Abu Vulkanis Juga Bahaya untuk Mata, Pakai Kacamata Pelindung Penting saat di Luar Ruang

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 07 September 2026
Abu Vulkanis Juga Bahaya untuk Mata, Pakai Kacamata Pelindung Penting saat di Luar Ruang

dr Dewa Gede Benny Raharja P, M Biomed, SpM.(foto: Instagram)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — LALU lintas Kota Tangerang terasa lebih leluasa daripada biasanya pada Senin (7/9). Tak ada kemacetan yang biasanya terjadi di kawasan Pasar Baru. Kendaraan roda dua yang biasanya memadati kawasan hanya terlihat beberapa saja. Dari semua pengendara yang terpantau, mayoritas telah mengenakan masker untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanis dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Meski telah melindungi saluran napas dengan masker, para pengendara tersebut lupa bahwa mata juga perlu dilindungi dari abu vulkanis.

“Abu vulkanis itu bukan debu biasa. Ada campuran silica di dalamnya. Silica ini bahan gelas atau kaca yang kasar dan tajam. Selain itu, ada pula abu yang cenderung asam,” kata dr Dewa Gede Benny Raharja P, M Biomed, SpM, dokter spesialis mata yang berpraktik di RS Mata Ramata, Bali, saat menjawab Merahputih.com, Senin (7/9).

Saat abu vulkanis tersebar di udara, Benny menyarankan untuk mengurangi aktivitas luar ruang. Namun, jika memang harus keluar rumah, pastikan kamu mengenakan kacamata pelindung atau google. “Kalau terpapar abu vulkanis, segaralah bilas dengan air mengalir,” sarannya.

Baca juga:

Mengapa Pesawat Tak Boleh Terbang di Tengah Abu Vulkanis? Ini Alasannya



Kenali Gejalanya




Menurut Benny, saat mata terpapar abu vulkanis, tergantung jumlah dan durasinya, mata bisa terasa teriritasi seperti kemasukan debu, tapi terasa lebih parah, seperti gatal-gatal karena reaksi peradangan. “Kalau kena yang asam atau acid, ada burn sensation atau sensasi terbakar,” imbuhnya.

Meski tak ada yang spesifik, paparan debu vulkanis pada mata bisa saja memunculkan gejala, seperti:

  • Mata merah (hiperemia konjungtiva)
  • Sensasi benda asing / berpasir
  • Gatal dan perih
  • Lakrimasi dan discharge mukoid
  • Fotofobia atau silau
  • Penglihatan kabur (akibat irregularitas permukaan atau lakrimasi berlebihan)
  • Nyeri tajam bila terjadi abrasi kornea





Tangani dengan Tepat



Jika gejala-gejala tersebut muncul dan mulai dirasakan, Benny menyarankan untuk melakukan penanganan cepat dan tepat. Hal pertama yakni jangan menggosok mata. Hal itu bisa memperparah abrasi.

Buat kamu yang memakai lensa kontak, Benny menyarankan untuk segera melepasnya. “Jangan dipakai kembali hingga lingkungan bebas abu dan mata terasa nyaman,” ujar dokter mata yang tengah menempuh pendidikan di Bandung ini.

Selain itu, kamu bisa melakukan irigasi mata dengan saline steril atau air bersih mengalir selama beberapa menit (biasanya 5–10 menit) hingga sensasi berpasir berkurang. Berikan juga pelumas okular (air mata buatan tanpa pengawet) secara sering untuk menenangkan permukaan okular.

“Segeralah ke layanan kesehatan mata bila terasa nyeri berat, silau yang signifikan, penurunan visus, sensasi benda asing menetap setelah irigasi, atau tanda infeksi,” tutup Benny.(dwi)

Baca juga:

Ini yang Akan Terjadi Jika Kamu Menghirup Abu Vulkanis

#Kesehatan #Abu Vulkanis #Kesehatan Mata
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Presiden Prabowo Perintahkan Persingkat Antrean Layanan BPJS
Selain itu tidak boleh ada lagi diskriminasi pelayanan antara peserta BPJS Kesehatan dan pasien non-BPJS.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Presiden Prabowo Perintahkan Persingkat Antrean Layanan BPJS
Indonesia
Program Ambulans Udara Mulai Diujicobakan Pakai Helikopter
Pemerintah telah melakukan uji coba melalui latihan evakuasi medis menggunakan helikopter di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 28 September 2026
Program Ambulans Udara Mulai Diujicobakan Pakai Helikopter
Tekno
Risiko Jantung Mengintai di Balik Maraknya Fenomena 'Mendadak Atlet'
Tren olahraga ekstrem seperti lari dan Hyrox kian marak, namun fenomena mendadak atlet tanpa cek kesehatan justru memicu risiko fatal henti jantung!
Wisnu Cipto - Jumat, 25 September 2026
Risiko Jantung Mengintai di Balik Maraknya Fenomena 'Mendadak Atlet'
Kuliner
Belajar Trik Makan Mi Instan Sehat ala Gen Z Korea, Dobel Manfaat sebagai Pereda Pengar
Mi instan sebagian besar terdiri dari karbohidrat olahan, tapi rendah serat.
Dwi Astarini - Rabu, 23 September 2026
Belajar Trik Makan Mi Instan Sehat ala Gen Z Korea, Dobel Manfaat sebagai Pereda Pengar
Olahraga
Joanna Wietrzyk Alami Inkontinensia Feses di Tengah Lomba HYROX, Tetap Finis dan Jadi Juara
Atlet HYROX asal Australia Joanna Wietrzyk mengalami inkontinensia feses saat lomba di Beijing, tetapi tetap bertanding hingga keluar sebagai juara.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 17 September 2026
Joanna Wietrzyk Alami Inkontinensia Feses di Tengah Lomba HYROX, Tetap Finis dan Jadi Juara
Dunia
Rekor Baru Jepang! Warga Berusia 100 Tahun Tembus 100 Ribu, 87,6% Perempuan
umlah lansia berusia 100 tahun ke atas di Jepang tembus 107.677 orang per September 2026. Sebanyak 87,6% di antaranya adalah wanita. Simak data lengkapnya!
Wisnu Cipto - Selasa, 15 September 2026
Rekor Baru Jepang! Warga Berusia 100 Tahun Tembus 100 Ribu, 87,6% Perempuan
Indonesia
Menkes Butuh USD 27 Miliar Buat Meningkatan Usia Harapan Hidup Jadi 76 Tahun
Untuk memenuhi itu, katanya, pihaknya pun berupaya membangun kepercayaan dari para mitra global dan filantropis.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 15 September 2026
Menkes Butuh USD 27 Miliar Buat Meningkatan Usia Harapan Hidup Jadi 76 Tahun
Indonesia
Pemerintah Klaim Program CKG Telah Jangkau 130 Juta Jiwa
Program ini difokuskan untuk memperkuat deteksi dini penyakit sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Dwi Astarini - Sabtu, 12 September 2026
Pemerintah Klaim Program CKG Telah Jangkau 130 Juta Jiwa
Indonesia
Abu Anak Krakatau Mulai Ganggu Jalan, Jangan Asal Naik Motor Sebelum Tahu 6 Tips Ini
Abu vulkanis Gunung Anak Krakatau dapat mengganggu jarak pandang dan membuat jalan licin. Simak 6 tips aman berkendara motor saat terjadi paparan abu.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 12 September 2026
Abu Anak Krakatau Mulai Ganggu Jalan, Jangan Asal Naik Motor Sebelum Tahu 6 Tips Ini
Berita Foto
Hadapi Era Ageing Population, Alita-Fujitsu Hadirkan Teknologi AI Human Motion Analytics
Pengunjung memukul bola golf lewat teknologi AI Human Motion Analytics dalam ajang Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 11 September 2026
Hadapi Era Ageing Population, Alita-Fujitsu Hadirkan Teknologi AI Human Motion Analytics
Bagikan