MerahPutih.com - Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menilai pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya terkait fenomena 'inflasi pengamat' memiliki dasar yang relevan.
Menurut dia, tidak sedikit pihak yang mengklaim sebagai pengamat atau kritikus pemerintah, tetapi justru menyampaikan narasi yang bersifat provokatif dan tidak konstruktif.
“Ada pengamat yang mengeklaim sebagai pengkritik, tetapi yang disampaikan lebih merupakan propaganda hitam, kebohongan, dan kebencian,” kata Habiburokhman kepada wartawan, Senin (13/4).
Politikus Partai Gerindra itu mengatakan, sebagian kritik yang dilontarkan oleh pihak-pihak tertentu diduga tidak semata bertujuan memberikan masukan kepada pemerintah, melainkan mengandung kepentingan politik tertentu. Bahkan, menurut dia, tidak menutup kemungkinan ada pihak yang menjadikan kritik sebagai alat untuk merebut kekuasaan.
“Bisa saja motif mereka hanyalah merebut kekuasaan baik dengan jalur konstitusional maupun dengan jalur inkonstitusional,” ujarnya.
Baca juga:
Negara Mau Hemat Energi? Pengamat Sarankan Pemerintah Perbaiki Bus dan Kereta, Jangan Cuma Suruh WFH
Meski demikian, Habiburokhman menegaskan bahwa pemerintah tetap terbuka terhadap kritik. Ia menyebut banyak kritik yang disampaikan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah ditindaklanjuti selama substansi yang disampaikan bersifat membangun.
Namun, ia menilai tidak semua kritik layak dianggap positif. Menurutnya, terdapat pula kritik yang justru merusak iklim demokrasi karena bersifat toxic atau tidak membangun.
“Namun demikian tidak semua kritik bagus, ada juga kritik yang tidak membangun dan bahkan merusak alias toxic,” kata dia.
Habiburokhman menekankan bahwa publik tidak seharusnya menggeneralisasi seluruh kritik sebagai sesuatu yang baik ataupun buruk. Menurutnya, kritik harus dinilai berdasarkan substansi dan tujuannya.
“Kritikan yang bagus kita tindaklanjuti, sementara kritikan yang tidak bagus kita sikapi dengan edukasi kepada rakyat agar jangan sampai justru menjadi racun bagi demokrasi,” ucapnya.
Baca juga:
Geger Isu Makar, Firman Soebagyo Semprot Pengamat Senior yang Coba Ajak Gulingkan Prabowo Subianto
Dalam kesempatan itu, Habiburokhman juga menyinggung kritik yang disampaikan oleh pendiri lembaga survei Saiful Mujani terhadap Presiden Prabowo. Ia mempertanyakan apakah kritik tersebut murni demi perbaikan pemerintahan atau merupakan bagian dari agenda politik tertentu.
“Kita tahu bahwa Saiful Mujani adalah elite politik kaya raya yang selama ini berseberangan dengan Presiden Prabowo, termasuk pada Pilpres lalu. Apakah kritik Saiful Mujani murni disebarkan untuk perbaikan, atau hal tersebut hanya operasi politik partisan,” katanya.
Habiburokhman menegaskan bahwa Presiden Prabowo memiliki mandat lima tahun untuk menjalankan pemerintahan dan memenuhi janji politiknya. Menurut dia, rakyat dapat memberikan evaluasi terhadap kinerja pemerintah pada Pemilu 2029.
“Jika kinerja Pak Prabowo tidak memuaskan rakyat bisa hentikan mandat, namun jika dianggap memuaskan rakyat bisa lanjutkan memberi mandat untuk 5 tahun berikutnya,” ujar dia.
Baca juga:
Seskab Teddy Kenalkan Istilah Inflasi Pengamat, Banyak Bicara Tanpa Data Tak Sesuai Bidang
Sebelumnya, Seskab Teddy menyebut adanya fenomena 'inflasi pengamat' di tengah maraknya opini publik dari berbagai kalangan.
Ia menilai, jumlah pengamat saat ini meningkat pesat, tapi tidak semuanya memiliki latar belakang maupun data yang relevan. Menurut Teddy, banyak pengamat menyampaikan analisis yang tidak berbasis fakta.
“Kemudian yang ketiga, saya mau jawab juga. Sekarang ini, ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi, banyak sekali pengamat. Ada pengamat beras, tapi dia background-nya bukan di situ. Ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri. Dan pengamat-pengamat itu, datanya tidak sesuai fakta. Datanya keliru,” ujar Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (10/4).
Teddy menyebut, sebagian pengamat telah lama berupaya membentuk opini publik, bahkan sebelum Prabowo Subianto menjabat Presiden.
“Dari sebagian besar, pengamat-pengamat itu adalah pengamat-pengamat yang sejak dulu sudah berusaha memengaruhi warga, membentuk opini publik. Bahkan sejak Pak Prabowo belum menjadi presiden. Jadi pengamat-pengamat itu sudah memengaruhi warga,” kata Teddy. (Pon)