Ketua MUI: Radikalisme dan Kesenjangan Sosial Jadi Masalah Serius Bangsa

Selasa, 10 Oktober 2017 - Zaimul Haq Elfan Habib

MerahPutih.com - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Ma'ruf Amin menilai ada dua tantangan serius yang akan dihadapi bangsa Indonesia kedepannya. Dia mengatakan masalah tersebut harus diselesaikan semua pihak dan tidak boleh mengandalkan instansi tertentu, apa itu radikalisme dan kesenjangan sosial.

"Kalau dulu kita tantangannya perang, penjajahan. Menurut saya ada dua tantangan saat ini, pertama adalah radikalisme dan intoleran. Itu akan menjadi tantangan kita ke depan dan kedua adalah kesenjangan sosial," ujar Ma'ruf dalam diskusi 'Fikih Tawassuth dan Tasamuh dalam Membangun Perdamaian dan Indonesia Bebas Korupsi di gedung PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (9/10).

Ma'ruf menjelaskan, radikalisme merupakan cara berpikir yang kontekstual yang melahirkan intoleran.

"Karena dari cara berpikir tekstual (rigid) melahirkan siap intoleran. Dia tidak menerima cara berpikir orang lain. Yang tidak sama dengan dia dianggap sesat menyimpang. Golongan ini disebut golongan takfiiri," kata dia.

Karenanya, kata Ma'ruf, langkah yang harus dilakukan adalah kontra radikalimlsme dan program deradikalisasi.

"Langkah yang harus kita lakukan yaitu kontra radikalisme dan deradikalisasi.
Tantangan kita bukan jihad fii sabilillah, tetapi penanggulangan radikalisme," tutur dia.

Permasalahan selanjutnya, ujar Kiai Ma'ruf adalah kesenjangan sosial. Persoalan ini menurutnya merupakan kelanjutan dari kebijakan masa lalu yang tidak tepat sehingga melahirkan konglomerasi.

"Kesenjangan sosial itu akibat kebijakan masa lalu yang tidak tepat. Masa lalu itu yang dibangun ekonominya di atas melahirkan konglomerasi. Jadi di atas makin kuat, yang di bawah semakin hancur, warung-warung umat pada roboh. Jadi kesenjangan sosial terjadi antara orang yang kuat dan orang yang lemah, antara yang kaya dan miskin.

Kalau ini tidak diselesaikan akan terjadi konflik sosial. Sumbernya apa, sumbernya ekonomi yang tidak berkeadilan," jelasnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia itu pun mendorong solusi kesenjangan sosial dalam hal perbaikan ekonomi yakni Arus Baru Ekonomi Indonesia.

"Karena itu yang harus diselesiakn kesenjangan sosial itu adalah perbaikan ekomomi. Makanya saya mengusung isu Arus Baru Ekonomi Indonesia. Arus baru yang pembangunanya pemberdayaan ekonomo umat, kenapa? Karena bagian terbesar dari negara ini adalah umat dan bagian terbesar dari umat adalah NU," ucap dia.

"Jadi pemberdayaan warga NU adalah niscaya, harus, karena dia adalah pemberdayaan umat, karena dia bagian terbesar bangsa ini. Karena itu pemberdayan ekonomi umat ini menjadi isu yang dibawah di Munas.
Saya ingin menjadikan pemberdayaan ekonomi umat itu pesantren," tuntasnya. (Fdi)

Baca juga berita terkait radikalisme dalam artikel berikut: Sejarah Berkembangnya Radikalisme di Indonesia

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan