MERAHPUTIH.COM - KEHIDUPAN sederhana dan penuh integritas Rahmi Hatta harus menjadi teladan perempuan Indonesia. Istri Proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Republik Indonesia Mohammad Hatta itu konsisten mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Hal itu disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi saat menghadiri peringatan 100 tahun kelahiran Rahmi Hatta yang digelar di Gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta Pusat, Rabu (1/7).
Arifah menegaskan sejarah Indonesia mencatat banyak perempuan yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa, baik melalui peran publik maupun melalui pengabdian di lingkungan keluarga dan masyarakat.
"Peringatan satu abad ini bukan sekadar mengenang perjalanan hidup seorang tokoh, melainkan menjadi momentum untuk merefleksikan nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada bangsa Indonesia," ucapnya.
Baca juga:
11,54 Juta Perempuan Indonesia Jadi Kepala Keluarga, Kesenjangan Bisa Melebar
Ia mengatakan sosok Rahmi Hatta menunjukkan perempuan mampu memberikan kontribusi besar bagi negara melalui keteladanan, integritas, dan pengabdian. Menurutnya, perayaan seabad Rahmi Hatta bukan sekadar mengenang perjalanan hidup seorang tokoh bangsa, melainkan juga menjadi ruang refleksi terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada generasi penerus Indonesia.
Ia menambahkan, selama mendampingi Mohammad Hatta sebagai istri proklamator sekaligus wakil presiden pertama, Rahmi Hatta memperlihatkan bahwa perempuan memiliki posisi yang sangat penting dalam mendukung perjalanan bangsa, meski tidak selalu berada di panggung politik maupun jabatan formal.
Sebagai pendamping proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, beliau menunjukkan perempuan memiliki peran strategis dalam mendukung kemajuan bangsa bukan hanya melalui posisi formal, melainkan juga melalui keteladanan, kebijaksanaan, dan pengabdian yang tulus.
Arifah Fauzi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA)
Kata Menteri Arifah, warisan terbesar Rahmi Hatta bukan hanya catatan sejarah sebagai pendamping proklamator, melainkan nilai-nilai kehidupan yang hingga kini tetap relevan dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional. Nilai-nilai tersebut, lanjut Arifah, meliputi integritas, kesederhanaan, semangat belajar sepanjang hayat, penghormatan terhadap martabat manusia, serta kepedulian terhadap sesama. Menurutnya, karakter tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang maju dan berkeadilan.
Ia berharap perempuan Indonesia dapat terus menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai inspirasi dalam menjalankan berbagai peran, baik sebagai ibu, pendidik, pemimpin, profesional, maupun bagian dari masyarakat yang aktif berkontribusi terhadap pembangunan. Menurutnya, pemerintah saat ini terus mendorong pembangunan sumber daya manusia yang unggul melalui penguatan kualitas keluarga, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, serta pembangunan yang inklusif agar manfaat pembangunan dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
"Nilai-nilai tersebut selaras dengan arah pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam mewujudkan Indonesia yang maju, adil, makmur, dan berdaya saing melalui pembangunan sumber daya manusia yang unggul, penguatan kualitas keluarga, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, serta pembangunan yang inklusif dan berkeadilan," ujarnya.
Lebih lanjut, Arifah menegaskan keberhasilan pembangunan nasional tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi atau peningkatan investasi. Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan juga ditentukan kemampuan negara menghadirkan keadilan dan kesempatan yang setara bagi seluruh warga negara, termasuk perempuan dan anak. Oleh karena itu, perspektif gender harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap proses penyusunan kebijakan maupun pelaksanaan program pembangunan di berbagai sektor.
Ia mengatakan pemenuhan hak perempuan dan anak merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa mendatang.
"Keberhasilan pembangunan nasional tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana pembangunan tersebut mampu menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat, termasuk perempuan dan anak. Oleh karena itu, perspektif gender dan pemenuhan hak anak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap proses pembangunan," tutupnya.(Asp)
Baca juga:
Bawa Peralatan Dapur, Aliansi Perempuan Indonesia Gelar Aksi Tolak Program MBG
Foto: MP/Asropih