Synchronize Fest 2026: Tiga Hari, Ribuan Cerita, dan Pertemuan Musik Lintas Generasi

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - 1 jam, 48 menit lalu
Synchronize Fest 2026: Tiga Hari, Ribuan Cerita, dan Pertemuan Musik Lintas Generasi

Synchronize Festival sukses digelar selama 3 hari. (foto: dok/Synchronize Fest)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Selama tiga hari, Synchronize Fest 2026 menghadirkan pertemuan lintas genre dan generasi di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta. Dari pesan sosial Efek Rumah Kaca, kolaborasi Perunggu, nostalgia bersama Geisha dan Project Pop, hingga pertunjukan lintas negara Reality Club bersama Phum Viphurit, festival ini memperlihatkan beragam wajah musik Indonesia.

Synchronize Fest 2026 berlangsung dari Jumat (16/10) hingga Minggu (18/10). Seperti tahun-tahun sebelumnya, festival ini menjadi ruang pertemuan bagi ribuan penikmat musik dengan selera, kenangan, dan cerita yang berbeda. Mereka datang untuk menyaksikan musisi favorit, bernostalgia lewat lagu-lagu yang tumbuh bersama mereka, atau menemukan nama baru di antara panggung-panggung yang tersebar di kawasan festival.

Tak berlebihan jika Synchronize Fest kerap disebut sebagai lebarannya para penggemar musik Tanah Air. Pop berdampingan dengan punk, jazz bersua dengan hip-hop, sementara lagu-lagu dari masa lalu kembali menemukan pendengar baru.

Synchronize Fest bukan sekadar agenda tahunan dalam kalender liputan. Ada kebiasaan untuk kembali, berjalan dari satu panggung ke panggung lain, bertemu wajah-wajah lama, dan menemukan kejutan yang tak selalu tercantum dalam jadwal.

Pengalaman festival sering kali justru tersimpan dalam hal-hal kecil: percakapan singkat di tengah kerumunan, lagu yang terdengar dari kejauhan, atau penampilan yang awalnya tak masuk rencana tetapi akhirnya menjadi cerita paling berkesan.

Artikel ini menelusuri kembali tiga hari Synchronize Fest 2026—dari panggung utama hingga sudut-sudut yang menawarkan pengalaman berbeda.

Hari Pertama: Musik, Pesan Sosial, dan Nostalgia

Jumat (16/10) menjadi pembuka Synchronize Fest 2026. Pada edisi ke-11 ini, festival menyambut para pengunjung yang akrab disapa warga-wargi melalui pertunjukan pembuka yang tak hanya mengandalkan musik, tetapi juga membawa pesan sosial.

Efek Rumah Kaca (ERK) mendapat kesempatan membuka rangkaian acara. Alih-alih langsung tampil di panggung utama, mereka memulai pertunjukan secara semiakustik di area depan Forest Stage.

Di tengah kerumunan yang perlahan terbentuk, para Penerka—sebutan bagi penggemar Efek Rumah Kaca—berkumpul menyaksikan penampilan itu. Sebagian besar mengenakan pakaian serba hitam, menciptakan pemandangan khas di antara pengunjung yang mulai memenuhi kawasan festival.

Dua lagu dipilih untuk membuka perjumpaan tersebut, yakni Di Udara dan Mosi Tidak Percaya. Pilihan ini terasa selaras dengan karakter Efek Rumah Kaca, yang selama ini menjadikan musik sebagai ruang untuk menyuarakan kegelisahan dan refleksi terhadap keadaan sekitar.

Suasana semakin kuat dengan kehadiran kolektif seni pertunjukan Jakarta 32°C. Melalui intervensi gerak tubuh, mereka menghadirkan ekspresi artistik yang berjalan beriringan dengan musik. Aksi ini merupakan bagian dari kolaborasi bersama KontraS, sekaligus membawa pesan sosial ke tengah perayaan.

Momen tersebut mengingatkan bahwa pertunjukan musik tak harus berhenti pada hiburan. Di tangan Efek Rumah Kaca, panggung juga menjadi ruang untuk menyampaikan keresahan, mengajak penonton berpikir, dan membuka percakapan yang lebih luas.

Setelah tampil di area depan panggung, Efek Rumah Kaca melanjutkan aksinya di Forest Stage. Mereka membawakan sejumlah lagu yang menjadi bagian penting dari perjalanan bermusik mereka, termasuk Putih, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, hingga Cinta Melulu.

Penampilan itu menambah daftar musisi yang pernah dipercaya menghadirkan pertunjukan pembuka dengan konsep khusus di Synchronize Fest. Sebelumnya, kesempatan serupa pernah diberikan kepada Sal Priadi, Project Pop, dan Idgitaf.

Selepas jeda Magrib, pengunjung kembali menghadapi dilema klasik festival musik: memilih panggung ketika dua penampil favorit tampil pada waktu berdekatan. Di District Stage, Rumahsakit bersiap menghibur pendengarnya, sementara Romantic Echoes tampil di XYZ Stage. Keramaian terlihat di kedua area; para penggemar memenuhi ruang di depan panggung dan menyanyikan lagu-lagu yang mereka kenal.

Dilema serupa muncul ketika Potret, The Jansen, dan Sal Priadi dijadwalkan tampil dalam rentang waktu berdekatan. Inilah salah satu konsekuensi menyenangkan sekaligus merepotkan dari festival dengan banyak panggung: selalu ada pertunjukan yang ingin disaksikan, sementara waktu dan tenaga tetap terbatas.

Perunggu, Punk Sejak Dini, dan Geisha dalam Dua Era

Di antara penampilan hari pertama, Perunggu menghadirkan sajian khusus bertajuk Pertunjukan Dalam Dinamika. Trio yang diperkuat Maulana Ibrahim, Adam Adenan, dan Ildo Hasman itu tampil bersama Paduan Suara Alumni Universitas Indonesia.

Mereka juga mengajak sejumlah musisi bergabung, di antaranya Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca, Alit Djarot dari mpq, Bismo Triastirtoaji dari Satu Per Empat, serta Pandu Priyanto dari FILM.

Kehadiran para kolaborator memberi lapisan baru pada pertunjukan Perunggu. Karakter musik yang berbeda berpadu, sementara paduan suara menambah dimensi yang membedakan sajian ini dari penampilan reguler mereka.

Antusiasme penonton terlihat dari padatnya area Dynamic Stage. Pengunjung memenuhi ruang di depan panggung hingga ke sisi-sisinya untuk menikmati pertunjukan. Kerumunan ini memperlihatkan daya tarik Perunggu di tengah perkembangan musik Indonesia.

Di XYZ Stage, pertunjukan Punk Sejak Dini mempertemukan tiga kelompok punk dari latar generasi berbeda: Sakinah Mawaddah Warahmah, Sukses Lancar Rejeki, dan Sukatani.

Salah satu pemandangan yang mencuri perhatian datang dari vokalis cilik Sakinah Mawaddah Warahmah. Dengan energi meluap, ia bergerak menyusuri area panggung berbentuk melingkar, menghadirkan ekspresi spontan dan penuh semangat. Momen ini memperlihatkan bahwa semangat punk dapat menemukan jalannya melalui berbagai usia dan generasi.

Suasana berbeda hadir di Dynamic Stage lewat Geisha dan pertunjukan A Retrospective Journey. Di hadapan kerumunan penonton, band tersebut mempertemukan dua vokalis dari perjalanan berbeda, Narova “Momo” Morina dan Regina Poetiray.

Lagu-lagu Geisha membawa penonton menelusuri kembali berbagai fase kehidupan. Bagi sebagian pengunjung, lagu-lagu itu mungkin mengingatkan pada masa sekolah, perjalanan pulang, atau periode tertentu yang masih tersimpan dalam ingatan. Ketika lagu lama dinyanyikan bersama, masa lalu dan masa kini seolah bertemu.

Di tengah suasana itu, Roby Geisha menyampaikan, “Selamat pulang kembali, Momo”. Kalimat tersebut menjadi salah satu momen emosional dalam pertunjukan yang mempertemukan kembali Momo dengan rekan-rekannya di Geisha.

Dari Orkes hingga Perayaan 30 Tahun Project Pop

Pertunjukan 4 Sehat 5 Nampol menghadirkan Orkes Nunung CS, Orkes Pensil Alis, Benang Kenur, Feel Koplo, dan Mingse dalam satu rangkaian kolaborasi. Berbagai karakter musik bertemu dalam suasana ringan dan penuh kegembiraan.

Ajakan berjoget dan gelak tawa memberi warna tersendiri bagi hari pertama. Tak semua pengalaman festival harus dibangun melalui momen emosional atau pertunjukan megah; menikmati musik bersama orang banyak pun dapat membuat sebuah malam terasa istimewa.

Menjelang penghujung hari, Project Pop merayakan tiga dekade perjalanan mereka di industri musik Indonesia. Setelah menggelar konser tunggal beberapa bulan sebelumnya, grup tersebut kembali membawa perayaan 30 tahun perjalanan mereka ke panggung Synchronize Fest.

Selama tiga dekade, Project Pop menjadi bagian dari lanskap musik populer Indonesia melalui lagu-lagu yang memadukan humor, keseharian, dan hiburan. Penampilan ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan grup tersebut dan bagaimana mereka menjangkau pendengar dari generasi ke generasi.

Menjelajahi Panggung dan Sudut Festival

Cerita hari pertama tak hanya berpusat pada panggung besar. Marsada Band, Basajan, 510, hingga For Revenge turut meramaikan agenda pertunjukan.

Gigs Stage, yang dikurasi Krapela, menjadi rumah bagi penampil dengan karakter musik beragam. Sunne, Baur, Remuk, Coldskin, dan Det-Plag Lust menghadirkan energi masing-masing, membangun suasana yang lebih intens dibandingkan beberapa panggung lain. Ada kesan a beautiful chaos: musik dengan karakter berbeda saling bersahutan, energi penonton bergerak mengikuti irama, dan setiap penampilan menawarkan pengalaman tersendiri.

Oleng Upuk juga menjadi titik yang menarik pengunjung untuk singgah. Berada di ruas jalan yang ramai dilalui, area ini menawarkan pengalaman berbeda dari panggung utama. Para DJ dan performer bergantian mengisi suasana sejak sore hingga larut malam, bahkan menjelang pagi.

Kurasi LaMunai Records menghadirkan Uda Sjam, Walearic, Kenya, Radio Rumah Oma (RRO), LaMunai Music Service, Danny, Quirk It!, hingga Prontaxan. Pengunjung dapat menikmati musik sambil bergerak mengikuti irama dan merasakan suasana berbeda dari pertunjukan band.

Panggung Getar kembali menjadi titik pertemuan pengunjung. Tahun ini, panggung tersebut berada di bawah kurasi Kobra Musik dengan menghadirkan Clever Moose, Sukses Lancar Rejeki, Orkes Trotoar, OM New Eleng, Santet, serta Orkes Bagong Februari, kelompok musik asal Jatinangor yang dikenal dengan identitas uniknya.

Synchronize Fest 2026 juga memperkenalkan RedWhite Jazz Lounge sebagai ruang baru bagi musik jazz dan aktivitas yang berkaitan dengannya. Area ini dikurasi Indra Lesmana, musisi sekaligus maestro jazz Indonesia. Kehadirannya memberi tempat bagi beragam pendekatan bermusik, termasuk jazz yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan musik Indonesia.

Hari pertama berakhir dengan kesan yang berlapis: pesan sosial Efek Rumah Kaca, kolaborasi Perunggu, nostalgia bersama Geisha, hingga perayaan tiga dekade Project Pop. Di panggung-panggung lebih kecil, energi berbeda turut melengkapi pengalaman festival.

Dari satu sudut ke sudut lain, Synchronize Fest 2026 memperlihatkan keberagaman musik bukan sekadar slogan. Keberagaman itu hadir melalui pertemuan musisi, pendengar, komunitas, dan cerita yang dibawa setiap orang.

Hari Kedua: Nostalgia, Kolaborasi, dan Pertemuan Generasi

Sabtu (17/10), Synchronize Fest 2026 berlanjut dengan suasana yang terasa semakin padat. Setelah hari pertama dipenuhi pertunjukan spesial, pengunjung kembali berdatangan ke Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta.

Sejak gerbang dibuka, keramaian terbentuk di sejumlah area panggung. Sebagian pengunjung datang dengan tujuan yang sudah ditentukan, sementara yang lain membiarkan langkah membawa mereka menuju pertunjukan yang menarik perhatian.

Hari kedua menawarkan banyak alasan untuk bertahan lebih lama: musisi dengan format penampilan khusus, kolaborasi lintas latar, serta pertunjukan yang mengajak penonton mengenang perjalanan musik Indonesia.

Alkateri, unit pop asal Bandung, mendapat kesempatan naik ke Forest Stage setelah sebelumnya tampil di Gigs Stage dalam penyelenggaraan terdahulu. Sekitar pukul 16.00 WIB, mereka menghadirkan penampilan khusus yang melibatkan sejumlah musisi kolaborator. Perpindahan panggung ini menjadi penanda perkembangan perjalanan mereka di skena musik independen Indonesia.

Area Forest Stage ramai oleh pengunjung yang ingin menyaksikan penampilan Alkateri. Di Gigs Stage, Jo Soegono membuka rangkaian pertunjukan dengan musik bossa nova yang menjadi ciri khasnya. Sambutan penonton terasa hangat; pengunjung memenuhi area panggung, mengikuti lagu-lagu yang dibawakan, dan ikut bernyanyi bersama.

Kedua penampilan itu mengingatkan bahwa keseruan festival tak harus menunggu matahari tenggelam. Pada sore hari, sebuah panggung pun dapat menghadirkan pertemuan hangat antara musisi dan pendengarnya.

Dynamic Stage menghadirkan Wali sebagai salah satu penampil pembuka hari kedua. Jika The Changcuters mengisi posisi pembuka panggung utama pada hari pertama, kali ini giliran Wali menyapa pengunjung lewat lagu-lagu populer dengan sentuhan religi, kisah keseharian, dan humor khas mereka.

Meski matahari masih bersinar terang, antusiasme penonton tidak surut. Lagu-lagu yang akrab di telinga membuat suasana cair, mempertemukan pendengar yang mengenal Wali sejak awal karier mereka dengan generasi yang baru menemukan musiknya belakangan.

Di panggung lain, FSTVLST dan Sajama Cut membuka rangkaian pertunjukan di District Stage dan XYZ Stage. Sajama Cut tampil melalui format Deluxe Set, dengan kolaborator Alkateri, Eleanor Whisper, Sunwich, dan Patrivia. Kolaborasi ini mempertemukan berbagai karakter dalam satu pertunjukan.

Drama Musikal Rizky Febian dan Mahalini, serta Tribute Warkop DKI

Salah satu pertunjukan yang menarik perhatian pada hari kedua datang dari Rizky Febian dan Mahalini di Dynamic Stage. Keduanya menghadirkan sajian berbentuk drama musikal tentang pasangan suami istri yang sama-sama sibuk menjalani karier, tetapi tetap berusaha menyediakan waktu untuk putri mereka, Selina.

Pertunjukan itu tak hanya mengandalkan rangkaian lagu, tetapi juga memadukan musik dan penceritaan. Tata panggung menyerupai ruang tamu, sedangkan iringan strings section membangun suasana emosional. Penonton diajak mengikuti cerita yang menghubungkan satu bagian pertunjukan dengan bagian berikutnya, dengan kehidupan keluarga, pekerjaan, dan upaya menjaga kedekatan sebagai latarnya.

Pada waktu berdekatan, Forest Stage membawa penonton kembali ke dunia komedi legendaris Indonesia melalui Tribute to Warkop DKI. GJLS, Duo Bahlul, Orkes Nunung CS, serta Indro Warkop berkumpul untuk mengenang perjalanan kelompok komedi yang menjadi bagian penting budaya populer Indonesia.

Salah satu momen yang menarik perhatian adalah saat mereka membawakan Nyanyian Kode, lagu yang juga lekat dengan perjalanan Warkop DKI. Pertunjukan ini menjadi penghormatan terhadap warisan hiburan lintas generasi. Bagi sebagian penonton, Warkop DKI merupakan bagian dari kenangan masa kecil bersama keluarga; bagi yang lain, karya-karyanya menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah komedi dan musik populer Indonesia.

Indonesian Girl Group dan Emo Revival: Dua Warna di District Stage

Di District Stage, Bernadya, pertunjukan spesial Indonesian Girl Group, dan rangkaian Emo Revival hadir secara berurutan.

Bernadya membawakan lagu-lagu yang dikenal lewat lirik personal dan nuansa emosional. Setelah itu, perhatian beralih pada pertunjukan Indonesian Girl Group yang mempertemukan sejumlah nama dari perjalanan musik pop perempuan Indonesia.

Chibi Chibi, G String, Princesstale, Super Girlies, dan 7 Icons tampil bersama Agatha Pricilla, Febby Rastanty, Ify Alyssa, SIVIA, serta Jebung.

Bagi sebagian pengunjung, nama-nama tersebut mengingatkan pada masa ketika grup vokal perempuan memiliki tempat tersendiri di industri musik Indonesia.

Lagu-lagu yang dahulu terdengar melalui televisi, radio, dan berbagai acara hiburan kembali dinikmati bersama-sama. Pertunjukan ini bukan sekadar mengulang masa lalu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana karya dari periode tertentu dapat terus hidup ketika dipertemukan dengan pendengar dalam konteks berbeda.

Setelah nuansa pop, District Stage beralih ke energi emo melalui Emo Revival. Alone At Last, Friends of Mine, Killed by Butterfly, Killing Me Inside Reunion, Side-B, dan The Side Project tampil dalam rangkaian pertunjukan yang membawa musik emo kembali ke hadapan penonton.

Suasana panggung terasa intens. Musik mengalun dengan energi kuat, sementara mosh pit dan headbanging menjadi bagian dari ekspresi penonton. Bagi mereka yang tumbuh bersama musik emo, pertunjukan ini menjadi perjalanan menuju periode ketika lagu-lagu tersebut menemani berbagai pergulatan personal.

Di Forest Stage, Float tampil melalui pertunjukan spesial 3 Hari Untuk Selamanya. Lagu-lagu yang berkaitan dengan film berjudul sama kembali dimainkan, membawa penonton pada suasana yang mengingatkan mereka pada kisah perjalanan dan hubungan dalam film tersebut.

Momen menarik muncul ketika Adinia Wirasti, pemeran Ambar dalam film 3 Hari Untuk Selamanya, terlihat di tengah kerumunan pengunjung. Kehadirannya menambah lapisan nostalgia, mempertemukan musik, film, dan orang-orang yang pernah terhubung dengan kisahnya.

Kejutan, Comeback, dan Kolaborasi

Hari kedua juga diwarnai sejumlah momen di luar dugaan. Ayu Ting Ting mengajak ayahnya, Ayah Ojak, dan putrinya, Bilqis, naik ke atas panggung. Kehadiran keluarga tersebut memberi sentuhan personal di tengah kemeriahan festival.

Di panggung lain, Pijar kembali hadir melalui pertunjukan comeback yang menjadi kesempatan melepas kerinduan para penggemarnya. Kolaborasi The Paps dan Rub of Rub juga menarik perhatian hingga Forest Stage dipadati penonton.

Synchronize Fest turut menghadirkan Konser Musikal Senja Teduh Pelita, kolaborasi MALIQ & D’Essentials dengan Jakarta Movin. Pertunjukan ini memadukan musik dan teater musikal, menyeimbangkan permainan musik, penghayatan cerita, dan ekspresi panggung.

MALIQ & D’Essentials, yang telah menjalani perjalanan selama 25 tahun, menunjukkan bahwa karya mereka masih dapat dikembangkan melalui pendekatan pertunjukan berbeda. Keterlibatan Jakarta Movin memperkuat dimensi teatrikal; musik tak hanya menjadi pengiring, tetapi juga bagian dari penceritaan.

Hindia turut menjadi sorotan hari kedua. Kehadirannya diumumkan menjelang penyelenggaraan festival dan menjadi penampilan yang dinantikan setelah ia mengambil jeda selama beberapa bulan.

Melalui pertunjukan bertajuk Post Order Set, Hindia tampil bersama Blue Valley Radio dan sejumlah kolaborator. Mereka memanfaatkan tata visual Dynamic Stage serta permainan pencahayaan untuk membangun suasana pertunjukan.

Daya tarik penampilan Hindia tak hanya terletak pada aspek visual. Pesan sosial kembali menjadi bagian penting, meneruskan karakter musikalnya yang kerap mengangkat refleksi personal, keresahan, dan persoalan kehidupan sehari-hari.

Di Gigs Stage, hari kedua diisi Mad Madmen, Masakre, Rantau, Patras, dan Alice. Panggung Getar menghadirkan Deanda Nadira, Orkes Ndugal NDGJ, Tahlilan, OM PMR, Symphoni Polyphonic Gang dalam format Black Sabar, serta OLSAM.

Oleng Upuk kembali menjadi tempat bagi pengunjung yang ingin menikmati musik sambil berjoget hingga larut malam. Aneka Nada Selekta, Jiwa Jiwa, Dangerdope, Wicker Basket, Mantasticmate bersama Mustang melalui Javabass Soundsystem, Bagvs, Dub Container, dan PNNY bergantian mengisi area tersebut.

Pengalaman Synchronize Fest tidak berhenti ketika pertunjukan di panggung utama selesai. Selalu ada sudut lain untuk dijelajahi, musik lain untuk didengarkan, dan suasana berbeda untuk ditemukan.

Menjelang akhir hari kedua, ANTINRML mengambil alih panggung utama. Kolektif ini menghadirkan Jemsii, Naykilla, Tenxi, Suisei, Ryo, Josua Natanael, Dia, Anangga, Naufal Syachreza, Riku, Yung Caters, dan Bboogie.

Kehadiran nama-nama yang tengah berkembang di ranah hipdut dan musik sekitarnya memberi warna pada penutupan hari kedua. Perpaduan karakter musik mereka menggambarkan lanskap musik populer Indonesia yang terus bergerak dan melahirkan bentuk ekspresi baru.

Dengan rangkaian yang mencakup pop, emo, jazz, hip-hop, hingga kolaborasi teatrikal, hari kedua kembali memperlihatkan keberagaman sebagai bagian penting identitas Synchronize Fest.

Hari Ketiga: Menutup Perjalanan dengan Beragam Warna Musik

Minggu (18/10) menjadi hari terakhir Synchronize Fest 2026. Setelah dua hari dipenuhi pertunjukan, kolaborasi, dan pertemuan antargenerasi, pengunjung kembali berkumpul di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, untuk menghabiskan hari penutup bersama musik.

Hari terakhir sebuah festival selalu menghadirkan perasaan berbeda. Masih banyak penampilan yang ingin disaksikan, tetapi rangkaian acara yang dinantikan selama berbulan-bulan akan segera berakhir.

Synchronize Fest menutup perayaannya dengan deretan pertunjukan yang beragam, dari nostalgia pop dan rock hingga kolaborasi lintas negara. Vierratale, J-Rocks, Endank Soekamti, Duo Maia, The Brandals, hingga .Feast menjadi bagian dari nama-nama yang mengisi hari terakhir.

Masing-masing membawa perjalanan musikal dan pendengar yang berbeda, tetapi bertemu di kawasan yang sama. Pengunjung dapat berpindah panggung, menemukan musik yang tumbuh bersama mereka, lalu berkenalan dengan karya yang sebelumnya berada di luar jangkauan pendengaran.

Reality Club dan Phum Viphurit, serta Kolaborasi Indra Lesmana

Salah satu sajian yang menarik perhatian pada hari ketiga adalah kolaborasi Reality Club dengan musisi asal Thailand, Phum Viphurit.

Pertemuan dua nama dengan karakter musikal berbeda membuka ruang bagi pengalaman lintas negara di tengah festival yang merayakan musik Indonesia.

Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa hubungan antarmusisi tak harus dibatasi bahasa maupun latar geografis. Musisi dapat membawa karya masing-masing sekaligus mempertemukan pendekatan bermusik dalam satu pertunjukan.

Di panggung lain, Indra Lesmana menghadirkan Little Things From the Heart bersama Eva Celia, Teza Sumendra, Monita Tahalea, Michael Jakarimilena, dan LLW.

Pertunjukan ini mempertemukan musisi dengan perjalanan dan karakter musikal masing-masing. Kehadiran Indra Lesmana, salah satu sosok penting dalam perjalanan musik Indonesia, memberi konteks pada pertemuan pengalaman musikal dari generasi sebelumnya dengan ekspresi musisi yang berkembang pada masa berikutnya.

Nuansa nostalgia juga hadir melalui The Best of 80’s Indonesian Pop Kreatif. Sejumlah penyanyi, termasuk Ardhito Pramono, Isyana Sarasvati, Teddy Adhitya, Teza Sumendra, Agatha Pricilla, Ify Alyssa, dan Sivia, terlibat dalam pertunjukan yang mengangkat warisan pop kreatif Indonesia era 1980-an.

Musik dari periode tersebut memiliki karakter dan tempat tersendiri dalam sejarah industri musik Indonesia. Aransemen, melodi, dan pendekatan kreatif yang berkembang pada masa itu menjadi bagian dari perjalanan panjang musik populer Tanah Air.

Melalui interpretasi penyanyi dari generasi berbeda, karya-karya tersebut kembali mendapat ruang untuk didengarkan. Pendengar yang lebih tua dapat menemukan kenangan yang melekat pada lagu-lagu itu, sementara generasi lebih muda berkesempatan mengenal kekayaan musikal dari periode yang mungkin belum mereka alami secara langsung.

Di tengah perubahan selera dan perkembangan teknologi, pertunjukan semacam ini mengingatkan bahwa musik tidak selalu berhenti pada zamannya. Sebuah lagu dapat terus hidup ketika dinyanyikan kembali, ditafsirkan, dan dipertemukan dengan pendengar baru.

Rock, Alternatif, dan Eksperimen Musik

Hari ketiga juga memberi ruang bagi musik rock dan alternatif. .Feast membawa warna berbeda melalui materi dari album Membangun & Menghancurkan. Kehadiran mereka melengkapi keberagaman pertunjukan, berdampingan dengan sajian pop, kolaborasi lintas generasi, dan penampilan bernuansa nostalgia.

J-Rocks, The Brandals, dan Endank Soekamti turut memperkaya rangkaian hari terakhir. Ketiganya hadir dengan identitas musikal berbeda, memperlihatkan luasnya spektrum musik di Synchronize Fest.

Di tengah banyaknya pilihan, penonton kembali menghadapi dilema seperti dua hari sebelumnya: menentukan panggung yang akan didatangi dan pertunjukan yang terpaksa dilewatkan. Sebagian memilih musisi yang telah lama mereka ikuti, sementara yang lain mengambil keputusan spontan setelah mendengar musik dari kejauhan atau melihat kerumunan yang menjanjikan pengalaman menarik.

Kebebasan menjelajahi berbagai panggung menjadi bagian penting dari pengalaman festival. Tidak semua cerita harus direncanakan sejak awal; terkadang, pertunjukan yang paling membekas justru datang dari keputusan sederhana untuk mengikuti rasa penasaran.

Salah satu sajian lain yang melengkapi hari ketiga adalah Pop Samping, proyek Dipha Barus bersama Matter Mos, Naykilla, Reality Club, Swellow, dan The Adams.

Kolaborasi ini mempertemukan musisi dengan latar dan pendekatan bermusik berbeda. Musik menjadi ruang untuk bereksperimen dan mencari kemungkinan baru di luar batas identitas masing-masing penampil. Proyek ini juga membuka peluang bagi pendengar untuk menemukan ketertarikan baru terhadap musisi lain yang terlibat dalam pertunjukan yang sama.

Kangen Band, Sisitipsi, Isyana Sarasvati, dan Timur Basudara turut menjadi bagian dari rangkaian penampil hari ketiga. Dari musik yang akrab di telinga pendengar pop hingga sajian dengan pendekatan lebih eksperimental, festival ini membuka ruang bagi setiap orang untuk menemukan pengalaman mereka sendiri.

Tiga Hari, Ribuan Cerita, dan Musik yang Menyatukan

Tiga hari Synchronize Fest 2026 memperlihatkan beragam wajah musik Indonesia: lagu-lagu yang menemani pendengar selama bertahun-tahun, karya yang tumbuh bersama generasi baru, hingga kolaborasi yang mempertemukan musisi dari latar berbeda.

Efek Rumah Kaca membuka perayaan dengan pertunjukan yang membawa pesan sosial. Perunggu menghadirkan kolaborasi yang memperluas dimensi musikal mereka. Geisha mempertemukan kembali masa lalu dan masa kini, sementara Project Pop merayakan tiga dekade perjalanan di industri musik Indonesia.

Hari kedua membawa penonton menyusuri pengalaman lain, dari drama musikal Rizky Febian dan Mahalini hingga penghormatan terhadap Warkop DKI.

Pertunjukan Indonesian Girl Group menghidupkan kembali kenangan pop, Emo Revival membawa energi musik alternatif, sedangkan Hindia dan penampil lain memperlihatkan bagaimana musik menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan dan refleksi kehidupan.

Pada hari ketiga, kolaborasi lintas negara, pertemuan musisi lintas generasi, serta pertunjukan yang merayakan warisan pop kreatif Indonesia melengkapi perjalanan tersebut.

Setiap hari memiliki cerita sendiri, setiap panggung menyimpan pengalaman berbeda, dan setiap pengunjung pulang dengan ingatan yang mungkin tidak sama dengan orang di sebelahnya.

Bagi kami, meliput Synchronize Fest bukan hanya tentang mencatat siapa tampil di panggung mana atau lagu apa yang dibawakan. Ada perjalanan di baliknya: langkah kaki dari satu area ke area lain, upaya mengejar jadwal yang berdekatan, percakapan singkat dengan sesama pengunjung, hingga momen ketika sebuah lagu terasa lebih bermakna karena dinyanyikan bersama ribuan orang.

Festival seperti ini mengingatkan bahwa musik Indonesia tidak tumbuh dalam satu warna. Ia berkembang melalui pertemuan genre, komunitas, dan generasi. Ada musik yang lahir dari kegelisahan, ada yang berangkat dari keinginan menghibur, dan ada pula yang bertahan karena diwariskan dari satu pendengar kepada pendengar berikutnya.

Semua itu menemukan ruangnya di Synchronize Fest 2026.

Dengan semangat “IT'S NOT JUST A FESTIVAL, IT'S A MOVEMENT”, perayaan tahun ini menegaskan bahwa musik bukan hanya sesuatu yang didengarkan. Musik juga menjadi bagian dari cara manusia mengingat, merayakan, menyampaikan pendapat, dan menemukan orang-orang dengan pengalaman serupa.

Pada akhirnya, tiga hari Synchronize Fest 2026 berakhir ketika panggung-panggung mulai sunyi dan pengunjung berangsur meninggalkan kawasan festival. Namun, cerita yang dibawa pulang tidak serta-merta selesai bersama padamnya lampu panggung.

Sebagian akan tersimpan dalam foto dan video, sebagian lain menetap dalam ingatan, sementara sisanya mungkin baru terasa ketika lagu yang sama kembali terdengar di kesempatan berbeda. (Far)

#Synchronize Fest #Festival Musik #Musik Indonesia #Musik
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Febrian Adi

part-time music enthusiast. full-time human.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

ShowBiz
Synchronize Fest 2026: Tiga Hari, Ribuan Cerita, dan Pertemuan Musik Lintas Generasi
Simak cerita tiga hari Synchronize Fest 2026 di Gambir Expo, Jakarta, dari Efek Rumah Kaca, Perunggu, Geisha, Hindia hingga kolaborasi lintas negara.
Ananda Dimas Prasetya - 1 jam, 48 menit lalu
Synchronize Fest 2026: Tiga Hari, Ribuan Cerita, dan Pertemuan Musik Lintas Generasi
ShowBiz
Mark Lee, Mantan Member NCT, Bawa K-pop ke Dunia Anak-Anak
Hanya sedikit dari lagu-lagu k-pop yang diciptakan khusus untuk anak-anak
Dwi Astarini - Selasa, 20 Oktober 2026
Mark Lee, Mantan Member NCT, Bawa K-pop ke Dunia Anak-Anak
ShowBiz
Panggung Jazz Internasional di ARC Sudirman, Hadirkan Musisi dengan Pendekatan Musikal Beragam
Rangkaian konser ini digelar di Sudirman Hall, menghadirkan musisi jazz yang telah mendapat pengakuan internasional dalam suasana pertunjukan yang lebih intim.
Dwi Astarini - Selasa, 20 Oktober 2026
Panggung Jazz Internasional di ARC Sudirman, Hadirkan Musisi dengan Pendekatan Musikal Beragam
ShowBiz
Harry Styles Bawakan 'What Is Enough' untuk Liam Payne, Liriknya Singgung Kehilangan Sahabat
Harry Styles membawakan lagu baru 'What Is Enough' untuk mengenang Liam Payne, dua tahun setelah kepergian mantan personel One Direction tersebut.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 20 Oktober 2026
Harry Styles Bawakan 'What Is Enough' untuk Liam Payne, Liriknya Singgung Kehilangan Sahabat
ShowBiz
'Tak Ingin Pulang', Lagu Terbaru MARBLES tentang Kebersamaan dengan Orang Terkasih
Tak Ingin Pulang menggambarkan perasaan seseorang yang begitu menikmati kebersamaan dengan orang terkasih hingga tak ingin momen tersebut berakhir.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
'Tak Ingin Pulang', Lagu Terbaru MARBLES tentang Kebersamaan dengan Orang Terkasih
ShowBiz
Barsena Bestandhi Rilis 'Coba Lagi' untuk Soundtrack Film 'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati'
Barsena mengangkat kisah tentang seseorang yang tengah menghadapi masa-masa sulit hingga berada di titik terendah kehidupannya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Barsena Bestandhi Rilis 'Coba Lagi' untuk Soundtrack Film 'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati'
ShowBiz
Kenzy Taulany Merangkum Rindu dan Jarak dalam 'Siapa Duluan Rindu'
Siapa Duluan Rindu bercerita tentang beratnya merelakan seseorang untuk pergi, sekaligus keinginan untuk tetap memberikan dukungan kepada orang tersebut.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Kenzy Taulany Merangkum Rindu dan Jarak dalam 'Siapa Duluan Rindu'
Fun
BAIC Ajak Bersantai di Movement Hub Selama Synchronize Festival 2026
BAIC ingin menghadirkan suasana yang nyaman dan santai sehingga pengunjung dapat menikmati pengalaman bersama merek tanpa harus terpaku pada aktivitas promosi.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
BAIC Ajak Bersantai di Movement Hub Selama Synchronize Festival 2026
Fun
BAIC Hadirkan Booth Diecast Raksasa di Synchronize Festival 2026, ini Penampakannya
BAIC hadirkan booth diecast raksasa di Synchronize Fest 2026. BAIC mengusung konsep diecast collectible.
Soffi Amira - Jumat, 16 Oktober 2026
BAIC Hadirkan Booth Diecast Raksasa di Synchronize Festival 2026, ini Penampakannya
ShowBiz
Makna Lagu 'Our' Hwang Min-yun, Ungkap Arti Cinta yang tak Tergoyahkan
'Our' menjadi ruang bagi Min-hyun untuk merefleksikan perjalanan dirinya sekaligus mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang-orang terdekat
Dwi Astarini - Jumat, 16 Oktober 2026
Makna Lagu 'Our' Hwang Min-yun, Ungkap Arti Cinta yang tak Tergoyahkan
Bagikan