MerahPutih.Com - Buaya kini menjadi salah satu ancaman serius bagi warga Nusa Tenggara Timur (NTT). Tercatat sudah 29 orang tewas akibat serangan buaya.
"Kasus warga NTT yang meninggal karena diserang buaya liar sangat tinggi. Dalam enam tahun ini saja sudah 29 orang yang meninggal dalam konflik manusia dengan satwa liar buaya di NTT," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), NTT, Tamen Sitorus ketika ditemui di Kupang, Selasa (29/8).
Menurut Sitorus, kasus penyerangan buaya yang tinggi terjadi di Pulau Timor, Rote dan Semau tercatat 23 orang meninggal disusul Pulau Lembata sebanyak empat orang meninggal.
Sedangkan di Pulau Sumba dan Flores berdasarkan data dimiliki BKSDA NTT lanjut Sitorus terdapat dua korban meninggal digigit buaya.
Ia mengatakan, serangan buaya dialami 29 orang korban itu terjadi ketika melakukan aktifitas penyelaman di laut dan memancing ikan di muara sungai serta menyeberang kali dan membuang sampah di laut.
"Ada korban yang sedang mandi di muara kali menjadi korban serangan buaya karena satwa ini selalu mengendap di daerah seperti itu," kata Sitorus.
Ia menegaskan, terjadinya serangan buaya terhadap penduduk di NTT karena semakin terbatasnya makanan pada daerah teritorialnya setelah maraknya pembangunan permukiman penduduk disekitar kawasan yang menjadi sumber mendapatkan makan bagi buaya.
"Karena ketersediaan makanan terbatas sehingga buaya memilih memperluas daerah jelajahnya untuk mencari makan hingga ke kawasan penduduk seperti terjadi di Teluk Kupang, Kota Kupang pada tahun 2016 lalu," kata Sitorus.
Sitorus mengatakan BKSD NTT telah mengandangkan 10 ekor buaya yang berhasil ditangkap petugas BKSDA yang sulit dilepas kembali alam bebas, karena ketika dilepaskan kembali ke habitatanya buaya-buaya yang sudah diberikan tanda khusus itu kembali lagi ke daratan di Pulau Timor.
"Tahun 2015 kita melepas satu ekor buaya di perairan Kupang sejauh 100 km dari daratan namun ternyata buaya yang dilepas itu kembali ke darat lalu memangsa satu korban di Pulau Semau, Kabupaten Kupang. Buaya itu sudah dalam penangkaran milik BKSDA NTT," kata Sitorus.
Sitorus mengajak investor untuk memilihara 10 ekor buaya itu, jika sudah menghasilkan keturuan ketiga dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan pembuatan asesoris seperti kulit buaya untuk tas, sepatu.(*)