘dibumbui’ isu agama yang dapat merusak persatuan bangsa kalau tidak disikapi dengan cermat duduk permasalahannya.
“Kita harus bisa mendudukkan persoalan masalah etnis Rohingya ini dengan cermat. Sebenarnya ini kan masalahnya multi konflik atau multi faktor yang sudah lama berkembang. Ada faktor geopolitik, ada faktor sumber daya alam, etnis dan faktor-faktor lainnya,” katanya di Jakarta, Kamis (7/9).
Dijelaskan mantan Wakil Sekjen PB NU ini, masalah konflik etnis Rohingya di Myanmar ini bukanlah konflik agama, meski banyak umat muslim yang menjadi korban dalam kekerasan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar tersebut.
“Lalu jangan serta merta disimpulkan ini menjadi konflik antaragama. Ini kan konflik multifaktor, multisektoral. Jadi kalau ada yang mengatakan ini pembantaian terhadap umat Islam sudah pasti tidak benar. Menyikapi krisis Rohingya ini harus didudukkan pada masalah yang sebenarnya,” ujar tokoh muda NU ini.
Menurut alumnus Hubungan Intenasional Universitas Airlangga Surabaya ini adanya upaya mobilisasi masyarakat muslim dunia termasuk masyarakat di Indonesia yang menyatakan bahwa konflik di Rakhine ini masalah konflik agama tentunya sama sekali tidak dibenarkan.
“Dan tentunya itu sangat salah sekali. Masyarakat harus lebih cerdas mencermati masalah tersebut dan jangan sampai terprovokasi. Kalau isu masalah agama itu terus dikembangkan bisa-bisa masyarakat kita yang terpecah,” ujarnya
Dirinya meminta kepada masyarakat untuk tetap waspada agar tidak mudah diadu domba oleh segelintir kelompok tertentu yang berusaha mengajak masyarakat kita untuk pergi berjihad dengan dalih membantu etnis muslim Rohingnya di Myanmar
“Saya kira itu juga tidak relevan. Lalu di sini membuat aksi untuk menyerang agama tertentu. Bahkan melakukan demonstrasi di Candi Brobudur, saya kira itu tidak tepat. Karena sejatinya masalah tersebut bukanlah isu agama,” tuturnya.
Adnan mengatakan, ada tiga hal yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia untuk membantu kelompok etnis Rohingya. Pertama, memberkan tekanan kepada pemerintah. Karena pemerintah lah yang memiliki hak untuk bersuara di level ASEAN atau kepada PBB untuk menekan pemerintah Myanmar agar aparat militernya tidak melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
“Harusnya seperti itu yang dilakukan. Yang bisa kita lakukan ini kan namanya second track diplomacy sebagai kekuatan masyarakat," katanya.
Kedua, melakukan dzikir bersama atau membaca doa Qunut Nazilah sebagai upaya untuk menolong masyarakat muslim yang menjadi korban di Myanmar.
“Itu saja digalakkan di masjid-masjid atau mushola untuk membantu masyarakat muslim dari etnis Rohingya supaya terhindar dari mara bahaya,” ujarnya.
Ketiga, melakukan aksi solidaritas kemanusiaan dengan melakukan penggalangan dana.
“Jadi harus benar-benar didudukkkan ke persoalan sesungguhnya Dan peneggakannya juga harus komprehensif, tidak hanya satu isu itu saja. Pemerintah harus bisa meminta lembaga-lembaga internasional untuk segera menyelesaikannya secara cepat agar tak jatuh korban lebih banyak lagi,” ujarnya. (*)