MerahPutih.com - Platform media sosial legendaris Friendster yang sempat berjaya di awal 2000-an kini kembali hadir setelah lama menghentikan layanannya. Kali ini, platform tersebut diluncurkan ulang dan sudah tersedia untuk pengguna iPhone.
Mengutip laporan dari The Register, dalam sebuah blog pada Senin (27/4), programmer asal Philadelphia, Mike Carson, mengungkap bahwa ia telah membeli domain Friendster sekaligus mengamankan hak merek dagangnya sejak tahun lalu. Kini, ia resmi merilis aplikasi Friendster versi iOS.
Sebelumnya, setelah lama tidak aktif, situs Friendster sempat muncul kembali pada Oktober 2023, namun hanya menampilkan iklan pop-up. Kini, platform tersebut mendapatkan “kehidupan kedua” berkat langkah Carson.
Baca juga:
Larangan Medsos di Australia, Meta Mulai Keluarkan Anak-Anak dari Instagram dan Facebook
Mengutip Medium, Carson awalnya tertarik membeli domain Friendster.com dan mulai menelusuri pemiliknya. Dalam proses tersebut, ia menemukan bahwa pemilik domain pernah berkomunikasi dengannya melalui email. Saat dihubungi, pemilik tersebut mengaku membeli domain itu seharga USD 8.000 atau sekitar Rp138 jutaan.
“Dia memberi tahu saya, dia membelinya seharga USD 8.000 dan sekarang menghasilkan pendapatan iklan dari lalu lintas yang ada. Dia membelinya di gname.com, sebuah situs yang menyelenggarakan lelang nama domain kedaluwarsa di mana Anda dapat membeli domain pra-rilis dari berbagai registrar Tiongkok/Asia,” kata Mike.
Carson kemudian melakukan negosiasi dan berhasil mengakuisisi domain tersebut dengan nilai tukar berupa Bitcoin senilai USD 20.000 serta tambahan satu domain lain yang menghasilkan pendapatan iklan tahunan sekitar USD 9.000. Secara keseluruhan, nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai USD 30.000 atau sekitar Rp 521 juta.
Ia juga mengetahui bahwa hak merek dagang Friendster akan segera kedaluwarsa. Setelah melalui proses hukum yang cukup panjang bersama pengacara, Carson akhirnya resmi memperoleh hak tersebut pada 13 Mei 2025.
Baca juga:
Dalam pengembangannya, Carson belum memprioritaskan monetisasi platform. Ia berharap Friendster dapat terlebih dahulu menutup biaya operasional, meski opsi fitur premium berbayar tetap terbuka di masa depan.
Friendster versi terbaru ini mengusung dua konsep utama. Pertama, friend of a friend, yang memungkinkan pengguna melihat jaringan pertemanan lebih luas sekaligus mengirim pesan.
Kedua, weakening of connections, yakni fitur yang membuat hubungan antar pengguna akan melemah jika tidak ada interaksi fisik dalam jangka waktu tertentu.
Dengan pendekatan tersebut, Friendster mencoba kembali dengan wajah baru—menggabungkan unsur nostalgia sekaligus menawarkan cara berbeda dalam membangun relasi digital, di tengah dominasi media sosial berbasis algoritma saat ini. (Far)