Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Kelas Menengah Masih Tahan Diri Buat Keluarkan Duit

Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 04 Mei 2021

MerahPutih.com - Domestik ekonomi sampai saat ini membantu Indonesia bertahan di tengah pandemi COVID-19. Data menunjukkan porsi ekspor impor terhadap PDB rendah.

"Jadi kalau kita bisa menghidupkan ekonomi domestik, akan cukup survive melewati masa pandemi ini,” kata Ekonom senior CORE Indonesia Hendri Saparani saat diskusi daring, Selasa (4/5).

Baca Juga:

Pandemi COVID-19 Bikin Tabungan Di Atas Rp5 Miliar Sempat Melonjak

Namun yang menjadi kendala, lanjut dia, seberapa besar pengaruh insentif-insentif yang diberikan pemerintah untuk menggerakkan domestik ekonomi. Saat ini, mobilitas orang sudah terjadi tetapi tidak diikuti oleh konsumsi rumah tangga yang masih jauh di bawah kondisi pra-pandemi.

"Indeks penjualan riil masih tajam negatifnya, artinya konsumsi rumah tangga belum mendorong penjualan ritel atau produk yang diminati masyarakat," ujarnya.

Hal tersebut, lanjut ia, karena kelas menengah atas yang 82 persen berkontribusi terhadap konsumsi rumah tangga belum banyak melakukan aktivitas ekonomi.

Sedangkan, masyarakat golongan ke bawah masih sangat bergantung dengan berbagai program bantuan sosial yang diberikan pemerintah. Kemudian sebanyak 2,9 juta orang kehilangan pekerjaan saat pandemi sehingga mereka tidak punya tambahan pendapatan untuk berbelanja.

“Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia karena 56 persen dari ekonomi kita adalah konsumsi. Jadi bagaimana kita bisa menggerakkan konsumsi kembali,” katanya.

Pengunjung mal. (Foto: Antara)
Pengunjung mal. (Foto: Antara)

Hendri Saparani mengatakan, APBN sebagai domestik ekonomi, bisa menjadi kunci penyangga pertumbuhan ekonomi bila realisasinya lebih cepat dan didesain dengan tepat.

Selain itu, diperlukan sejumlah terobosan kebijakan agar pertumbuhan ekonomi di kuartal II hingga IV bisa di atas 5 persen.

“Yang digelontorkan pemerintah (dana PEN) tidak sedikit, tetapi tidak diintegrasikan sehingga multiplier effectnya menjadi terbatas. Kalau lakukan beberapa terobosan kita akan mencapai di atas 5 persen seperti yang diharapkan pemerintah," ujarnya dikutip Antara. (*)

Baca Juga:

99,9 Simpanan di Bank Dijamin LPS

Baca Artikel Asli