Wisata Batik di Kampung Laweyan
Wisata batik di Kampung Laweyan. (foto: Instagram @axeldio_)
TANGGAL 2 Oktober jadi hari spesial buat bangsa Indonesia. Di tanggal ini, pada 2009 lalu, batik diakui UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Tak hanya kain batik, UNESCO tapi juga memasukkan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait.
Budaya batik di Indonesia tersebar hampir di semua daerah. Pulau Jawa punya paling banyak sebaran dan budaya batik yang mengakar. Salah satu sentra batik ternama di Jawa ialah Kampung Batik Laweyan, Solo.
BACA JUGA:
Mangkrak 50 Tahun, Omah Lowo Jadi Destinasi Wisata Galeri Batik Premium
Terletak tidak jauh dari Stasiun Purwosari, Kampung Laweyan bisa dicapai dengan menggunakan becak yang banyak mangkal di sepanjang tepi jalan utama Solo, Jalan Slamet Riyadi. Pada masa lalu, Laweyan merupakan pusat perdagangan di tepi Sungai Banaran yang terhubung dengan Bengawan Solo. Perdagangan di daerah itu utamanya ialah benang lawe, karena daerah itu dulunya banyak ditumbuhi kapas. Kapas-kapas diolah menjadi benang lawe yang kemudian ditenun untuk jadi bahan pakaian.
Amat mungkin nama Laweyan didapat dari komoditas yang diperdagangkan di daerah itu. Di tempat itu juga Ki Ageng Henis bermukim pada 1546 M. Nama Ki Ageng Henis atau Ki Ageng Laweyan amat lekat dengan asal usul Kampung Laweyan. Salah seorang keturunan Brawijaya V itulah yang mengajarkan teknik membatik kepada para santrinya. Saking lekatnya, makam Ki Ageng Henis yang ada di lingkungan Laweyan hingga kini masih ramai dikunjungi penziarah.
Di masa kolonial, pada 1905, Kampung Laweyan makin berkembang sebagai pusat kerajinan batik. Seorang saudagar batik bernama KH Samanhudi memprakarsai terbentuknya Serikat Dagang Islam. Ia berhasil menghimpun para saudagar batik muslim Bumiputera yang ada di Laweyan untuk menghadapi Belanda yang pengaruhnya semakin kuat di dalam keraton.
Peran Kampung Laweyan dalam sejarah perkembangan Kota Solo amatlah penting. Daerah ini merupakan penghasil batik tulis, cap, dan kombinasi tulis cap serta printing. Kampung ini muncul dan membawa batik Solo dikenal masyarakat luas. Pengerjaan batik dengan keuletan dan keterampilan yang dimiliki penduduk Laweyan kini telah turun-temurun dikuasai.
Baca Juga:
Makna Mendalam di Balik 4 Motif Batik Emas Batangan Terbaru Antam
Laweyan di Masa Kini
Kejayaan Kampung Laweyan sebagai sentra batik dicapai pada 1970-an. Ratusan perajin tinggal di gang-gang di seputar kampung ini. Berbagai batik dengan harga beragam dihasilkan dari daerah ini.
Bagikan
Berita Terkait
Menpar Widiyanti Bantah Bali Sepi Wisatawan, Data 2025 Tunjukkan Tren Positif
Resorts World Genting Jalin Kemitraan Kemitraan Strategis dengan Stakeholder Pariwisata, Bersiap Kenalkan Eufloria
Whoosh Jadi Incaran Turis Asing, Hampir 300 Ribu WNA Malaysia Datang Cuma Buat Naik
Promo Ancol 2026: Tiket Masuk Rp 35 Ribu, Gratis Voucher Makan Rp 20 Ribu
Syahbandar Larang Kapal Wisata Labuan Bajo Berlayar Malam Hari
Kereta Panoramic Jadi Favorit Wisata Nataru 2025-2026, Pelanggan Capai 11.819 Orang
Cirebon Jadi Tujuan Pariwisata Baru saat Nataru 2026, KAI Catat 274 Ribu Penumpang Kereta Api Turun dan Naik
Penumpang KA Panoramic Tembus 150 Ribu Orang per Tahun, Bukti Naik Kereta Jadi Tren Baru Berlibur
Menikmati Keindahan Senja di Pantai Pattaya, Wajah Lain Wisata Alam Thailand
Teater Bintang Planetarium Buka Sampai April 2026, Fasilitas Canggih Siap Bikin Pemuda Jakarta Pintar