MERAHPUTIH.COM — TUGU Tani ternyata tak menampilkan sosok petani. Plot twist kan? Meski sosok patung di Tugu Tani terlihat berdiri mengenakan caping, nyatanya itu bukanlah sosok seorang petani. Namun, terlepas dari kekeliruan itu, Tugu Tani kini menjadi lokasi kumpul untuk aksi unjuk rasa.
Bukan Sosok Petani, Melainkan Prajurit
Nama tugu ini sebenarnya ialah Tugu Pahlawan. Namun, bentuk sosok patung yang ambigu membuat banyak yang salah memahami tugu ini.
Dari kejauhan, patung itu menyerupai figur lelaki petani dengan caping atau topi lebar penahan panas. Itulah yang membuat orang kerap menyebutnya Patung Pak Tani.
Namun, begitu dilihat lebih dekat, patung itu enggak membawa peralatan pertanian, melainkan senapan bedil. Di samping figur petani, perempuan berkebaya menyodorkan sepiring nasi kepadanya.
Oleh karena itulah tugu ini dinamai Tugu Pahlawan. Di dalamnya ada kisah panjangnya tentang nasionalisme, persahabatan internasional, dan kontroversi seputarnya.
Baca juga:
Dihadang Polisi Menuju Bundaran HI, Massa BEM UI Pilih Long March lewat Tugu Tani
Ide Pembangunan Patung Pahlawan
Seperti dilansir Abad.id, gagasan Patung Pahlawan berasal dari Gubernur pertama Jakarta, Soemarno Sosroatmodjo, pada 1961. Soemarno menyampaikan gagasannya kepada Bung Karno tentang sebuah patung yang berbeda dari biasanya.
“Selama ini yang kita tokohkan sebagai patung hanya kaum pria. Saya mempunyai gagasan, kaum perempuan pun perlu kita tokohkan sebagai patung, sebab jasanya selama perang kemerdekaan tidak kurang besarnya,” ungkap Soemarno dalam bukunya Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya.
Soemarno mengusulkan bentukan patung itu perempuan yang sedang menggendong bayi, berdiri di dekat pancuran dengan cucian di tangan kirinya. Sementara itu, tangan kanannya menyerahkan sebungkus nasi kepada seorang prajurit yang akan berangkat perang.
Pembuatan patung bertujuan menghormati para pahlawan, khususnya pahlawan pembebasan Irian Barat (Papua sekarang).
Bung Karno tertarik dengan usul itu dan meminta Soemarno mengembangkan ide tersebut. Soemarno lantas membicarakan dan memesan desain kepada sejumlah pematung dari Yugoslavia hingga Jepang. Namun, tak ada yang memuaskannya.
Tiap Bung Karno menanyakan, Soemarno menjawab belum ada yang sesuai. Pada era 1960-an, Bung Karno suatu kali berkunjung ke Uni Soviet. Saat itu, hubungan kedua negara memang sedang mesra-mesranya.
Bung Karno terpukau dengan patung-patung bergaya sosialis-realisme di sana. Ia kemudian mengundang seniman terkenal Uni Soviet, Matvey Genrikhovich Manizer, untuk datang ke Indonesia dan membuat karya.
Manizer ialah seniman kawakan yang telah lama berkarya dengan asas sosialis-realisme, aliran yang berprinsip karya seni harus membawa pesan, proses, dan tujuan revolusioner. Sergei Ivanov, dalam Unknown Socialist Realism, menyebut bahwa karya-karya Manizer tipikal klasik karya seni dari aliran itu.
Prinsip itu sejalan dengan jiwa Bung Karno. Enggak mengherankan jika Manizer diundang ke Indonesia untuk membuatkan patung. Bersama anaknya, Manizer kemudian berkunjung ke Indonesia dan berkeliling daerah untuk mendapatkan sumber inspirasi bagi karyanya.
Mereka menyurvei beberapa desa di Jawa Barat, mencoba menggali bentuk karakter lokal melalui cerita rakyat. Lahirlah konsep dua figur tersebut: petani muda membawa senjata, serta perempuan pembawa nasi sebagai wujud dukungan moral dan fisik.
Setelah konsep mereka disetujui Bung Karno, keduanya kembali ke negaranya untuk membuat patung. Pembuatan patung menggunakan teknik pengecoran perunggu. Setelah dibentuk, patung dikirim ke Indonesia menggunakan kapal laut.
Patung itu akhirnya diresmikan pada 1963 oleh Presiden Sukarno, kemudian menjadi salah satu tengara Jakarta yang masih kita nikmati hingga hari ini.
Nah, apa kamu sudah pernah lihat langsung Tugu Tani ini?(dwi)
Baca juga: