Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Sebelum Blokir Telegram, Kominfo Masuk Grup Gembong Teroris Bahrul Naim

Noer Ardiansjah - Kamis, 27 Juli 2017

MerahPutih.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memastikan pemblokiran terhadap Telegram beberapa waktu lalu telah melalui proses penghitungan yang matang.

Kasubdit Penyidikan dan Penindakan Kemenkominfo Teguh Arifiyadi mengaku sampai masuk di grup Telegram kelompok teroris Bahrul Naim sebelum memutuskan untuk memblokir Telegram.

"Saya menjadi salah satu yang masuk di grup, yang di dalamnya ada Bahrul Naim. Di situ diajarkan secara spesifik cara membuat bom, serangan-serangan sampai pada targetnya," kata Teguh dalam diskusi bertema Perkawinan Terorisme dan Cyber di Institut Perbanas, Jakarta, Kamis (27/7)

Sebelum memutuskan untuk memblokir Telegram, ia mengaku telah berkomunikasi dengan Menkominfo Rudiantara. Untuk meyakinkannya, Teguh memberikan ribuan bukti screenshot percakapan terorisme di Telegram.

"Ada sekitar 54 chanel teroris. Namun, saya hanya memberikan bukti empat chanel, dari empat chanel saja ada 4.000 lembar lebih yang saya berikan (kepada menteri)," tandasnya.

Selain itu, ia juga membantah pemblokiran tersebut sebagai bentuk keotoriteran pemerintah. Ia sebelumnya sempat berkirim surat kepada pihak Telegram sebanyak enam kali.

"Kami gak ada niat matikan media sosial, kalau kami niat matikan Telegram, mungkin tidak hanya web-nya, aplikasinya juga, tetapi kami tidak lakukan itu," lanjut pria yang pernah menjadi ahli IT dalam sidang praperadilan kasus Buni Yani itu.

"Kami kirim surat ke Telegram dari 29 Maret dari 2016, belum ada jawaban 6 kali kami kirim surat, akhirnya dijawab sekarang," tandasnya. (Pon)

Baca berita terkait pemblokiran Telegram lainnya di: DPR Dukung Pemerintah Blokir Telegram

Baca Artikel Asli