Anak Krakatau Kembali Erupsi, Bagaimana Kondisinya Hari Ini? Ini Data Terbarunya

ImanKImanK - Senin, 07 September 2026
Anak Krakatau Kembali Erupsi, Bagaimana Kondisinya Hari Ini? Ini Data Terbarunya

BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. Foto/doc. BMKG

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com Kondisi Anak Krakatau saat ini masih menjadi perhatian setelah gunung api di Selat Sunda tersebut kembali mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) malam. PVMBG mencatat erupsi terjadi pukul 20.23 WIB dengan amplitudo maksimum 58 milimeter dan durasi 44 detik.

Pertanyaan mengenai apakah Anak Krakatau masih erupsi pun kembali muncul setelah aktivitas vulkanik kembali terekam dalam seismograf.

Badan Geologi sebelumnya melaporkan episode erupsi menerus Anak Krakatau telah berakhir. Namun, aktivitas vulkanik belum sepenuhnya mereda dan potensi letusan kembali masih perlu diwaspadai.

Kondisi Anak Krakatau Hari Ini, Senin 7 September 2026

Berdasarkan pengamatan terbaru pada Senin (7/9/2026), Gunung Anak Krakatau tertutup kabut dengan tingkat visibilitas 0-III. Asap kawah tidak teramati.

Baca juga:

Letusan Krakatau 1883: Kronologi Erupsi Dahsyat yang Menewaskan 36.417 Orang

Cuaca di sekitar gunung api dilaporkan berawan dengan angin lemah hingga sedang yang bergerak ke arah barat laut. Suhu udara berada di kisaran 25,7-26,4 derajat Celsius, sementara kelembapan mencapai 79-82 persen.

Kondisi laut di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau terpantau tenang.

Meski secara visual tidak terlihat aktivitas asap kawah, kondisi tersebut tidak berarti aktivitas vulkanik telah berhenti. Pemantauan kegempaan justru masih menunjukkan sejumlah aktivitas di bawah permukaan.

Apakah Anak Krakatau Masih Erupsi?

Jawabannya perlu dibedakan antara erupsi yang sedang berlangsung secara menerus dan potensi terjadinya letusan susulan.

Episode erupsi menerus yang sebelumnya berlangsung memang telah dinyatakan berakhir. Namun, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Minggu malam, 6 September 2026, pukul 20.23 WIB.

Erupsi tersebut tidak dapat diamati secara visual untuk mengetahui tinggi kolom abu. Akan tetapi, alat seismograf merekam amplitudo maksimum 58 mm dengan durasi 44 detik.

Dengan demikian, Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas vulkanik dan belum dapat dianggap sepenuhnya tenang.

Badan Geologi juga sebelumnya mengingatkan bahwa probabilitas letusan pada periode berikutnya masih tinggi meskipun episode erupsi menerus telah berakhir.

Aktivitas Kegempaan Anak Krakatau 7 September

Data pengamatan pada Senin pagi menunjukkan aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau masih cukup beragam.

Baca juga:

Abu Anak Krakatau Sampai Monas, Operasi Water Mist Digelar di 5 Wilayah DKI

Tercatat:

  • 4 kali gempa hembusan, amplitudo 30-41 mm dengan durasi 22-39 detik.
  • 17 kali gempa harmonik, amplitudo 24-46 mm dengan durasi 23-387 detik.
  • 34 kali gempa low frequency, amplitudo 19-45 mm dengan durasi 6-19 detik.
  • 44 kali gempa hybrid/fase banyak, amplitudo 20-46 mm dengan durasi 7-23 detik.
  • 1 kali tremor menerus, amplitudo 5-15 mm dengan amplitudo dominan 10 mm.

Rangkaian data tersebut menunjukkan sistem vulkanik Anak Krakatau masih aktif dan terus dipantau.

Karena aktivitas gunung api dapat berubah dengan cepat, masyarakat tidak disarankan mengambil kesimpulan hanya berdasarkan kondisi visual. Data kegempaan dan evaluasi PVMBG menjadi acuan penting dalam melihat perkembangan aktivitas gunung.

Kronologi
Kronologi 25 Jam Anak Krakatau Erupsi Tanpa Henti. Foto: PVMBG Badan Geologi ESDM

Abu Vulkanik Anak Krakatau Masih Menyebar

Selain aktivitas kegempaan, persoalan lain yang menjadi perhatian pada Senin pagi adalah sebaran abu vulkanik Anak Krakatau.

Pembaruan BMKG pada pukul 05.00 WIB menunjukkan abu vulkanik masih bergerak menjauhi Gunung Anak Krakatau dengan arah berbeda pada lapisan atmosfer yang berbeda.

Pada lapisan rendah hingga sekitar 4,57 kilometer, abu bergerak dengan pola dari arah tenggara hingga barat laut.

Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Jakarta, Banten, Lampung, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

Kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di wilayah yang dilalui abu vulkanik.

BMKG sendiri meningkatkan pemantauan terhadap dampak erupsi Anak Krakatau, termasuk terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Pada pemantauan sebelumnya, BMKG menemukan sebaran abu hingga wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Bengkulu.

Baca juga:

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Terbelah Jadi 2 Klaster, Benarkah Ada Potensi Tsunami?

Mengapa Abu Vulkanik Bisa Menyebar Jauh?

Sebaran abu vulkanik tidak hanya ditentukan oleh lokasi gunung api. Arah dan kecepatannya sangat dipengaruhi oleh kondisi angin pada berbagai lapisan atmosfer.

Karena itu, abu yang berada pada ketinggian berbeda dapat bergerak ke arah yang berbeda pula.

Fenomena ini menjelaskan mengapa dampak erupsi Anak Krakatau tidak selalu terbatas di sekitar gunung. Dalam kondisi tertentu, abu dapat terbawa angin menuju wilayah daratan maupun jalur penerbangan.

BMKG bahkan telah menerbitkan sejumlah SIGMET atau informasi meteorologi penting untuk penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau.

Radius Bahaya Anak Krakatau

Di tengah aktivitas yang masih berlangsung, masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi menetapkan larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api karena masih terdapat potensi bahaya berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat dan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.

Karena itu, masyarakat yang berada di kawasan pesisir Banten dan Lampung sebaiknya mengikuti informasi resmi PVMBG dan BMKG.

Ilustrasi
Ilustrasi gunung erupsi. (Foto: Pexel/Roman Kirienko)

Fakta Menarik Erupsi Krakatau

Nama Krakatau tidak hanya dikenal karena aktivitas Anak Krakatau saat ini. Kawasan tersebut memiliki sejarah vulkanik yang sangat panjang dan salah satu letusan paling terkenal di dunia.

Baca juga:

Kronologi 25 Jam Anak Krakatau Erupsi Tanpa Henti, Sebaran Abu Landa 5 Provinsi

1. Krakatau 1883 Mengubah Langit Dunia

Letusan Krakatau pada 1883 menjadi salah satu erupsi gunung api paling terkenal dalam sejarah modern.

Material vulkanik yang dilepaskan ke atmosfer memengaruhi kondisi langit di berbagai wilayah dunia. Fenomena langit kemerahan tersebut bahkan sering dikaitkan dengan inspirasi visual The Scream, karya pelukis Norwegia Edvard Munch.

Meski hubungan langsung antara letusan Krakatau dan lukisan tersebut masih menjadi bahan pembahasan, fenomena atmosfer pascaerupsi memang tercatat dalam berbagai laporan sejarah.

2. Anak Krakatau Lahir dari Kawasan Krakatau

Gunung Anak Krakatau muncul setelah kawasan Krakatau mengalami perubahan besar akibat letusan dahsyat 1883.

Gunung ini kemudian berkembang menjadi gunung api aktif baru di kawasan kaldera Krakatau.

Karena itu, nama Anak Krakatau memiliki kaitan langsung dengan sejarah geologi Krakatau, tetapi keduanya tidak boleh dianggap sebagai gunung api yang sama secara sederhana.

3. Aktivitas Anak Krakatau Bisa Berubah Cepat

Salah satu karakter penting gunung api aktif adalah aktivitasnya dapat mengalami perubahan dalam waktu singkat.

Kondisi ini terlihat dalam perkembangan aktivitas Anak Krakatau pada awal September 2026. Setelah episode erupsi menerus berakhir, erupsi kembali terekam pada 6 September malam dengan amplitudo maksimum 58 mm dan durasi 44 detik.

Karena itu, pemantauan seismik menjadi sangat penting meskipun secara visual gunung sedang tertutup kabut atau tidak terlihat mengeluarkan asap.

Baca juga:

Kemenhub Pilih Tahan Penerbangan, Abu Gunung Anak Krakatau Masih Jadi Ancaman

4. Erupsi Krakatau Pernah Menginspirasi Budaya Populer

Krakatau juga berkali-kali muncul dalam budaya populer, mulai dari film, serial televisi hingga karya seni.

Kisah letusan Krakatau 1883 pernah diangkat dalam film dokumenter-drama Krakatoa: The Last Days produksi BBC pada 2006. Krakatau juga menjadi bagian dari cerita film Krakatoa, East of Java yang dirilis pada 1969.

Nama Krakatau bahkan muncul dalam budaya populer seperti serial animasi SpongeBob SquarePants.

#Krakatau #Erupsi Anak Krakatau #Anak Krakatau #Gunung Anak Krakatau #Gunung Krakatau #Krakatau Erupsi #Tsunami Krakatau #Letusan Krakatau 1883 #Krakatau Meletus Tahun Berapa #PVMBG #Badan Geologi #BMKG #Abu Vulkanik #Gunung Api
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Prakiraan Cuaca BMKG Jumat, 23 Oktober 2026: Hujan, Kabut, dan Ancaman Awan Cumulonimbus
Prakiraan cuaca BMKG Jumat, 23 Oktober 2026, menunjukkan hujan ringan di sejumlah wilayah Indonesia. Waspadai hujan petir, kabut, dan awan cumulonimbus.
Frengky Aruan - Jumat, 23 Oktober 2026
Prakiraan Cuaca BMKG Jumat, 23 Oktober 2026: Hujan, Kabut, dan Ancaman Awan Cumulonimbus
Indonesia
Hujan Diprakirakan Guyur Jakarta Jumat Sore hingga Malam
Pada sore hingga malam, hari wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan diperkirakan hujan ringan hingga sedang.
Dwi Astarini - Jumat, 23 Oktober 2026
Hujan Diprakirakan Guyur Jakarta Jumat Sore hingga Malam
Berita Foto
Jakarta Makin Gerah, Ini Penjelasan BMKG soal Kondisi Cuaca
Sejumlah pejalan kaki memakai payung saat beraktivitas di Kawasan Dukuh Atas, Bundaran HI, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 21 Oktober 2026
Jakarta Makin Gerah, Ini Penjelasan BMKG soal Kondisi Cuaca
Indonesia
Prakiraan Cuaca BMKG Selasa, 20 Oktober 2026: Gelombang Tinggi Mengintai, Sejumlah Kota Berpotensi Hujan
Prakiraan cuaca BMKG Selasa, 20 Oktober 2026, mencakup potensi hujan ringan, udara kabur, Siklon Tropis Champi, dan gelombang tinggi hingga 4 meter.
Frengky Aruan - Selasa, 20 Oktober 2026
Prakiraan Cuaca BMKG Selasa, 20 Oktober 2026: Gelombang Tinggi Mengintai, Sejumlah Kota Berpotensi Hujan
Indonesia
Asap Karhutla Menjauh dari Jabodetabek, Kualitas Udara masih tak Sehat
Asap karhutla sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek, pada Jumat (16/10).
Dwi Astarini - Senin, 19 Oktober 2026
Asap Karhutla Menjauh dari Jabodetabek, Kualitas Udara masih tak Sehat
Indonesia
BMKG Prediksi Sejumlah Wilayah Masih Kering hingga 24 Oktober, Waspadai Karhutla
BMKG memperkirakan kondisi relatif kering masih berlanjut di sejumlah wilayah Indonesia pada 17–24 Oktober 2026. Masyarakat juga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.
Frengky Aruan - Senin, 19 Oktober 2026
BMKG Prediksi Sejumlah Wilayah Masih Kering hingga 24 Oktober, Waspadai Karhutla
Indonesia
BMKG Catat 478 Titik Panas, Sumatera Selatan Tertinggi
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 189 titik.
Frengky Aruan - Senin, 19 Oktober 2026
BMKG Catat 478 Titik Panas, Sumatera Selatan Tertinggi
Indonesia
Prakiraan Cuaca BMKG Senin, 19 Oktober: Hujan Petir Perlu Diwaspadai, Gelombang Tinggi Capai 4 Meter
Prakiraan cuaca BMKG Senin, 19 Oktober 2026: hujan petir, gelombang tinggi hingga 4 meter, dan potensi banjir rob di sejumlah wilayah Indonesia.
Frengky Aruan - Senin, 19 Oktober 2026
Prakiraan Cuaca BMKG Senin, 19 Oktober: Hujan Petir Perlu Diwaspadai, Gelombang Tinggi Capai 4 Meter
Indonesia
Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek, BMKG Ungkap Fakta Kualitas Udara Jakarta
Asap karhutla mulai menjauh dari Jabodetabek, tetapi kualitas udara Jakarta masih tidak sehat di sejumlah titik. BMKG mengingatkan potensi cuaca kering dan kebakaran hutan.
Frengky Aruan - Minggu, 18 Oktober 2026
Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek, BMKG Ungkap Fakta Kualitas Udara Jakarta
Indonesia
Prakiraan Cuaca BMKG Minggu, 18 Oktober 2026: Hujan Petir Mengintai, Penerbangan Diminta Waspada
Prakiraan cuaca BMKG Minggu, 18 Oktober 2026, menunjukkan potensi hujan ringan, petir, dan kabut di sejumlah wilayah Indonesia. Waspadai awan Cumulonimbus yang dapat mengganggu penerbangan.
Frengky Aruan - Minggu, 18 Oktober 2026
Prakiraan Cuaca BMKG Minggu, 18 Oktober 2026: Hujan Petir Mengintai, Penerbangan Diminta Waspada
Bagikan