MerahPutih.com - Pakar psikiatri mengingatkan perempuan untuk mewaspadai Premenstrual Dysphoric Disorder menjelang menstruasi. Kondisi ini bukan sekadar perubahan suasana hati biasa, tetapi dapat berdampak serius jika tidak ditangani dengan tepat.
Psikiater Elvine Gunawan menjelaskan, PMDD merupakan gangguan yang lebih berat dibandingkan Premenstrual Syndrome. Pada kondisi ini, perubahan emosi bisa terasa sangat ekstrem, bahkan menyerupai gejala depresi berat.
“Di masa menstruasi, ada yang sampai tidak mau keluar kamar, kehilangan energi total, atau merasa sangat sedih seperti depresi. Itu yang disebut PMDD,” ujarnya saat ditemui di acara Comfort Made Together: Building a Supportive World Around Menstruation with Laurier, di Silk Bistro, Selasa (21/4).
Ia menegaskan, fase PMDD bersifat berulang dan biasanya muncul di setiap siklus menstruasi. Jika tidak ditangani, kondisinya berpotensi memburuk dari waktu ke waktu. Karena itu, penting bagi perempuan untuk mengenali pola perubahan emosi yang dialami setiap bulan.
Baca juga:
Salah satu tanda utama PMDD adalah perubahan mood yang jauh lebih ekstrem dibandingkan kondisi normal. Dalam beberapa kasus, penderita bahkan dapat mengalami pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Selain itu, respons emosional terhadap masalah sehari-hari juga bisa terasa berlebihan, sehingga mengganggu aktivitas dan hubungan sosial.
Jika mengalami gejala tersebut, Elvine menyarankan untuk tidak ragu mencari bantuan profesional.
“Jangan takut mencari pertolongan. Kita perlu memastikan apakah ini masih dalam batas normal atau sudah masuk kategori gangguan,” jelasnya.
Langkah awal dapat dilakukan dengan memeriksakan kondisi ke dokter kandungan untuk mengevaluasi kemungkinan gangguan hormonal. Setelah itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan jiwa seperti psikiater sangat dianjurkan.
Baca juga:
Elvine juga menekankan pentingnya kebiasaan sederhana seperti mencatat atau menjurnal siklus menstruasi. Dengan cara ini, perempuan dapat lebih mudah mengenali pola perubahan emosi yang terjadi setiap bulan.
Misalnya, saat mendekati menstruasi muncul perasaan lebih sensitif, mudah marah, atau sulit mengendalikan emosi.
Selain itu, menjaga pola hidup sehat turut berperan besar dalam membantu mengelola gejala PMDD. Olahraga rutin, pola makan seimbang, serta waktu tidur yang cukup dapat membantu tubuh melewati fase hormonal dengan lebih stabil.
Lebih jauh, Elvine menyoroti pentingnya dukungan sesama perempuan untuk saling berbagi pengalaman terkait menstruasi. Hal ini dapat membantu setiap individu memahami kondisi tubuhnya dan lebih cepat menyadari jika ada yang tidak normal.
“Emosi itu valid, tapi cara kita merespons dan mengekspresikannya belum tentu selalu tepat. Jika sudah di luar batas normal, jangan menarik diri. Segera cari bantuan,” ujarnya. (Tka)