Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Menteri Keuangan G7 Sebut Perpecahan Antara AS dan Eropa Makin Dalam

Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 16 April 2026

MerahPutih.com - Pertemuan Para menteri keuangan negara Kelompok Tujuh (G7) berlanhsung selama dua jam yang digelar di sela-sela pertemuan musim semi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, para peserta juga membahas dukungan bagi Ukraina serta kerja sama dalam pengamanan mineral kritis yang penting bagi industri teknologi tinggi dan keamanan nasional.

Para menteri keuangan negara kelompok tujuh ini sepakat melakukan upaya guna menstabilkan ekonomi global di tengah ketidakpastian akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

Di tengah melonjaknya harga energi dan terganggunya rantai pasok global, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan kepada wartawan setelah pertemuan di Washington bahwa bank-bank sentral cenderung mengambil sikap menunggu dan melihat dalam kebijakan moneter.

Ia mengakui sulit memastikan apakah gencatan senjata rapuh dalam perang yang telah berlangsung lebih dari satu bulan itu akan menghasilkan perdamaian jangka panjang.

Baca juga:

Bawa 2 Juta Barel Minyak, Supertanker Iran Bobol Blokade AS di Selat Hormuz

“Saya percaya ada pemahaman bersama bahwa kita perlu melakukan yang terbaik untuk meredakan situasi, termasuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz,” ujarnya.

Katayama mengatakan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent tidak menghadiri pertemuan karena benturan jadwal, serta menambahkan bahwa pernyataan bersama non-G7 yang disusun oleh Inggris pada dasarnya mencerminkan pandangan umum semua pihak.

Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G7 yang terdiri dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan AS, serta Uni Eropa, tidak mengeluarkan komunike bersama setelah menyelesaikan pembicaraan.

Bersama Inggris, menteri keuangan dari Australia, Jepang, Swedia, Belanda, Finlandia, Spanyol, Norwegia, Irlandia, Polandia, dan Selandia Baru menyatakan dalam dokumen mengenai Timur Tengah bahwa dampak terhadap pertumbuhan, inflasi, dan pasar akan tetap terasa bahkan jika konflik berakhir secara permanen.

Dalam dokumen tersebut, para menteri juga berkomitmen untuk mendorong kerja sama dan integrasi guna mendukung stabilitas regional dan global. Perang tersebut juga mengungkap perpecahan yang semakin dalam antara AS dan Eropa.

Dunia menyambut baik kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran yang dicapai pekan lalu, namun belum terlihat akhir dari konflik tersebut, dengan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan global di lepas pantai selatan Iran masih sebagian besar tertutup bagi lalu lintas maritim. (*)

Baca Artikel Asli