LEBAH terancam terusir dari Benua Eropa. Serangga bercorak kuning hitam ini, meski ditakuti karena sengatnya, diketahui sangat berkontribusi pada tumbuhan seperti bunga dan sejenisnya. Namun, keberadaan lebah-lebah di daratan Eropa tengah terancam.
Seperti dikabarkan Gizmdo, penelitian terbaru memprediksi hingga 75 persen spesies lebah di wilayah Eropa akan mengalami kehilangan habiatat yang cukup besar selama beberapa dekade mendatang.
BACA JUGA:
Para ilmuwan memprediksi sebanyak tiga perempat spesies lebah di wilayah tersebut akan mengalami penurunan populasi dan kehilangan wilayah yang substansial dalam beberapa dekade mendatang. Hal itu disebabkan masalah-masalah yang timbul oleh ulah manusia, seperti perubahan iklim. Ada harapan bahwa serangga penyerbuk yang penting ini masih dapat menemukan tempat berlindung di daerah tertentu. Namun, hal itu belum pasti.
Lebah adalah serangga yang termasuk dalam genus Bombus. Ada lebih dari 250 spesies yang diketahui di seluruh dunia. Seperti serangga lainnya, mereka memainkan peran penting dalam penyerbukan tanaman liar dan tanaman pertanian, terutama di belahan bumi utara. Di sanalah mereka paling banyak ditemukan. Namun, lebah secara keseluruhan telah menghadapi krisis populasi di Eropa, Amerika Utara, dan Asia selama beberapa dekade. Ada beberapa alasan untuk penurunan ini, termasuk hilangnya habitat, perubahan iklim, dan penyebaran penyakit berbahaya.
Dalam studi terbaru ini, yang diterbitkan pada Rabu (13/9) di jurnal Nature, para ilmuwan di Belgia telah mencoba mencari tahu masa depan lebah di Eropa. Gizmodo menyebut, untuk menghasilkan proyeksi mereka, mereka menganalisis data yang relevan sejak 1900 yang dikumpulkan di sebagian besar Eropa. Mereka kemudian membuat model yang mencoba memperhitungkan berbagai skenario tentang bagaimana iklim dan penggunaan lahan yang dapat ditinggali lebah akan berubah dari waktu ke waktu.
Dalam skenario yang paling mungkin terjadi, tim peneliti memperkirakan bahwa banyak lebah Eropa yang saat ini diklasifikasikan sebagai spesies least concern, spesies yang tidak menghadapi ancaman dalam waktu dekat, akan mulai menurun dalam beberapa dekade.
BACA JUGA:
“Antara 38 persen dan 76 persen dari spesies ini diproyeksikan akan kehilangan setidaknya 30 persen dari lahan yang dapat dihuni pada 2061 hingga 2080. Jumlah itu dibandingkan dengan kisaran saat ini dari 2000 hingga 2014,” ungkap laporan itu.
Lebah yang tinggal di bagian kutub utara dan daerah pegunungan yang tinggi berada dalam masalah yang lebih besar lagi. Spesies ini diproyeksikan akan kehilangan setidaknya 90 persen habitat mereka pada saat itu. Hal itu menempatkan mereka di jalur cepat menuju kepunahan.
Banyak dari spesies ini mungkin dapat pulih di beberapa bagian Skandinavia. Itu menjadi kemungkinan yang ditemukan para peneliti di semua skenario yang mereka buat. Namun, masa depan itu juga tidak menjamin. Mereka memperingatkan karena ada kemungkinan bahaya lain terhadap lingkungan lebah yang tidak diperhitungkan. Masih banyak yang perlu diteliti untuk memahami cara-cara spesifik perubahan iklim dan hilangnya habitat akan memengaruhi populasi lebah.
"Hasil penelitian kami menggarisbawahi peran penting kebijakan mitigasi perubahan global sebagai pengungkit yang efektif untuk melindungi lebah dari transformasi biosfer akibat ulah manusia," ujat para ilmuan.(Aqb)
BACA JUGA: