Penduduk Rohingya Kekurangan Makanan dan Air Bersih di Kamp Pengungsi
Sabtu, 09 September 2017 -
MerahPutih.com - Laporan Badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (U.N. High Commissioner for Refugees/UNHCR) menyebutkan 270 ribu gelombang pengungsi terus mengalir dari Myanmar ke Bangladesh. Kini, para pengungsi menghadapi persoalan baru di tempat-tempat pengungsian.
Para pengungsi kesulitan mendapatkan makanan, air bersih, dan tempat tinggal di kamp pengungsi. Umumnya, mereka hanya membawa barang-barang seadanya. Mereka berjalan kaki berhari-hari tanpa makanan dan minuman.
Menurut juru bicara pengungsi Rohingya, Duniya Aslam Khan dua tenda besar di Cox’s Bazar, sebelah tenggara Bangladesh menjadi kamp bagi pengungsi Rohingya.
"Ada sekira 34.000 pengungsi Rohingya yang mendiami dua tenda itu," katanya.
Tapi kini tenda yang didirikan tak lagi mampu menampung jumlah pengungsi yang terus bertambah. Berdasarkan data PBB, pada Kamis (7/9), sebanyak 164 ribu penduduk minoritas Rohingya meninggalkan negaranya sejak krisis pecah akhir Agustus silam.
Menurut Aslam Khan jumlah pengungsi terus bertambah sementara kamp memiliki keterbatasan daya tampung.
"Saat ini para pengungsi mendirikan tenda-tenda darurat yang 'menjamur' di jalan-jalan di daerah Ukhiya dan Teknaf," sambungnya.
Arus pengungsi yang terus berdatangan kini krisis air bersih dan makanan. Belum lagi, ada anggota etnis Rohingya yang sakit dan terluka.
Di antara pengungsi, terdapat manula dan ibu dan bayi. Ali Johar dan isterinya, Khuthija membawa bayi mereka yang baru lahir. Mereka tidak membawa apapun saat meninggalkan Myanmar kecuali pakaian di tubuhnya.
Khuthija, hanya terdiam sambil menggendong bayi perempuan berusia dua hari tanpa selimut di tengah hutan yang dingin.
Hafizullah Muhammad bersama Senwara Begum dan kelima anak mereka mengungsi setelah menyaksikan pendeta Budha memenggal kepala orang Rohingya dan militer mengepung rumah-rumah penduduk di kampungnya di Andan.
"Tentara membakar rumah-rumah kami, kami semua terkepung dan tak bisa keluar," ujarnya.
"Tentara itu bilang,'OK, pergilah', kamu lalu pergi sementara orang tua kami pergi ke sisi yang lain sehingga kami terpencar. Sampai sekarang kami tak tahu orang tua kami di mana," katanya dengan mata berkaca-kaca.
Sumber: ABC/New York Times