MerahPutih.com - Serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026 oleh AS dan Israel terhadap sejumlah target di Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan terhadap sejumlah target, membuat kerugian besar di pihak Amerika Serikat. Setelah serangan senjata dirasakan tidak memberikan pengaruh, AS memulai dengan serangan ekonomi.
Teranyar, serangan Iran dilaporkan menimbulkan kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap fasilitas intelijen dan peralatan pengawasan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah.
Dilansir NBC News dengan mengutip sejumlah sumber tingkat kerusakan fasilitas intelijen itu lebih parah dibandingkan kerusakan yang pernah dialami badan intelijen AS sebelumnya.
NBC News melaporkan bahwa biaya untuk memulihkan fasilitas dan peralatan tersebut diperkirakan mencapai miliaran dolar AS.
Baca juga:
China Tolak Terlibat Dalam Perang Ekonomi ke Iran, AS Berikan Batas Waktu ke Berbagai Negara
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi mengatakan dia bersama Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir telah menggelar perundingan yang produktif dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian terkait penyelesaian konflik antara Teheran dan Washington.
Pembahasan kami berfokus pada konflik Iran-AS, ketegangan di Timur Tengah dan langkah ke depan, serta langkah-langkah yang diperlukan oleh kedua pihak untuk menghidupkan kembali Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad, yang pada akhirnya akan mengarah pada penyelesaian konflik secara menyeluruh,
katanya.
Naqvi mengatakan Presiden Iran menyampaikan kekhawatiran pemerintahannya dalam pertemuan tersebut.
Menurut Naqvi, Pakistan berharap kemajuan signifikan yang dicapai dalam pembicaraan tersebut dapat membuka jalan bagi kemajuan lebih lanjut dan perdamaian yang langgeng di kawasan.