MERAHPUTIH.COM — LALU lintas Kota Tangerang terasa lebih leluasa daripada biasanya pada Senin (7/9). Tak ada kemacetan yang biasanya terjadi di kawasan Pasar Baru. Kendaraan roda dua yang biasanya memadati kawasan hanya terlihat beberapa saja. Dari semua pengendara yang terpantau, mayoritas telah mengenakan masker untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanis dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Meski telah melindungi saluran napas dengan masker, para pengendara tersebut lupa bahwa mata juga perlu dilindungi dari abu vulkanis.
“Abu vulkanis itu bukan debu biasa. Ada campuran silica di dalamnya. Silica ini bahan gelas atau kaca yang kasar dan tajam. Selain itu, ada pula abu yang cenderung asam,” kata dr Dewa Gede Benny Raharja P, M Biomed, SpM, dokter spesialis mata yang berpraktik di RS Mata Ramata, Bali, saat menjawab Merahputih.com, Senin (7/9).
Saat abu vulkanis tersebar di udara, Benny menyarankan untuk mengurangi aktivitas luar ruang. Namun, jika memang harus keluar rumah, pastikan kamu mengenakan kacamata pelindung atau google. “Kalau terpapar abu vulkanis, segaralah bilas dengan air mengalir,” sarannya.
Baca juga:
Mengapa Pesawat Tak Boleh Terbang di Tengah Abu Vulkanis? Ini Alasannya
Kenali Gejalanya
Menurut Benny, saat mata terpapar abu vulkanis, tergantung jumlah dan durasinya, mata bisa terasa teriritasi seperti kemasukan debu, tapi terasa lebih parah, seperti gatal-gatal karena reaksi peradangan. “Kalau kena yang asam atau acid, ada burn sensation atau sensasi terbakar,” imbuhnya.
Meski tak ada yang spesifik, paparan debu vulkanis pada mata bisa saja memunculkan gejala, seperti:
- Mata merah (hiperemia konjungtiva)
- Sensasi benda asing / berpasir
- Gatal dan perih
- Lakrimasi dan discharge mukoid
- Fotofobia atau silau
- Penglihatan kabur (akibat irregularitas permukaan atau lakrimasi berlebihan)
- Nyeri tajam bila terjadi abrasi kornea
Tangani dengan Tepat
Jika gejala-gejala tersebut muncul dan mulai dirasakan, Benny menyarankan untuk melakukan penanganan cepat dan tepat. Hal pertama yakni jangan menggosok mata. Hal itu bisa memperparah abrasi.
Buat kamu yang memakai lensa kontak, Benny menyarankan untuk segera melepasnya. “Jangan dipakai kembali hingga lingkungan bebas abu dan mata terasa nyaman,” ujar dokter mata yang tengah menempuh pendidikan di Bandung ini.
Selain itu, kamu bisa melakukan irigasi mata dengan saline steril atau air bersih mengalir selama beberapa menit (biasanya 5–10 menit) hingga sensasi berpasir berkurang. Berikan juga pelumas okular (air mata buatan tanpa pengawet) secara sering untuk menenangkan permukaan okular.
“Segeralah ke layanan kesehatan mata bila terasa nyeri berat, silau yang signifikan, penurunan visus, sensasi benda asing menetap setelah irigasi, atau tanda infeksi,” tutup Benny.(dwi)
Baca juga: