Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Akhiri Polemik Kombinasi Obat COVID-19 Versi Unair

Andika Pratama - Minggu, 23 Agustus 2020

MerahPutih.com - Kombinasi Obat COVID-19 yang diproduksi Universitas Airlangga bersama TNI AD dan Badan Intelijen Negara (BIN) menuai polemik. Pasalnya, obat tersebut ditolak oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena dianggap belum valid.

Menanggapi kisruh tersebut, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, MH Said Abdullah meminta semua pihak untuk mengakhiri polemik soal obat dan vaksin COVID-19 yang saat ini terus dilakukan upaya penemuan oleh pemerintah.

Baca Juga

Kasus Pasien Meninggal COVID-19 Terbanyak di Jawa Timur

"Kita seharusnya mendukung upaya pemerintah melalui kerja sama TNI Angkatan Darat, Badan Intelijen Negara (BIN), Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dan Kimia Farma untuk menemukan obat COVID-19," ujarnya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (22/8)

Said menyampaikan apresiasi keinginan berbagai pihak untuk menemukan obat dan vaksin di dalam negeri.

"Ini wujud ikhtiar nyata yang seharusnya patut kita banggakan bersama,” kata Said dilansir Antara.

Ketua Badan Anggaran DPR RI, MH Said Abdullah (ANTARA/Dokpri)
Ketua Badan Anggaran DPR RI, MH Said Abdullah (ANTARA/Dokpri)

Hal itu karena bila wabah ini berlarut-larut maka dunia akan menghadapi ancaman kehancuran ekonomi yang jauh lebih serius, termasuk juga angka kematian di berbagai negara yang kemungkinan akan terus meningkat.

“Begitu beratnya beban kesehatan, sosial dan ekonomi oleh warga dunia, berbagai negara berpacu dengan waktu menemukan obat dan vaksin untuk mengatasi COVID-19,” tegasnya.

Said mengaku, terdapat pro dan kontra beberapa soal obat dan vaksin COVID-19 ini. Namun, alangkah bijaknya jika perbedaan ini diselesaikan melalui mimbar akademik-klinis.

Justru terjadinya sengketa opini para ahli di media massa justru akan menimbulkan ketidakpercayaan publik atas pihak-pihak yang sedang berupaya menemukan obat dan vaksin. Tentunya hal itu sangat kontraproduktif, jelas Said.

“Jadi, jika para ahli menemukan beberapa kelemahan proses dan prosedur akademik-klinis maka alangkah baiknya dibicarakan dan diselesaikan melalui mimbar atau forum yang pas,” tegasnya.

Sejak COVID-19 muncul di Wuhan, Tiongkok akhir tahun lalu, hingga kini telah menjangkiti 22, 57 juta warga dunia. Hal ini mengakibatkan 791 ribu manusia meninggal dunia.

Di Indonesia COVID-19 telah menjangkiti lebih dari 144,9 ribu warga. Bahkan penyakit dengan daya penularan yang tinggi ini menyebabkan 6.346 anak bangsa meninggal dunia.

Presiden Joko Widodo sendiri telah mendorong calon vaksin dari Sinovac Biotech Ltd menjalani uji klinis fase tiga di Universitas Padjajaran.

“Kita harapkan langkah ini segera sukses, sehingga target tahun depan untuk mendapatkan vaksin sebagai cara pencegahan medis terhadap COVID-19 segera dinikmati bangsa kita,” harapnya.

Lebih lanjut, Ketua DPP PDIP Bidang Perekonomian ini mendukung langkah BP POM dan Menteri Kesehatan (Menkes) bila telah memenuhi ketentuan medis dan peraturan perundang-undangan untuk segera menerbitkan surat izin edar obat.

“Saya mendorong sesegera mungkin Menkes memasukkan kombinasi obat baru tersebut dalam protokol kesehatan pada pasien treatment COVID-19 dan pendistribusiannya secara nasional bila izin edar obat tersebut telah dikeluarkan oleh BP POM,” ujar politisi asal Sumenep, Madura ini.

Sebelumnya, BPOM telah mengeluarkan rekomendasi terkait calon obat dan vaksin COVID-19 buatan dalam negeri ini.

Rekomendasi tersebut antara lain pemberian izin uji klinis pada 3 Juli 2020 terhadap subyek yang dipersyaratkan sebanyak 696 pasien relawan. Pelaksanaan uji klinis diawasi dan diverifikasi oleh BP POM dan Tim Komisi Nasional Obat.

Setelah mendapat izin uji klinis oleh BP POM, peneliti Unair bekerjasama dengan BIN dan TNI AD telah melaksanakan uji klinis secara multi center di beberapa rumah sakit seperti Rumah Sakit Secapa TNI AD, Rumah Sakit Polri, Poliklinik BIN, Rumah Sakit Unair, dan Gedung isolasi Lamongan sejak 7 Juli sampai 4 Agustus 2020 dengan melibatkan 754 relawan.

Hasil pelaksanaan uji klinis fase 3 tersebut telah diserahkan ke BP POM pada 19 Agustus 2020. Sayangnya, upaya keras menemukan obat COVID-19 ini justru mendapatkan narasi negatif beberapa pihak melalui media massa.

Baca Juga

Update COVID-19 Sabtu (22/8): 151.498 Positif, 105.198 Sembuh

Karenanya, politisi senior PDIP ini mengharapkan media membantu bangsa dan negara ini dengan menjadi "clearing house" dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini. Sehingga, konten-konten pemberitaan memberikan narasi optimisme dan kebangkitan bangsa Indonesia dari tekanan pandemi.

"Sebab pembentukan narasi positif adalah energi besar yang bisa membangkitkan bangsa," pungkasnya. (*)

Baca Artikel Asli