Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

BPIP Geram Isu Rasial Merebak di Tengah Masyarakat

Andika Pratama - Senin, 01 Februari 2021

MerahPutih.com - Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) geram dengan ramainya polemik isu SARA yang sekarang ini muncul di tengah-tengah masyarakat.

Staf Khusus Ketua BPIP, Antonius Benny Susetyo menegaskan, bahwa setiap kali berbicara dan beropini di ruang publik atau di media sosial (medsos) sangat tidak diperbolehkan untuk menyinggung SARA, etnis, ras.

Baca Juga

Abu Janda Diperiksa Bareskrim soal Kasus Rasisme dan Cuitan 'Islam Arogan' Hari Ini

"Apalagi (dengan menggunakan) ujaran hewan-hewan ini dan itu, jangan itu,” ujar Romo Benny panggilan akrabnya kepada awak media, Senin (1/2).

Benny menyampaikan, penguasaan informasi itu penting, karena mereka akan menguasai dunia. Akan tetapi penguasaan terhadap informasi harus dimanfaatkan dengan sangat baik dan diarahkan untuk pembangunan nasional, pembangunan bangsa dan negara.

"Bukan malah dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak produkti dan singung menyingung SARA," tegas dia.

Romo Benny Susetyo (kanan) saat Pertemuan Dialog Kerukunan Umat Beragama Katolik Tingkat Nasional di Denpasar, Minggu (11/10). (Foto: MP/Istimewa)
Romo Benny Susetyo (kanan) saat Pertemuan Dialog Kerukunan Umat Beragama Katolik Tingkat Nasional di Denpasar, Minggu (11/10). (Foto: MP/Istimewa)

Menurutnya, sudah saatnya bangsa Indonesia tidak lagi meributkan hal yang remeh temeh seperti ini dan lelah bergulat dengan isu SARA yang kontra produktif.

Benny mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memikiran kemajuan, dengan bagaimana Indonesia bisa menjadi unggul dengan melakukan hal-hal yang produktif. Serta memikirkan inovasi-inovasi untuk pembangunan bangsa.

Ia menilai, isu SARA tidak akan memicu keributan yang mengarah ke perpecahan jika pengguna medsos bisa bijak dan arif dalam menggunakannya.

"Etika perlu diperhatikan dalam bermedia sosial, etika itu bukan lagi menjadi sesuatu yang diatur atau dipaksakan, melainkan menjadi sebuah kesadaran bersama masyarakat,” tutur Benny mengutip Imanuel Kant.

Benny meminta kepada masyarakat Indonesia untuk menerapkan pendidikan yang mengajarkan cinta tanah air dan bangsa Indonesia, sesuai dengan yang diamanatkan pendiri bangsa yakni Ki Hajar Dewantara.

"Jasmerah, itu kata Bung Karno. Mengapa penting kita tidak meninggalkan sejarah? Agar kita tahu bahwa Bangsa ini terbentuk karena rasa persatuan dan saling menghargai perbedaan satu sama lain, kemajemukan yang kita miliki. Itulah salah satu kunci untuk menuju Indonesia unggul,” pungkas Benny. (Asp)

Baca Juga

Polisi Kerap Salah Tangani Kasus Intoleransi

Baca Artikel Asli