Kesehatan

Segala Hal Perlu Kamu Ketahui Tentang Gangguan Kecemasan

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Rabu, 19 Oktober 2022
Segala Hal Perlu Kamu Ketahui Tentang Gangguan Kecemasan

Sekitar 1 dari 4 laki-laki dan 4 dari 10 perempuan akan mengalami gangguan kecemasan dalam hidup. (Pexels/Liza Summer)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ADA pedoman baru dari Preventive Services Task Force AS agar semua orang dewasa di bawah usia 65 tahun harus diskrining untuk gangguan cemas. Pedoman yang dikeluarkan bulan lalu itu dapat membantu dokter dalam mengambil keputusan bagi para pasien dengan gangguan kesehatan mental ini.

Menurut rancangan rekomendasi Preventive Services Task Force AS, prevalensi gangguan kecemasan seumur hidup adalah 26 persen untuk laki-laki dan 40 persen untuk perempuan. Itu berarti sekitar 1 dari 4 laki-laki dan 4 dari 10 perempuan akan mengalami gangguan kecemasan di beberapa periode selama hidup mereka.

Baca Juga:

Cara Tepat Cari Bantuan untuk Gangguan Kecemasan

"Ini jelas merupakan masalah yang perlu ditangani. Kecemasan, seperti depresi dan masalah kesehatan mental lainnya, harus diperlakukan dengan perhatian yang sama seperti yang kita berikan pada masalah kesehatan fisik," ujar Medical Analyst Dr. Leana Wen kepada CNN.

Penting untuk membedakan perasaan cemas dari diagnosis medis gangguan kecemasan. (Pexels/Alex Green)

Baca Juga:

Relationship Goals yang Enggak Boleh Ditunda Demi Hubungan Sehat nan Romantis

Menurut Wen, sangat penting untuk membedakan perasaan cemas dari diagnosis medis gangguan kecemasan. "Kecemasan adalah reaksi normal terhadap stres. Setiap orang merasakan beberapa tingkat kegugupan terhadap situasi dalam hidup mereka," ujarnya.

Dia menjelaskan, gangguan kecemasan ditandai dengan rasa takut atau kecemasan yang terus-menerus dan berlebihan yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi. Gangguan ini dapat menyebabkan orang menghindari situasi keterlibatan sosial, fungsi profesional, janji temu atau bahkan tugas sehari-hari.

"Gangguan kecemasan mencakup berbagai diagnosis, termasuk gangguan kecemasan umum, gangguan panik, gangguan kecemasan sosial dan fobia spesifik," Wen menekankan.

Orang dengan gangguan kecemasan dapat mengalami beragam gejala seperti gelisah dan khawatir, merasa panik atau kacau, sulit berkonsentrasi atau tidur, dan mengalami serangan panik. Serangan panik ditandai dengan jantung berdebar-debar, sesak napas atau tangan dingin dan kesemutan.

Penting untuk dicatat bahwa banyak orang dengan gangguan kecemasan mungkin memiliki gejala fisik lainnya. Misalnya, beberapa mengalami sakit kepala, sakit perut, mual dan kelelahan. "Karena gejala gangguan kecemasan sangat bervariasi, kurang terdeteksi dan kurang terdiagnosis sering terjadi," Wen mengingatkan.

Gejala gangguan kecemasan sangat bervariasi, kurang terdeteksi dan kurang terdiagnosis sering terjadi. (Pexels/MART PRODUCTION)

Seperti depresi dan beberapa diagnosis kesehatan mental lainnya, gangguan kecemasan dapat diobati melalui farmakoterapi, psikoterapi, atau keduanya. Farmakoterapi melibatkan obat-obatan, sedangkan psikoterapi mencakup terapi perilaku kognitif yang dilakukan melalui kerja sama dengan psikolog atau spesialis kesehatan mental lain.

Seringkali, dokter merekomendasikan perubahan gaya hidup juga, termasuk meditasi, olahraga dan mengurangi asupan alkohol dan merokok. Beberapa pasien membutuhkan perawatan berkelanjutan. Banyak yang menerima perawatan untuk jangka waktu tertentu dan kemudian dipantau untuk melihat apakah mereka mungkin membutuhkannya lagi.

"Intinya di sini adalah bahwa perawatan berhasil. Mereka mengurangi gejala gangguan kecemasan dan membantu orang mendapatkan kembali kesehatan dalam hidup mereka," tutup Leana Wen. (aru)

Baca Juga:

Bijak Memilih 'Self Reward' Agar Tidak Rugi

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Lifestyle
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Pria ini membutuhkan prosedur kolonoskopi untuk mengeluarkan perangkat tersebut.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Bagikan