Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Menteri Tito Ingin Perempuan Jadi Mendagri

Andika Pratama - Senin, 23 Desember 2019

MerahPutih.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian ingin Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dipimpin oleh seorang wanita.

Mantan Kapolri ini tidak mau peringatan hari ibu setiap 22 Desember hanya menjadi ritual semata, tapi Kemendagri harus melakukan sesuatu peran yang nyata.

Baca Juga

DPR Lepas Tangan Kalau Mendagri Tito Perpanjang Izin FPI

"Suatu saat saya ingin Mendagri juga dari Wanita," kata Tito usai menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Dharma Wanita Persatuan (DWP) ke-20 di Gedung Kemendagri Jakarta, Senin (23/12).

Tito menyebut emansipasi wanita di Indonesia cukup maju dalam hal posisi dan jabatan. Sebut saja, beberapa pos di Kementerian saat ini banyak diisi oleh wanita.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc.

Di dalam sejarah perjalanan bangsa, kata Tito, telah mencatat adanya Presiden wanita pertama di Republik Indonesia, yaitu Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPR wanita pertama Republik Indonesia, Puan Maharani. Tito berharap itu terjadi juga di pos Kementerian Dalam Negeri.

Baca Juga

Mendagri Tito Pertanyakan Relevansi Pilkada Langsung

"Sekjen Kemendagri dulu juga pernah wanita (sekarang Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan) Ibu Siti Nurbaya," ucap Tito dilansir Antara.

Ia menambahkan telah banyak juga Gubernur Wanita seperti Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, juga ada Wali Kota serta Bupati Wanita yang berperan baik di Republik ini.

"Wakil Gubernur juga ada wanita, Bupati juga banyak sekali wanita," tambah Tito.

Oleh karena itu, Indonesia termasuk negara yang hebat dalam emansipasi wanita menurut pandangan Tito.

Baca Juga

Tito Sengaja Dijadikan Mendagri Berantas ASN Bandel dan Terpapar Radikalisme

"Mungkin kalau tidak ada 22 Desember itu, termasuk juga jasa dari ibu Kartini, yang diperingati tanggal 21 April, mungkin emansipasi wanita Indonesia tidak seperti sekarang ini," kata dia. (*)

Baca Artikel Asli