Peran keluarga sangat penting untuk melindungi anak-anak dari berbagai pengaruh negatif, terutama propaganda radikalisme dan terorisme.
"Sebenarnya saya sudah sering bicara tentang ini ke mana-mana. Tapi itu bermula dari pola asuh yang menjadi sumber agar anak tidak berpikir radikal, juga kognitif atau kemampuan anak menyerap ilmu pengetahuan. Itulah yang menjadi cikal bakal radikalisme di kalangan anak-anak," ujar psikolog Tika Bisono di Jakarta, Jumat (24/3).
Rumah (keluarga) adalah faktor utama untuk mencegah dan melindungi anak dari 'virus' radikalisme, serta paham negatif lainnya. Menurutnya, langkah paling baik adalah pola asuh demokrtasi, dimana anak diberi kebebasan untuk mengemukakan ide dan pendapatnya. Sayang, kalau dihitung tidak banyak keluarga yang menerapkan pola demokratis itu.
Selama ini banyak orang tua gagal dalam proses mendidik anak. Hal itu karena orang tua itu hasil dari kegagalan pendidikan dari orang tua sebelumnya. Intinya proses memilih itu harus berdasarkan atas azas-azas misalnya knowledge (pengetahuan), demokratis, saling menghargai, saling menerima, ikhlas, bekerja sama, dan lain-lain. Kalau ada orang tua gagal dalam pola asuh yang menerapkan azas-azas ini, tentunya akan keterusan ke anaknya.
Setelah itu, pengaruh anak sangat besar datang dari lingkungannya, juga nilai-nilai dari luar. Namun dari faktor-faktor itu yang akhirnya membuat anak bisa memilih dengan baik itu adalah dari rumah. Bila dari sejak dari rumah, anak sudah mendapatkan kekebalan, tentu akan lebih mudah meredam pengaruh lingkungan dan dari luar.
Terkait radikalisasi anak-anak melalui dunia maya, Tika berpendapat bahwa orang tua harus terjun ke filosofi gadget. Artinya orang tua tidak boleh gaptek (gagap teknologi), tapi orang tua juga harus paham fitur-figur, gadget, internet, serta konten-kontennya. Dari paham itu, orang tua bisa tahu dampak dari fitur dan internet tersebut karena anak tidak mungkin belajar dampak dari gadget karena dia hanya pengguna.
Tika menilai gadget, internet, dan media sosial yang tengah populer seiring perkembangan teknologi komunikasi yang makin canggih, bisa menjadi celah bagi pengaruh luar masuk ke pikiran penggunanya sampai ke hati nuraninya.
Di samping itu, lanjut Tika, kebijakan negara dan pemerintah juga sangat besar. Untuk yang satu ini, Tika menilai harus ada penanganan khusus buat anak-anak yang deportasi itu.
"Harus ada pendampingan psychosocial untuk mengembalikan cara pandang agar mereka bisa kembali berpikir rasional," jelas Tika.
Beberapa waktu lalu, 75 WNI dideportasi dari Turki karena akan bergabung dengan ISIS. Sebagian dari mereka adalah anak-anak. Mereka kini berada dalam penanganan Departemen Sosial dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk dilakukan deradikalisasi.