ADA pedoman baru dari Preventive Services Task Force AS agar semua orang dewasa di bawah usia 65 tahun harus diskrining untuk gangguan cemas. Pedoman yang dikeluarkan bulan lalu itu dapat membantu dokter dalam mengambil keputusan bagi para pasien dengan gangguan kesehatan mental ini.
Menurut rancangan rekomendasi Preventive Services Task Force AS, prevalensi gangguan kecemasan seumur hidup adalah 26 persen untuk laki-laki dan 40 persen untuk perempuan. Itu berarti sekitar 1 dari 4 laki-laki dan 4 dari 10 perempuan akan mengalami gangguan kecemasan di beberapa periode selama hidup mereka.
Baca Juga:
"Ini jelas merupakan masalah yang perlu ditangani. Kecemasan, seperti depresi dan masalah kesehatan mental lainnya, harus diperlakukan dengan perhatian yang sama seperti yang kita berikan pada masalah kesehatan fisik," ujar Medical Analyst Dr. Leana Wen kepada CNN.
Baca Juga:
Relationship Goals yang Enggak Boleh Ditunda Demi Hubungan Sehat nan Romantis
Menurut Wen, sangat penting untuk membedakan perasaan cemas dari diagnosis medis gangguan kecemasan. "Kecemasan adalah reaksi normal terhadap stres. Setiap orang merasakan beberapa tingkat kegugupan terhadap situasi dalam hidup mereka," ujarnya.
Dia menjelaskan, gangguan kecemasan ditandai dengan rasa takut atau kecemasan yang terus-menerus dan berlebihan yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi. Gangguan ini dapat menyebabkan orang menghindari situasi keterlibatan sosial, fungsi profesional, janji temu atau bahkan tugas sehari-hari.
"Gangguan kecemasan mencakup berbagai diagnosis, termasuk gangguan kecemasan umum, gangguan panik, gangguan kecemasan sosial dan fobia spesifik," Wen menekankan.
Orang dengan gangguan kecemasan dapat mengalami beragam gejala seperti gelisah dan khawatir, merasa panik atau kacau, sulit berkonsentrasi atau tidur, dan mengalami serangan panik. Serangan panik ditandai dengan jantung berdebar-debar, sesak napas atau tangan dingin dan kesemutan.
Penting untuk dicatat bahwa banyak orang dengan gangguan kecemasan mungkin memiliki gejala fisik lainnya. Misalnya, beberapa mengalami sakit kepala, sakit perut, mual dan kelelahan. "Karena gejala gangguan kecemasan sangat bervariasi, kurang terdeteksi dan kurang terdiagnosis sering terjadi," Wen mengingatkan.
Seperti depresi dan beberapa diagnosis kesehatan mental lainnya, gangguan kecemasan dapat diobati melalui farmakoterapi, psikoterapi, atau keduanya. Farmakoterapi melibatkan obat-obatan, sedangkan psikoterapi mencakup terapi perilaku kognitif yang dilakukan melalui kerja sama dengan psikolog atau spesialis kesehatan mental lain.
Seringkali, dokter merekomendasikan perubahan gaya hidup juga, termasuk meditasi, olahraga dan mengurangi asupan alkohol dan merokok. Beberapa pasien membutuhkan perawatan berkelanjutan. Banyak yang menerima perawatan untuk jangka waktu tertentu dan kemudian dipantau untuk melihat apakah mereka mungkin membutuhkannya lagi.
"Intinya di sini adalah bahwa perawatan berhasil. Mereka mengurangi gejala gangguan kecemasan dan membantu orang mendapatkan kembali kesehatan dalam hidup mereka," tutup Leana Wen. (aru)
Baca Juga: