Bijak Memilih 'Self Reward' Agar Tidak Rugi
Pentingnya memilih self reward (Foto: Pexels/PhotoMIX Company)
BANYAK orang melakukan self reward atau memberi penghargaan diri sendiri, biasanya dengan membeli barang kesukaan, makanan kesukaan, dan hal lainnya sehingga membuatnya bahagia.
Psikolog Klinis Inez Kristanti, M.Psi., mengingatkan untuk selalu bersikap baik setiap kali memilih bentuk self reward, agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
Baca Juga:
Movement #Pelarian Ajak Kaum Muda Jangan Tunda Kenali Isu Kesehatan Mental
Inez menjelaskan, self reward merupakan salah satu jenis atau cara seseorang untuk mengaktualisasi konsep self love, atau mencintai diri sendiri. Bentuk self reward bisa bermacam-macam, seperti sifatnya non-materi hingga materi.
"Self reward bentuknya materi, kita perlu bijak untuk menentukan apa yang tepat untuk kita. Saya juga tidak ingin teman-teman salah kaprah, misalkan jadi beranggapan kalau self reward itu jadi boros," ujar Inez.
Self reward pada dasarnya merupakan bentuk apresiasi kepada diri sendiri, sehingga bisa menimbulkan perasaan bermakna, sampai bisa menambah motivasi untuk diri sendiri di kemudian hari.
Membeli barang tanpa pikir panjang, bahkan sekadar lapar mata saja, ketakutan tertinggal tren, tidak bisa secara otomatis disebut self reward.
"Ketika mau memberikan reward untuk diri sendiri, kita pikirkan dulu, masih masuk akal atau tidak, masuk bujet atau tidak. Mungkin tidak harus mahal-mahal, tapi apa, sih, yang bermakna untuk kita. Kadang hal-hal kecil atau barang-barang kecil itu bisa lebih bermakna buat kita," jelas Inez.
Kemudian, self rewad pun dapat dilakukan tanpa melulu mengaitkannya dengan hal-hal material, seperti halnya memberi apresiasi dalam bentuk kata, atau afirmasi pada diri sendiri atas pencapaian kecil telah dilakukan dalam satu hari.
Menurut Inez, ada orang suka bila mendapat kata-kata afirmasi. Terkadang kita menunggunya dari orang lain, keluarga, maupun pasangan.
Baca Juga:
Stigma Negatif dan Mitos Jadi Penghambat Penanganan Kesehatan Mental
Namun, konsep self reward kerap dimaknai salah kaprah kemudian bisa berdampak buruk pada perilaku, atau cenderung merugikan orang lain, seperti self sabotage, selfish atau egois.
"Pada hakikatnya self love itu mencintai diri kita sendiri. Artinya jangan sampai kita melakukan sesuatu justru menyakiti atau merugikan diri kita sendiri atau merugikan orang lain. Menurutku itu batasannya," ucap Inez.
Dalam melakukan hal apapun dianggap sebagai self reward, Inez mengingatkan, agar pikirkan matang-matang efek jangka panjang, apakah akan merugikan diri sendiri atau orang lain.
"Self reward-nya misalkan makan. Tapi malah memakan makanan tidak sehat dan porsi berlebihan. Dalam jangka panjang, mungkin pada akhirnya itu bisa memberikan dampak justru buruk untuk diri kita. Self reward malah berubah jadi bukan bersifat baik lagi," jelas Inez. (Ryn)
Baca Juga:
Kenali Empat Cara Mudah Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemi
Bagikan
Berita Terkait
BPJS Kesehatan Sebut Peserta yang Dinonaktifkan sudah tak Masuk Golongan Syarat Kategori Miskin
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit