MerahPutih.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Rabu (19/8) sebanyak 2. 768 gempa susulan (aftershock) telah terjadi dengan magnitudo M1,1–M6,2.
Di antara ribuan gempa susulan tersebut, gempa dengan magnitudo M>5 sebanyak 24 kejadian dan gempa bumi susulan yang dirasakan berjumlah 81 kali.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan berdasarakan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3 – 4 minggu ke depan.
“Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada gempa bumi susulan yang masih terjadi,”
kata Wijayanto di Jakarta dikutip Kamis (20/8).
Beberapa wilayah terdampak di antaranya Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, Jeneponto dengan status Siaga dan wilayah Flores Timur, Bima, Dompu, Wajo untuk status Waspada.
Baca juga:
Pagi Ini NTT Diguncang Sejumlah Gempa, BMKG Pastikan Tak Terjadi Tsunami
Hasil observasi stasiun pasang surut menunjukkan gempa bumi ini telah memicu terjadinya tsunami di 16 lokasi pada 4 provinsi yaitu NTT, NTB, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, dengan ketinggian tsunami paling tinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT pada pukul 05.03 WIB (1.605 m), dan terendah di BAKALANG, ALOR, NTT pada pukul 05:41 WIB (0.14 m).
Korban Gempa Bumi
Berdasarkan hasil sementara pemantauan dan informasi lapangan, gempabumi Flores M7,7 menyebabkan korban jiwa sebanyak 69 jiwa meninggal dunia, korban luka-luka 331 jiwa, serta dampak kerusakan di sejumlah wilayah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka, Maumere, dengan tingkat kerusakan yang bervariasi dari ringan hingga berat.
BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempabumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan.
Survei ini bertujuan mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana sekaligus menjadi dasar pemetaan mikrozonasi pascagempa, evaluasi kondisi wilayah terdampak, serta penyusunan rekomendasi mitigasi dan rekonstruksi yang lebih aman.
Wilayah prioritas berfokus pada daerah dengan kerusakan sedang hingga berat serta dibandingkan dengan lokasi yang relatif tidak mengalami kerusakan.
Baca juga:
NTT kembali Bergetar, Gempa Magnitudo 5,7 Terjadi Rabu Malam
BMKG melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terdampak untuk memberikan pemahaman yang tepat serta membantu menenangkan masyarakat dalam menghadapi kondisi pascagempa.
“Masyarakat juga diimbau agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi, serta mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi,” tutup Wijayanto. (Knu)