Gigi Sudah Berlubang Parah Belum Tentu Harus Dicabut, Dokter Ungkap Alasannya

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - 1 jam, 8 menit lalu
Gigi Sudah Berlubang Parah Belum Tentu Harus Dicabut, Dokter Ungkap Alasannya

Ilustrasi perawatan gigi. (Foto: dok. Ist)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Gigi berlubang kerap dianggap sebagai masalah kesehatan yang sepele, terutama ketika lubang masih berukuran kecil dan belum menimbulkan rasa sakit. Padahal, kerusakan gigi yang dibiarkan tanpa penanganan dapat terus berkembang hingga mencapai bagian terdalam yang berisi saraf dan pembuluh darah.

Meski demikian, gigi berlubang tidak selalu berujung pada pencabutan. Ada sejumlah pilihan perawatan yang dapat dilakukan dokter gigi untuk mempertahankan gigi asli, tergantung tingkat kerusakan dan kondisi jaringan gigi yang masih tersisa.

CEO Audy Dental, drg. Yulita Bong, menjelaskan bahwa keputusan penanganan gigi berlubang perlu mempertimbangkan lapisan gigi yang mengalami kerusakan. Secara umum, gigi memiliki tiga lapisan utama, yakni enamel sebagai lapisan terluar, dentin di bagian tengah, serta pulpa di bagian terdalam yang berisi saraf dan pembuluh darah.

"Jadi, kalau misalnya ketika gigi berlubang, kalau misalnya cuma sedikit saja, itu biasanya simpel. Kita bilang kasusnya simpel, sama saraf gigi masih jauh, tinggal ditambal selesai," ujar drg. Yulita Bong.

Baca juga:

Gigi Berlubang, Anemia, Darah Tinggi, Impaksi dan Obesitas Dialami Siswa Indonesia

Gigi Berlubang Masih Bisa Diselamatkan dengan Penambalan

Ketika lubang masih terbatas pada lapisan enamel atau mulai mencapai dentin, dokter gigi dapat mempertimbangkan tindakan penambalan sesuai kondisi kerusakan.

Namun, apabila bakteri sudah menembus lebih dalam hingga menginfeksi jaringan pulpa, penanganannya membutuhkan tindakan lebih lanjut, salah satunya perawatan saluran akar.

Menariknya, kerusakan yang sudah mencapai pulpa pun tidak otomatis membuat gigi harus dicabut. Menurut drg. Yulita, sebagian besar gigi dalam kondisi tersebut masih memiliki peluang untuk dipertahankan melalui perawatan saluran akar.

"Jadi, kalau sudah sampai ke pulpa pun, sebagian besar giginya itu akan selamat. Masih bisa dilakukan perawatan saluran akar," jelasnya.

Karena itu, tingkat kedalaman lubang bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah gigi masih bisa diselamatkan. Kondisi struktur gigi yang tersisa juga menjadi pertimbangan penting sebelum dokter menentukan tindakan.

Kapan Gigi Berlubang Harus Dicabut?

Pencabutan biasanya menjadi pertimbangan ketika kerusakan sudah terlalu parah sehingga gigi tidak lagi memungkinkan untuk diperbaiki atau direstorasi.

Dalam menentukan tindakan, dokter gigi akan memeriksa kondisi mahkota gigi, yaitu bagian yang terlihat di atas gusi, serta struktur akar yang menopang gigi.

Jika bagian mahkota yang tersisa sudah sangat sedikit, dokter perlu mengevaluasi apakah gigi masih dapat dipertahankan menggunakan metode restorasi tertentu. Beberapa alternatif yang bisa dipertimbangkan antara lain inlay dan crown atau mahkota buatan.

"Kalau mahkotanya yang di depan itu sudah sangat minim, kita juga mulai mempertimbangkan karena berarti tidak bisa direstorasi lagi. Apakah kita masih bisa pakai crown, sebelum crown ada inlay. Tapi pada dasarnya, untuk gigi itu sampai akhirnya diputuskan sudah hopeless dan harus dicabut, sebenarnya perjalanannya panjang banget," ungkap drg. Yulita.

Selain kondisi mahkota, akar gigi juga berperan dalam menentukan keberhasilan perawatan. Pencabutan dapat dipertimbangkan apabila gigi hanya menyisakan akar karena mahkotanya telah hancur sepenuhnya.

Kondisi akar yang terlalu sedikit, patah, atau tidak lagi memungkinkan untuk direstorasi juga dapat menjadi alasan dokter memutuskan pencabutan.

Dengan demikian, keputusan mencabut gigi tidak hanya didasarkan pada ukuran lubang atau tingkat rasa sakit yang dialami pasien. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk memastikan apakah struktur gigi yang tersisa masih cukup kuat dan dapat dipertahankan.

Baca juga:

Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf

Jangan Menunggu hingga Kerusakan Gigi Semakin Parah

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa proses dari gigi berlubang hingga harus dicabut sebenarnya melalui sejumlah tahapan. Sebelum mengambil keputusan pencabutan, dokter masih dapat mempertimbangkan berbagai upaya perawatan sesuai kondisi gigi pasien.

Jadi, kalau dari gigi berlubang itu masih jauh banget. Masih banyak banget effort yang bisa kita lakukan sebelum gigi itu dicabut,

CEO Audy Dental, Yulita Bong.

Karena itu, pemeriksaan sejak awal menjadi penting agar kerusakan gigi dapat diketahui dan ditangani sesuai kondisinya sebelum berkembang lebih jauh.

Audy Dental Perluas Jaringan dan Layanan Kesehatan Gigi

Sejalan dengan upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan gigi, Audy Dental terus memperkuat jaringan dan kapasitas pelayanannya.

Sepanjang 2026, Audy Dental berencana menambah delapan cabang di wilayah Jawa dan Bali. Perusahaan juga mengembangkan berbagai inovasi layanan, mulai dari standardisasi SOP dan sistem harga yang transparan, penguatan infrastruktur digital, hingga penerapan sistem digital informed consent.

Berbagai upaya tersebut turut mendapat pengakuan melalui penghargaan dari Healthcare Asia dalam kategori Dental Clinic of The Year dan Marketing Initiative of The Year.

Untuk mempermudah akses pasien, Audy Dental juga menghadirkan Easy Appointment, yakni layanan informasi dan reservasi melalui satu nomor WhatsApp terpusat selama 24 jam. Layanan ini dilengkapi fitur Smart Reminder.

Selain mengembangkan layanan klinis dan digital, Audy Dental turut menjalankan kegiatan edukasi mengenai pentingnya kesehatan gigi di sekolah, perkantoran, dan pusat gaya hidup.

Sepanjang 2026, Audy Dental telah mengunjungi lebih dari 55 lokasi yang mencakup pusat gaya hidup, sekolah, dan kantor di Pulau Jawa. (Far)

#Kesehatan #Gigi #Gigi Berlubang
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Febrian Adi

part-time music enthusiast. full-time human.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Fun
Gigi Sudah Berlubang Parah Belum Tentu Harus Dicabut, Dokter Ungkap Alasannya
Gigi berlubang hingga mencapai saraf belum tentu harus dicabut. drg. Yulita Bong, menjelaskan pilihan perawatan dan kondisi yang menentukan pencabutan gigi.
Ananda Dimas Prasetya - 1 jam, 8 menit lalu
Gigi Sudah Berlubang Parah Belum Tentu Harus Dicabut, Dokter Ungkap Alasannya
Fun
Apa Itu Nutri-Level? Kenali Arti Warna Label Gizi dan Kaitannya dengan Pencegahan Diabetes
Kenali Nutri-Level, sistem label gizi dengan empat kategori warna untuk membantu masyarakat memahami kandungan gula, garam, dan lemak pada produk.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 04 November 2026
Apa Itu Nutri-Level? Kenali Arti Warna Label Gizi dan Kaitannya dengan Pencegahan Diabetes
Lifestyle
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Pria ini membutuhkan prosedur kolonoskopi untuk mengeluarkan perangkat tersebut.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Bagikan