Merahputih.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat yang berpadu dengan cuaca terik di berbagai wilayah.
Pastikan kamu menyimak informasi cuaca terbaru ini sampai habis agar rencana aktivitas di luar rumah tidak berantakan gara-gara salah kostum atau terjebak badai.
Baca juga:
Fotografernya Hilang Liputan Erupsi Anak Krakatau, 3 Media Bentuk Posko Bersama
Kondisi cuaca 8-10 September 2026 ini memang agak tricky, karena meski kita masih berada di tengah puncak musim kemarau, ancaman angin kencang dan hujan badai justru mengintai beberapa provinsi.
Nggak cuma urusan curah hujan, BMKG juga menyoroti bahaya paparan abu vulkanik Anak Krakatau yang mewajibkan warga di sekitar area terdampak untuk memperketat proteksi diri.
Biar nggak penasaran, yuk bongkar rincian daerah mana saja yang wajib ekstra waspada dalam beberapa hari ke depan!
Peta Potensi Hujan & Angin Kencang (8-10 September 2026)
Secara umum, langit Indonesia akan didominasi oleh hujan ringan hingga sedang. Tapi, kamu yang tinggal di wilayah Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, hingga daratan Papua wajib sedia payung karena intensitas hujannya diprediksi akan meningkat jadi level sedang.
Nah, buat kamu yang berada di zona merah, harap ekstra hati-hati. Berikut adalah daftar wilayah dengan peringatan dini cuaca ekstrem:
-
Status Siaga (Hujan Lebat - Sangat Lebat): Aceh dan Sumatra Utara. Siapkan diri untuk potensi kilat dan petir!
-
Waspada Angin Kencang: Hembusan angin kencang berpotensi menyapu wilayah Aceh, Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan (Barat, Tengah, Selatan, Timur), NTB, NTT, Sulawesi (Utara, Selatan, Tenggara), Gorontalo, Maluku, serta hampir seluruh wilayah Papua.
Darurat Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Selain cuaca ekstrem, ada imbauan serius bagi masyarakat yang berdomisili di zona paparan erupsi. Jangan anggap remeh debu yang beterbangan, karena dampaknya sangat buruk buat kesehatan paru-paru.
Masyarakat di area terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau diimbau untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan selalu mengenakan masker serta kacamata pelindung jika harus beraktivitas di luar.
Hal ini karena abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan,
tegas laporan resmi BMKG.
Tips Menghadapi Kemarau 'Basa-Basi'
Baca juga:
5 Jurnalis Hilang Kontak saat Meliput Gunung Anak Krakatau, Pencarian Dilanjutkan Rabu (9/9)
Meski di beberapa tempat diguyur hujan, jangan lupa kalau status kita masih berada di musim kemarau dengan udara yang lumayan kering. Biar tubuh tetap fit dan lingkungan aman, perhatikan langkah-langkah survival berikut ini:
-
Proteksi Kulit & Tetap Hidrasi: Jangan malas pakai sunscreen atau tabir surya kalau terpaksa panas-panasan di siang bolong. Minum air putih yang cukup biar kamu nggak gampang tepar atau dehidrasi.
-
Hemat Air & Cegah Karhutla: Musim kering bikin pasokan air menipis. Tolong hemat penggunaan air bersih! Selain itu, setop kebiasaan bakar sampah sembarangan atau buka lahan pakai api, apalagi di area rawan seperti lahan gambut atau semak belukar. Kalau lihat ada titik api (hotspot), langsung lapor ke petugas setempat.
-
Awas Bencana Dadakan: Hujan lokal yang datang tiba-tiba sering kali bawa 'paket komplit' bareng petir dan angin kencang. Kalau cuaca mulai gelap, segera cari tempat berlindung yang aman. Jauhi pohon rindang, baliho, atau bangunan tua yang gampang roboh.