Lebah di Eropa Terancam Kehilangan Habitat

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 19 September 2023
Lebah di Eropa Terancam Kehilangan Habitat

Perubahan iklim mengancam habitat lebah di Eropa.(foto: dmitry-grigoriev_unsplash)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

LEBAH terancam terusir dari Benua Eropa. Serangga bercorak kuning hitam ini, meski ditakuti karena sengatnya, diketahui sangat berkontribusi pada tumbuhan seperti bunga dan sejenisnya. Namun, keberadaan lebah-lebah di daratan Eropa tengah terancam.

Seperti dikabarkan Gizmdo, penelitian terbaru memprediksi hingga 75 persen spesies lebah di wilayah Eropa akan mengalami kehilangan habiatat yang cukup besar selama beberapa dekade mendatang.

BACA JUGA:

Lebah Anggrek dan Wewangian Rahasia di Kaki Belakang

Para ilmuwan memprediksi sebanyak tiga perempat spesies lebah di wilayah tersebut akan mengalami penurunan populasi dan kehilangan wilayah yang substansial dalam beberapa dekade mendatang. Hal itu disebabkan masalah-masalah yang timbul oleh ulah manusia, seperti perubahan iklim. Ada harapan bahwa serangga penyerbuk yang penting ini masih dapat menemukan tempat berlindung di daerah tertentu. Namun, hal itu belum pasti.

lebah
Hingga 75 persen spesies lebah di wilayah Eropa akan mengalami kehilangan habiatat.(foto: jason-leung_unsplash)

Lebah adalah serangga yang termasuk dalam genus Bombus. Ada lebih dari 250 spesies yang diketahui di seluruh dunia. Seperti serangga lainnya, mereka memainkan peran penting dalam penyerbukan tanaman liar dan tanaman pertanian, terutama di belahan bumi utara. Di sanalah mereka paling banyak ditemukan. Namun, lebah secara keseluruhan telah menghadapi krisis populasi di Eropa, Amerika Utara, dan Asia selama beberapa dekade. Ada beberapa alasan untuk penurunan ini, termasuk hilangnya habitat, perubahan iklim, dan penyebaran penyakit berbahaya.

Dalam studi terbaru ini, yang diterbitkan pada Rabu (13/9) di jurnal Nature, para ilmuwan di Belgia telah mencoba mencari tahu masa depan lebah di Eropa. Gizmodo menyebut, untuk menghasilkan proyeksi mereka, mereka menganalisis data yang relevan sejak 1900 yang dikumpulkan di sebagian besar Eropa. Mereka kemudian membuat model yang mencoba memperhitungkan berbagai skenario tentang bagaimana iklim dan penggunaan lahan yang dapat ditinggali lebah akan berubah dari waktu ke waktu.

Dalam skenario yang paling mungkin terjadi, tim peneliti memperkirakan bahwa banyak lebah Eropa yang saat ini diklasifikasikan sebagai spesies least concern, spesies yang tidak menghadapi ancaman dalam waktu dekat, akan mulai menurun dalam beberapa dekade.

BACA JUGA:

Robo-Honeycomb, Teknologi Baru Mempelajari Lebah

“Antara 38 persen dan 76 persen dari spesies ini diproyeksikan akan kehilangan setidaknya 30 persen dari lahan yang dapat dihuni pada 2061 hingga 2080. Jumlah itu dibandingkan dengan kisaran saat ini dari 2000 hingga 2014,” ungkap laporan itu.

Lebah yang tinggal di bagian kutub utara dan daerah pegunungan yang tinggi berada dalam masalah yang lebih besar lagi. Spesies ini diproyeksikan akan kehilangan setidaknya 90 persen habitat mereka pada saat itu. Hal itu menempatkan mereka di jalur cepat menuju kepunahan.

lebah
Para ilmuwan di Belgia telah mencoba mencari tahu masa depan lebah di Eropa.(foto: boris-smokrovic_unsplash)

Banyak dari spesies ini mungkin dapat pulih di beberapa bagian Skandinavia. Itu menjadi kemungkinan yang ditemukan para peneliti di semua skenario yang mereka buat. Namun, masa depan itu juga tidak menjamin. Mereka memperingatkan karena ada kemungkinan bahaya lain terhadap lingkungan lebah yang tidak diperhitungkan. Masih banyak yang perlu diteliti untuk memahami cara-cara spesifik perubahan iklim dan hilangnya habitat akan memengaruhi populasi lebah.

"Hasil penelitian kami menggarisbawahi peran penting kebijakan mitigasi perubahan global sebagai pengungkit yang efektif untuk melindungi lebah dari transformasi biosfer akibat ulah manusia," ujat para ilmuan.(Aqb)

BACA JUGA:

Pasangan di Inggris Terkejut Rumahnya Dipenuhi Sarang Lebah

#Sains
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun
Penilaian dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menemukan 96 persen sistem terumbu karang air dangkal kritis dan dapat lenyap pada 2075.
Dwi Astarini - Jumat, 23 Oktober 2026
 Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun
Lifestyle
NASA Rencanakan Misi VIPER pada 2027, Cari Air di Bulan
Wahana penjelajah NASA, Volatiles Investigating Polar Exploration Rover (VIPER), dijadwalkan untuk memulai misi ke wilayah kutub selatan bulan pada 2027.
Dwi Astarini - Kamis, 22 Oktober 2026
NASA Rencanakan Misi VIPER pada 2027, Cari Air di Bulan
Lifestyle
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Jika berhasil, ini akan menjadi kali pertama sampel dari Mars atau bulan-bulannya dikembalikan untuk dianalisis di laboratorium di Bumi.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Bagikan