Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Indonesia

1.050 Balita di Solo Alami Stunting

Andika Pratama - Minggu, 04 Juni 2023

MerahPutih.com - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) mencatat 1.050 Balita Stunting pada pertengahan tahun ini.

Di sisi lain, berdasarkan hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2021, Kota Solo berada di angka 20,4 persen, sementara di tahun 2022 turun menjadi 16,2 persen.

Baca Juga

Kakak Asuh dan IIDI Kota Bogor Kolaborasi Cegah Stunting

"Secara nasional kinerja pemerintah daerah dalam penanganan stunting diukur dari SSGI itu. Jadi untuk saat ini kasus aktif kita ada 1.050 balita stunting itu," kata Kepala DP3AP2KB Solo, Purwanti, Sabtu (3/6).

Dikatakannya, persoalan stunting tidak melulu disebabkan hanya karena persoalan asupan gizi saja. Dia menilai ada beragam faktor lain yang sedikit banyak berpengaruh pada fenomena stunting.

"Misalnya masalah kesejahteraan yang belum terpenuhi, permasalahan lingkungan hidup (kebersihan rumah tinggal dan lingkungan) dan sebagainya," kata dia.

Baca Juga

Kota Layak Anak Terganjal Data 788 Anak Alami Stunting dan Pernikahan Dini

Adanya kasus stunting, kata dia, diperparah dengan adanya fenomena pernikahan usia anak yang terjadi di Solo sepanjang tahun ini. Kemudian kehamilan dengan reproduksi yang belum matang juga rawan melahirkan bayi prematur,

"Bayi prematur makin rawan stunting. Yang rawan lainnya kehamilan di atas usia 35 tahun," papar Purwanti.

Diakuinya, fakta tersebut jadi pekerjaan rumah yang cukup berat menimbang Pemkot Surakarta sebelumnya telah mendeklarasikan Zero Stunting di 2024 mendatang. Pihaknya pun membenarkan untuk nol stunting di 2024 memang sulit direalisasikan.

"Yang bisa dilakukan dalam upaya untuk menekan angka kasusnya, minimal nol kasus baru di 2024, diperlukan upaya bersama yang terintegrasi dan berkelanjutan antara masyarakat dan stakeholder terkait," ucap dia.

Wakil Wali Kota Surakarta, Teguh Prakosa memastikan Pemkot Solo terus berupaya untuk menuntaskan fenomena stunting dengan berbagai cara. Mulai dari peningkatan gizi pada balita hingga meningkatkan kemampuan ekonomi keluarga yang memiliki anak yang baru lahir agar tidak stunting.

"Kolaborasi antar stakeholder harus kuat karena masalah stunting ini tidak hanya dari segi kesehatan saja, ada faktor-faktor penyebab lainnya seperti kemiskinan harus kita tuntaskan," kata Teguh. (Ismail/Jawa Tengah).

Baca Juga

Gandeng Dokter Rayendra, BKKBN Giatkan Program Entaskan Stunting di Kota Bogor

Baca Artikel Asli