Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Kemendag Dorong Pengusaha Lokal Ekspor Kayu Ringan di Pasar Eropa

Andika Pratama - Minggu, 30 Mei 2021

MerahPutih.com - Indonesian Light Wood Association (ILWA) atau Asosiasi Kayu Ringan mencatat kebutuhan kayu dunia mencapai 2,1 triliun USD atau setara Rp 29,4 ribu triliun per tahun. Hal itu membuat Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah mendorong ekspor kayu ringan di pasar Eropa.

Koordinator Wilayah Amerika dan Eropa Direktorat Jenderal Kerjasama Pengembangan Ekspor Kemendag, Singgih Sugiyanto mengatakan, pasar Eropa dinilai memiliki potensi besar untuk dijadikan pangsa pasar baru industri kayu ringan. Namun selama ini belum terlalu digarap serius.

Baca Juga

Ekspor Komoditas Naik,Cadangan Devisa Indonesia Melejit

"Ekspor kayu ringan masih didominasi ke Tiongkok sebesar 95 persen dan Taiwan sebesar 5 persen," ucap Singgih saat menghadiri Munaslub ILWA di Hotel Best Western, Solo, Sabtu (29/5).

Dikatakannya, untuk masuk ke pasar eropa pihaknya telah bekerjasama dengan Import Promotion Desk (IPD) Jerman dan Swiss Import Promotion Organization (SIPPO) untuk lebih meningkatkan inovasi kayu ringan. Dengan kerjasama itu bisa meningkatkan produk agar laku di pasar Eropa.

"Di Eropa produk masuk perlu lulus SVLK (Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu). Kita akan patuhi syaratnya agar bisa masuk pasar Eropa," katanya.

Ketua ILWA, Setyo Wisnu Broto terpilih secara aklamasi sebagai ketua Indonesian Light Wood Association (ILWA) atau asosiasi kayu ringan, Sabtu (29/5). (MP/Ismail)

Singgih mengaku masa pandemi COVID-19 berpengaruh pada kegiatan ekspor kayu ringan. Banyak permintaan dari buyer luar negeri. Namun, industri dalam negeri masih tertidur lantaran pandemi.

"Setahun pandemi ini pabrikan kayu ringan sudah mulai adaptasi. Kami berharap sudah bisa memenuhi permintaan buyer luar negeri," kata dia.

Ketua ILWA, Setyo Wisnu Broto mengatakan, pasar kayu dunia akan tumbuh terus seiring kenaikan jumlah populasi manusia. Kayu ringan seperti Albasia atau Sengon dan Jabon sebagai bahan baku building material dan furniture sangat diminati di pasar internasional.

"Kebutuhannya kayu ringan akan semakin meningkat. Pada 2019, kebutuhan kayu dunia mencapai 2,1 triliun USD. Setara Rp 29,4 ribu triliun per tahun. Atau lebih dari 10 kali nilai APBN Indonesia saat ini," kata Wisnu.

Ia menambahkan ILWA menggandeng dalam ketersediaan bahan baku menggandeng Fairventures NGO atau LSM dari Jerman yang sudah menanam 1 juta pohon Sengon di Kalimantan. Dengan cara itu industri kayu ringan dari hulu dan hilir berjalan lancar. (Ismail/Jawa Tengah)

Baca Juga

Permintaan Komoditas Tambang Bikin Ekspor Indonesia Melonjak

Baca Artikel Asli