MerahPutih.com - Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul melakukan pertemuan beberapa waktu lalu.Kedua negara sepakat untuk mencanangkan target nilai perdagangan bilateral senilai USD 20 miliar pada 2030, yang dituangkan dalam Peta Jalan Kemitraan Strategis Indonesia-Thailand 2026-2030.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai industri otomotif harus mampu memanfaatkan peluang ekspor utamanya produk antara (intermediate product) dalam kerja sama perdagangan Indonesia-Thailand.
Terkait ekspor yang lumayan cukup banyak untuk bisa masuk ke pasar Thailand itu termasuk di antaranya adalah produk-produk otomotif, bukan hanya produk jadi karena Thailand juga kan sebetulnya powerhouse industri otomotif di ASEAN paling besar,
kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Jumat (7/8).
Ia mengatakan, Indonesia bisa mengisi yang Thailand tidak produksi atau yang kurang produksinya, bukan hanya produk jadi, tapi juga produk antara.
Karena kita tahu bahwa perdagangan barang ini kan tidak melulu atau bahkan mungkin banyak bukan produk jadi tapi juga produk antara,
ujarnya.
Khusus untuk industri otomotif, Faisal menilai baik produk-produk antara maupun produk jadi bisa dikembangkan hingga ke kendaraan listrik (EV). Menurutnya, Indonesia sangat potensial sebagai penyedia baterai EV di kawasan Asia Tenggara.
Kita punya kelebihan sekarang EV, termasuk di antaranya baterai. Mestinya kita bisa mengisi ekspor baterai untuk keperluan pembangunan industri EV di Thailand. Selain itu, yang lain-lain kita punya kelebihan dari sisi komoditas tambang yang sekarang kita menghilirisasikan,
ujar Faisal.
Selain itu, ia mengatakan berbagai produk industri hilir pertambangan juga bisa menjadi andalan Indonesia untuk diekspor ke Negeri Gajah Putih. Terlebih, Thailand juga banyak melakukan impor besi dan baja, tembaga dan turunannya, hingga aluminium dan turunannya dari Indonesia.
Nah, itu yang bisa didorong semestinya karena kita sedang mengembangkan industri di situ, dan mestinya berorientasi ekspor. Lainnya juga termasuk dalam elektronika dan mesin-mesin elektrik yang kita banyak produksi untuk didorong masuk ke pasar Thailand, bukan hanya produk jadi tapi juga produk antara,
kata Faisal.
Saat ini, total nilai perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD 17,67 miliar pada 2025. Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga mencatat bahwa akumulasi perdagangan sepanjang semester I/2026 telah menembus USD 9,80 miliar dolar AS.

