PERADABAN manusia masih berlanjut karena kebanyakan orang bekerja keras untuk bergaul dan bermain dengan baik satu sama lain. Namun, ada beberapa orang yang bekerja ekstra. Ekstra keras. Mereka ialah people pleaser yang selalu berusaha menyenangkan orang lain.
Kehidupan people pleaser bergantung pada persetujuan orang lain untuk merasa nyaman dengan diri mereka sendiri. Mereka tidak dapat mengatakan 'tidak' karena takut merasa bersalah atau khawatir orang lain akan berpikir bahwa mereka egois dan tidak pengertian. Jadi, untuk merasa berharga dan diterima, mereka mengatakan ya, dan iya, dan iya.
BACA JUGA:
Ternyata pola pikir ini memiliki akar yang dalam. Sebuah studi tahun 2016 di jurnal Frontiers in Human Neuroscience menemukan orang dengan kesulitan mengatakan tidak kepada orang lain memiliki variasi berbeda dalam aktivitas otak mereka dibandingkan dengan mereka yang lebih sering tidak setuju. Secara khusus, semakin jarang peserta tidak setuju, semakin banyak bagian tertentu dari otak mereka yang menyala di pemindai fMRI ketika mereka benar-benar tidak setuju.
Apakah menyenangkan orang sudah tertanam atau hanya kebiasaan buruk? Terus-menerus hidup demi persetujuan orang lain dan mengabaikan kebutuhan sendiri dapat merusak kesehatan mental. People pleaser sering kali meyakinkan diri sendiri bahwa persetujuan orang lain membuat mereka bahagia, tetapi tekanan yang tak terhindarkan untuk mengelola emosi orang lain bisa melelahkan, memicu kecemasan, dan bahkan menyebabkan depresi.
Supaya kamu bisa berenti menjadi people pleaser, ikuti langkah-langkah yang diberikan psikolog dari Boston University Ellen Hendriksen, PhD dalam artikelnya di Psychologytoday.com (20/5).
Tip #1: Apakah kamu membantu karena membuatmu bahagia dan puas atau karena merasa bersalah?
Ada batasan antara menjadi orang yang menyenangkan orang dan hanya bersikap baik dan murah hati. Jika kamu memutuskan untuk membantu karena itu memperkuat nilai-nilaimu atau memberimu kegembiraan, lakukanlah. Misalnya, anggaplah kamu diminta menjadi pelatih tim sepak bola di sekolah anak. Jika mengatakan ya akan menggarisbawahi nilai hidupmu dalam berkontribusi pada komunitas dan membuatmu merasa baik. Meskipun itu sedikit membuat stres, lanjutkan saja.
Namun, jika mengatakan ya hanya demi menghindari rasa bersalah, kamu mungkin melakukan hal itu untuk alasan yang salah. Jika kamu mengatakan ya hanya untuk merasa tidak terlalu buruk, tidak terlalu cemas, tidak terlalu bersalah, tidak terlalu menyesal, semua itu didorong demi kesenangan orang lain.
Tip #2: Biarkan nilai-nilai hidupmu mendorong keputusan
Jangan biarkan filter keputusan kamu menjadi, "Apakah seseorang meminta aku untuk melakukannya?" Sebaliknya, tanyakan, "Apakah ini sejalan dengan nilai dan minatku?"
Memang, studi 2013 oleh peneliti Sonja Lyubormirsky menyatakan, untuk memaksimalkan kebahagiaan, pilihlah aktivitas yang terkait dengan nilai dan minatmu. Hal ini dapat (dan mungkin harus) mencakup melayani orang lain dalam kehidupan, organisasi, dan tujuan hidupmu. Pastikan saja itu merupakan gabungan aktivitas yang ditentukan oleh apa yang kamu sukai.
Tip #3: Berlatihlah mengatakan tidak
Mengatakan 'tidak' bisa terasa seperti agresi yang keras bagi people pleaser karena ujung pasif spektrum mereka begitu nyaman dan akrab. Namun, ada perbedaan besar antara pasif dan benar-benar agresif. Orang yang agresif di antara kita tahu persis apa yang mereka inginkan dan melakukannya, terlepas dari siapa yang terluka atau hubungan apa yang rusak dalam prosesnya.
Sebaliknya, orang yang tegas mencapai tujuannya sambil tetap bersikap sopan dan hormat kepada orang-orang di sekitarnya. Singkatnya, mengabaikan kesopanan. Sebaliknya, untuk people pleaser, berlatihlah membela kebutuhanmu sedikit demi sedikit. Ini akan terasa salah pada awalnya, tetapi cobalah. Intinya, ketegasan terletak di antara kepasifan dan agresi sebagai tengah bahagia yang sama-sama menghormati diri dan orang lain.
Kiat #4: Menolak tidak membuatmu menjadi orang jahat
Sebagai manusia, kamu tidak bisa selalu menyenangkan semua orang sepanjang waktu. Kecuali kalau kamu adalah sepotong pizza. Hari-hari ini, semuanya ekstrem, dari politik hingga cuaca. Habiskan bahkan beberapa menit di media sosial dan kamu akan menemukan perpecahan yang ekstrim di seluruh dunia: ada yang berempati dan peduli kepada semua umat manusia, ada pula yang mengacaukan semua orang, menyalahkan dan mengajari apa yang terbaik bagi tiap-tiap orang (yang bahkan tidak mereka kenal).
People pleaser termasuk kategori pertama, tetapi khawatir jika mereka mengatakan 'tidak', mereka secara otomatis akan dijauhi. Citra diri dan reputasi mereka bergantung pada setiap permintaan. Mengatakan 'ya' memberi mereka kelegaan dan meyakinkan diri bahwa mereka ialah orang yang baik dan menyenangkan. Padahal, kata 'tidak' juga bukan sinonim jahat dan menyebalkan.
Tip #5: Jangan meminta maaf secara berlebihan
People pleaser selalu mengatakan maaf. Meminta maaf secara berlebihan membuat kamu merasa lebih baik, tetapi sebenarnya ini bisa jadi sedikit tidak jujur. Karena, meminta maaf ketika kamu tidak melakukan kesalahan membuatnya seolah-olah kamu yang salah. Itu adalah pengakuan bersalah atas kejahatan yang tidak kamu lakukan. Simpan permintaan maaf yang sebenarnya untuk saat-saat kamu benar-benar membuat keslahan.
BACA JUGA:
Kesimpulannya, jadilah orang yang menghormati orang, bukan menyenangkan orang. Jangan pernah ragu untuk melakukan hal yang benar. Saat tetangga kamu yang yang berumur meminta tolong, bantulah mereka mengangkat barang belanjaan dari mobil ke dalam rumah. Saat kolega di kantor meminta, berikan sumbangan untuk memberikan hadiah pensiun kepada rekan kerja yang kamu hormati. Itu hanya sikap hormat. Namun, dari semua bantuan untuk orang yang membutuhkan dan kamu sayangi, pastikan masih ada yang tersisa dirimu sendiri.(aru)