Kesehatan Mental

Keseringan Minta Maaf, Situ Sehat?

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 07 Mei 2021
Keseringan Minta Maaf, Situ Sehat?

Terlalu banyak meminta maaf bisa jadi bumerang. (foto: pixabay/ITECHirfan)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEBAGAI orang yang enggak enakan, aing—dan mungkin banyak warga di negeri aing—kerap menambahkan kata ‘maaf’ saat mau minta tolong. Misal nih, saat makan bareng teman, saya bisa spontan bilang, “Eh, maaf, tolong ambilin kecapnya dong." Kamu juga pasti sesekali begitu kan?

Kalimat kayak begitu sih kayaknya jadi template warga negeri aing yang punya karakter serbasungkan. Contoh paling nempel ialah karakter Mpok Minah di sitkom Bajaj Bajuri. Si Mpok yang lugu itu selalu memulai kalimat dengan kata ‘maaf’. Mau minta tolong kek, hendak belanja di warung kek, mau sekadar tanya karena kepo kek, bahkan saat mau ghibah aja nih, si Mpok juga minta maaf duluan. Lah, emang salahnya di mana ya? Kan minta maaf itu baik?

BACA JUGA:

Profesi Paling Sering 'Minta Maaf', dari Kasir Minimarket sampai Polantas

Well, not really. That is not always the case. Memang meminta maaf, mengatakan ‘tolong’, dan mengucapkan ‘terima kasih’ merupakan tiga hal yang wajib kamu lontarkan sebagai manusia baik. Namun, meminta maaf berlebih bisa jadi sebuah bumerang.

Terlalu sering mengucapkan kata ‘maaf’ bisa menjadi sebuah siklus buruk. Psikolog Justine G Grosso, dikutip Bestoflifeonline, mengatakan terlalu sering meminta maaf merupakan kebiasaan dalam diri yang berakar pada sifat rendah diri, perfeksionisme, dan takut akan kehilangan hubungan.

Banyak tanda-tanda yang menyiratkan kamu sebagai orang yang over-apologizing. Meminta maaf sebelum meminta tolong merupakan salah satu tandanya. Courtney Crisp, MA, seorang terapist berbasis di California, AS, mengatakan meminta tolong sudah pasti tak membutuhkan permintaan maaf. “Mungkin karena kekhawatiran menyita waktu atau merepotkan orang lain,” kata Crisp.

Padahal kan ya, logikanya, kalau mau minta tolong, ya sudah sih, tinggal bilang, ‘tolong’. Ya kan?

Mpok Minah si Ratu Meminta Maaf. (Foto: facebook/cintaku.ade)

Kekhawatiran menyusahkan orang lain, seperti kata Crisp, bisa jadi disebabkan betapa kamu memandang rendah diri sendiri. Semacam kurang percaya diri. Tak dimungkiri, mereka yang kurang percaya diri memang cenderung meminta maaf lebih sering. “Mereka berpikir selalu melakukan kesalahan di setiap langkah. Jadi meminta maaf menjadi cara untuk mengurangi rasa bersalah. Padahal, mereka tak selalu salah,” kata psikoterapis Karen Koening, seperti dilansir Bestoflifeonline.

Ya, benar banget. Orang yang meminta maaf berlebih akan meminta maaf atas hal-hal yang sebenarnya tak perlu mereka pertanggungjawabkan. Sebagai contoh nih, meminta maaf saat bersin di sebelah teman, menabrak orang lain di tengah kerumunan yang padat, atau bahkan ketika malah meminta maaf atas kesalahan atasan di tempat kerja hanya karena merasa ‘senior’ tak pernah salah. Oh, it’s a big no no!

Meminta maaf di saat yang tepat

meminta maaf
Meminta maaf di saat yang tepat dan tulus. (foto: unsplash/gus moretta)

Meski demikian, bukan berarti kamu enggak boleh meminta maaf. Sudah pasti boleh banget. Cuma nih, kamu harus tahu banget kapan saat tepat untuk meminta maaf. Terlalu sering meminta maaf, sekali lagi, bisa merugikanmu.

Selain membuatmu merasa amat rendah diri, meminta maaf berlebih bisa menihilkan rasa hormat orang lain terhadapmu. Psikoterapis Beverly Engel dalam bukunya, The Power of an Apology, seperti dilansir CNBC, mengatakan meminta maaf mungkin membuatmu terlihat manis dan peduli, padahal sebenarnya kamu sedang mengirim pesan bahwa kamu kurang percaya diri dan enggak penting. “Itu bisa memberi peluang bagi orang lain untuk memperlakukanmu dengan buruk. Bahkan cenderung abusif,” tegas Engel.

BACA JUGA:

Mpok Minah 'The Queen' of Minta Maaf

Lebih jauh, permintaan maaf berulang akan mengurangi nilai maaf ketika situasi menjadi benar-benar sulit. Terlebih, hal itu bisa jadi amat mengganggu. Sebuah study di jurnal Frontiers of Psychology menyebut kata ‘maaf’ bahkan acap digunakan saat menolak seseorang, membatalkan rencana, hingga memutuskan kekasih. Alih-alih menjadi ungkapan tulus, hal itu hanya membuat orang lain menjadi merasa lebih buruk. “Mereka harus memaafkan si penolak bahkan saat mereka belum siap kecewa,” kata penulis studi Gili Freedman.

Oleh karena itu, menakar kapan meminta maaf dan kapan harus diam amatlah penting. Mungkin akan susah diawali—terlebih buat tipe orang enggak enakan—tapi kamu bisa melakukan tahap demi tahap.

Hal pertama yang harus dilakukan ialah menyadari apakah kamu merupakan orang dengan ‘hujan kata maaf’. Jika iya, identifikasi dalam situasi apa kamu acap meminta maaf. Ubah kebiasaan itu. Alihkan ucapan maaf ke kata lain, semisal ‘tolong’ atau ‘terima kasih’.

Setelah itu, kamu harus menyadari bahwa kamu tak bisa mengontrol situasi. Ada kalanya kamu membuat kesalahan. Saat membuat kesalahan, akui itu. Meskipun tak mudah, itu akan menguatkan hubunganmu dengan orang lain. Meski begitu, berhentilah meminta maaf untuk hal-hal yang remeh. Semisal, kamu salah mengeja dan rekan kerja mengkritik. Meminta maaf bisa amat mengesalkan. Cobalah untuk membailkkan skenario. Daripada bilang, ‘maaf’ sampaikan ‘terima kasih’ karena telah mengoreksi kesalahan yang kamu buat. Tetap sopan kan?

Hal yang tak kalah penting untuk dilakukan ialah belajar untuk mengatakan ‘tidak’. Menolak, bagi orang yang serbasungkan, bisa jadi amat menantang. Padahal, itu cuma sesimpel bilang ‘tidak’. Jika kamu tipe orang yang sulit menolak, mulailah berlatih dari sekarang. Tak salah kok menolak ajakan kencan dari orang yang tak kamu suka. Juga enggak kurang ajar kok jika kamu menolak mengakui kesalahan senior. Ingatlah, penolakan itu bukan berarti kamu jahat, melainkan cara terbaik untuk melindungi diri.(dwi)

#Mei Negeri Aing Maaf-maafan #Kesehatan Mental
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).

Berita Terkait

ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Indonesia
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Tercatat, ada sekitar 20 juta rakyat Indonesia didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental dari data pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang dilakukan.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Bagikan