Merahputih.com - Legenda terbesar AC Milan dan tim nasional Italia, Franco Baresi, tutup usia pada umur 66 tahun. Baresi menghabiskan 20 tahun karier profesionalnya hanya untuk berseragam Rossoneri.
Enam gelar Serie A, tiga trofi Liga Champions (European Cup) serta menjadi bagian penting saat Italia menjuarai Piala Dunia 1982.
Baca juga:
Penghormatan untuk Franco Baresi: Sang Rival Abadi Ikut Berduka
Untuk mengenang warisannya, Merahputih.com merangkum pengakuan dan penghormatan dari para pelatih, rekan setim, hingga lawan yang pernah merasakan langsung kehebatannya di lapangan dari berbagai sumber.
Pengakuan Para Rival: Dari Romario Hingga Maradona
Kehebatan Baresi tak pernah diragukan oleh penyerang paling menakutkan di planet ini.
-
Romario (Striker Legendaris Brasil)
Dia adalah lawan paling tangguh yang pernah saya hadapi. Saya tidak tahu apakah dia yang terbaik secara mutlak, tapi yang jelas dia yang paling sulit dilewati,
Catatan: Pada final Piala Dunia 1994, Baresi yang berusia 34 tahun tampil luar biasa mengunci Romario selama 120 menit, padahal ia baru saja menjalani operasi meniskus 24 hari sebelumnya.
-
Diego Maradona (Legenda Argentina)
Gentile harus memukuli saya untuk menghentikan pergerakan saya. Tapi Baresi? Dia merebut bola tepat di antara kedua kaki saya tanpa menyentuh badan saya sama sekali. Setelah pertandingan di San Siro, saya meminta jerseynya dan memakainya di San Paolo sebagai bentuk penghormatan tertinggi,
Kunci Sukses AC Milan Era Emas
Di mata para juru taktik dan kawan seangkatan, Baresi bukan sekadar pemotong serangan lawan, melainkan otak permainan.
-
Arrigo Sacchi (Pelatih Legendaris AC Milan)
Franco adalah teladan bagi semua orang. Dia pria serius yang selalu memberikan 100 persen. Pemain besar adalah mereka yang bermain untuk tim, persis seperti yang dilakukan Baresi. Kalau tidak salah, dia bahkan pernah bermain di laga derby dengan kondisi tangan patah,
-
Ruud Gullit (Rekan Setim di AC Milan)
Sebagai bek, dia bisa melakukan segalanya. Sering kali dia sudah tahu apa yang akan dilakukan penyerang lawan bahkan sebelum si penyerang itu menyadarinya sendiri. Bagaimana cara melewati pemain seperti itu?,
-
Ronald Koeman & Marcel Desailly
Koeman dan Desailly sepakat bahwa Baresi adalah libero murni terakhir yang memiliki teknik luar biasa. Ia selalu tahu ke mana arah bola akan bergulir dan sangat berbahaya saat membantu serangan.
Pemimpin Sejati di Mata Generasi Penerus

Bagi rekan-rekan dekatnya, kepemimpinan Baresi terpancar dari tindakan nyata di lapangan, bukan sekadar kata-kata.
-
Paolo Maldini (Mantan Rekan Duet & Kapten AC Milan)
Bagaimana kami bisa melangkah tanpamu, Kapten? Engkau mengajarkanku cara bertarung hingga hembusan napas terakhir dan arti sejati mencintai seragam ini. Engkau melindungiku saat aku masih anak-anak, membimbingku saat muda, dan menginspirasiku ketika dewasa. Terima kasih atas segalanya, Kapten,
-
Marco van Basten
Dia adalah Johan Cruyff di lini pertahanan. Anggun, tenang, namun berubah menjadi prajurit yang haus kemenangan begitu menginjak rumput lapangan,
-
Jamie Carragher (Pundit & Eks Bek Liverpool)
Jika Anda bertanya siapa pemain favorit saya sepanjang masa, saya akan menjawab Franco Baresi. Tingkat konsentrasi dan caranya mengatur organisasi pertahanan adalah yang terbaik di era modern,
Baca juga:
Rahasia Permainan Franco Baresi
Secara fisik, Baresi mengaku tidak memiliki postur raksasa layaknya bek tengah pada umumnya. Namun, kelemahan itu ia tutupi dengan kecerdasan taktik yang tiada tanding.
Postur saya tidak terlalu tinggi untuk duel man-to-man. Saya menutupinya dengan bermain agresif, membaca pergerakan lawan lebih cepat, dan bergerak di ruang sempit dengan kecepatan maksimum. Saat Nils Liedholm menerapkan sistem bertahan sejajar, saya bertransisi dari libero murni menjadi bek tengah modern yang aktif membangun serangan,
ungkap Baresi.
Selamat jalan, Sang Kapten Abadi. Warisan dan kepemimpinanmu akan terus menjadi tolok ukur tertinggi bagi seni bertahan dalam sepak bola.
