Ternyata Sosok Pahlawan, ini Sejarah Tugu Tani yang kini Jadi Lokasi Langganan Demo Mahasiswa

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Ternyata Sosok Pahlawan, ini Sejarah Tugu Tani yang kini Jadi Lokasi Langganan Demo Mahasiswa

Tugu Tani.(foto: town traveller)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — TUGU Tani ternyata tak menampilkan sosok petani. Plot twist kan? Meski sosok patung di Tugu Tani terlihat berdiri mengenakan caping, nyatanya itu bukanlah sosok seorang petani. Namun, terlepas dari kekeliruan itu, Tugu Tani kini menjadi lokasi kumpul untuk aksi unjuk rasa.



Bukan Sosok Petani, Melainkan Prajurit



Nama tugu ini sebenarnya ialah Tugu Pahlawan. Namun, bentuk sosok patung yang ambigu membuat banyak yang salah memahami tugu ini.

Dari kejauhan, patung itu menyerupai figur lelaki petani dengan caping atau topi lebar penahan panas. Itulah yang membuat orang kerap menyebutnya Patung Pak Tani.

Namun, begitu dilihat lebih dekat, patung itu enggak membawa peralatan pertanian, melainkan senapan bedil. Di samping figur petani, perempuan berkebaya menyodorkan sepiring nasi kepadanya.

Oleh karena itulah tugu ini dinamai Tugu Pahlawan. Di dalamnya ada kisah panjangnya tentang nasionalisme, persahabatan internasional, dan kontroversi seputarnya.

Baca juga:

Dihadang Polisi Menuju Bundaran HI, Massa BEM UI Pilih Long March lewat Tugu Tani

Ide Pembangunan Patung Pahlawan



Seperti dilansir Abad.id, gagasan Patung Pahlawan berasal dari Gubernur pertama Jakarta, Soemarno Sosroatmodjo, pada 1961. Soemarno menyampaikan gagasannya kepada Bung Karno tentang sebuah patung yang berbeda dari biasanya.

“Selama ini yang kita tokohkan sebagai patung hanya kaum pria. Saya mempunyai gagasan, kaum perempuan pun perlu kita tokohkan sebagai patung, sebab jasanya selama perang kemerdekaan tidak kurang besarnya,” ungkap Soemarno dalam bukunya Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya.

Soemarno mengusulkan bentukan patung itu perempuan yang sedang menggendong bayi, berdiri di dekat pancuran dengan cucian di tangan kirinya. Sementara itu, tangan kanannya menyerahkan sebungkus nasi kepada seorang prajurit yang akan berangkat perang.

Pembuatan patung bertujuan menghormati para pahlawan, khususnya pahlawan pembebasan Irian Barat (Papua sekarang).

Bung Karno tertarik dengan usul itu dan meminta Soemarno mengembangkan ide tersebut. Soemarno lantas membicarakan dan memesan desain kepada sejumlah pematung dari Yugoslavia hingga Jepang. Namun, tak ada yang memuaskannya.

Tiap Bung Karno menanyakan, Soemarno menjawab belum ada yang sesuai. Pada era 1960-an, Bung Karno suatu kali berkunjung ke Uni Soviet. Saat itu, hubungan kedua negara memang sedang mesra-mesranya.

Bung Karno terpukau dengan patung-patung bergaya sosialis-realisme di sana. Ia kemudian mengundang seniman terkenal Uni Soviet, Matvey Genrikhovich Manizer, untuk datang ke Indonesia dan membuat karya.

Manizer ialah seniman kawakan yang telah lama berkarya dengan asas sosialis-realisme, aliran yang berprinsip karya seni harus membawa pesan, proses, dan tujuan revolusioner. Sergei Ivanov, dalam Unknown Socialist Realism, menyebut bahwa karya-karya Manizer tipikal klasik karya seni dari aliran itu.

Prinsip itu sejalan dengan jiwa Bung Karno. Enggak mengherankan jika Manizer diundang ke Indonesia untuk membuatkan patung. Bersama anaknya, Manizer kemudian berkunjung ke Indonesia dan berkeliling daerah untuk mendapatkan sumber inspirasi bagi karyanya.

Mereka menyurvei beberapa desa di Jawa Barat, mencoba menggali bentuk karakter lokal melalui cerita rakyat. Lahirlah konsep dua figur tersebut: petani muda membawa senjata, serta perempuan pembawa nasi sebagai wujud dukungan moral dan fisik.

Setelah konsep mereka disetujui Bung Karno, keduanya kembali ke negaranya untuk membuat patung. Pembuatan patung menggunakan teknik pengecoran perunggu. Setelah dibentuk, patung dikirim ke Indonesia menggunakan kapal laut.

Patung itu akhirnya diresmikan pada 1963 oleh Presiden Sukarno, kemudian menjadi salah satu tengara Jakarta yang masih kita nikmati hingga hari ini.

Nah, apa kamu sudah pernah lihat langsung Tugu Tani ini?(dwi)

Baca juga:

Polisi Tangkap Dua Pelaku Begal Ojek Online di Tugu Tani

#DKI Jakarta #Sejarah #Tugu Tani
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesiaku
Ternyata Sosok Pahlawan, ini Sejarah Tugu Tani yang kini Jadi Lokasi Langganan Demo Mahasiswa
Nama tugu ini sebenarnya ialah Tugu Pahlawan
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Ternyata Sosok Pahlawan, ini Sejarah Tugu Tani yang kini Jadi Lokasi Langganan Demo Mahasiswa
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Indonesia
Asap Karhutla Berpotensi Sampai Jakarta, Tergantung Pergerakan Angin
Arah angin di Kalimantan belum tentu sama dengan di Laut Jawa maupun Jakarta.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Asap Karhutla Berpotensi Sampai Jakarta, Tergantung Pergerakan Angin
Indonesia
Polisi Tangkap Belasan Pemuda yang Hendak Tawuran di Jaktim dan Jakpus, Bawa Sajam
Petugas menyisir kawasan tersebut dan menangkap tiga pemuda berikut dua bilah celurit, dua telepon genggam, serta dua sepeda motor.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Polisi Tangkap Belasan Pemuda yang Hendak Tawuran di Jaktim dan Jakpus, Bawa Sajam
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Indonesia
Rano Karno Janji 214 Sekolah Rusak di DKI Jakarta Segera Diperbaiki, Bertahap Sesuai Anggaran
Penyesuaian itu membuat sejumlah sekolah terpaksa menunggu giliran untuk direvitalisasi, dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 16 Oktober 2026
Rano Karno Janji 214 Sekolah Rusak di DKI Jakarta Segera Diperbaiki, Bertahap Sesuai Anggaran
Indonesia
Gubernur Pramono Ungkap Kualitas Udara Jakarta Buruk dalam 3 Hari
Dinkes DKI Jakarta telah diinstruksi untuk membantu penanganan warga yang mengeluhkan gangguan pernapasan akibat udara Jakarta yang tak baik.
Dwi Astarini - Jumat, 16 Oktober 2026
Gubernur Pramono Ungkap Kualitas Udara Jakarta Buruk dalam 3 Hari
Indonesia
Gubernur Pramono Ajak Warga Manfaatkan Bursa Kerja Expo 2026, Ada Ribuan Lowongan Kerja
Para pencari kerja bisa memanfaatkan bursa kerja itu mendapatkan pekerjaan, meningkatkan keterampilan, hingga mengembangkan karier.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
Gubernur Pramono Ajak Warga Manfaatkan Bursa Kerja Expo 2026, Ada Ribuan Lowongan Kerja
Indonesia
Satpol PP DKI Terluka dan Alami 6 Jahitan, Polisi Cari Pelaku
Diduga ada dua orang pelaku pemukulan yakni yang memukul menggunakan helm dan melakukan pemukulan kepada petugas di lampu merah CSW.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 12 Oktober 2026
Satpol PP DKI Terluka dan Alami 6 Jahitan, Polisi Cari Pelaku
City Property
Jakarta Langganan Kebakaran, Gubernur Pramono Minta Warga tak Buang Putung Rokok Sembarangan
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memprioritaskan berbagai upaya preventif terhadap potensi kebakaran.
Dwi Astarini - Senin, 12 Oktober 2026
Jakarta Langganan Kebakaran, Gubernur Pramono Minta Warga tak Buang Putung Rokok Sembarangan
Bagikan