MerahPutih.com - Menjelang menstruasi, perubahan hormon kerap berdampak pada kondisi psikis dan emosional perempuan. Situasi ini sering memicu mood swing, yang tak jarang disalahpahami sebagai sikap 'berlebihan'.
Padahal, mood swing merupakan kondisi yang normal dialami perempuan. Namun demikian, penting untuk menyadari perubahan emosi tersebut guna mengurangi risiko dampak yang lebih serius.
Menurut Psikiater, Elvine Gunawan, ada lima hal yang perlu diperhatikan untuk mengatasi mood swing. Ia menekankan bahwa semua langkah tersebut berawal dari kesadaran diri.
Elvine menyebutkan perempuan perlu mulai memperhatikan kondisi diri secara menyeluruh.
“Kita harus self love,” ujarnya saat ditemui di Comfort Made Together: Building a Supportive World Around Menstruation with Laurier, di Silk Bistro, Selasa (21/4).
Selain itu, ia juga menyarankan untuk melakukan evaluasi gaya hidup, karena banyak masalah menstruasi berawal dari kebiasaan yang tidak sehat.
“Bikin catatan apakah hidup kita sehat, karena sering kali masalah menstruasi ini dimulai dari pola hidup yang buruk,” katanya.
Baca juga:
Bukan Sekadar Mood Swing Biasa! Ini Beda Bipolar dan Depresi yang Wajib Diketahui
Ia menambahkan beberapa faktor yang perlu diperhatikan, seperti pola sirkadian tubuh, termasuk kebiasaan tidur larut malam atau begadang.
"Jam tidur yang berantakan,” katanya.
Kondisi tersebut dapat memicu rasa malas untuk beraktivitas fisik, seperti olahraga yang cukup.
Tak hanya itu, mood swing juga dapat diminimalkan dengan menghindari kebiasaan konsumsi makanan instan dan mulai beralih ke makanan yang lebih alami atau real food.
“Jangan banyak mengkonsumi makanan yang instan,” katanya.
Dengan menjaga pola hidup tersebut, kondisi mood swing dapat lebih terkendali. Hal ini juga diharapkan dapat mengurangi munculnya stigma negatif terhadap perempuan saat menstruasi.
Baca juga:
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Perempuan Masih Dibayangi Stigma saat Menstruasi
Perempuan yang hidup di masyarakat patriarki masih menghadapi berbagai stigma terkait menstruasi. Label negatif kerap melekat tanpa pemahaman terhadap kondisi yang sebenarnya dialami.
“Stigma paling sering pertama wanita menstruasi itu moodnya menyebalkan, jangan menyentuh perempuan menstruasi karena senggol bacok. Padahal kita wanita cuma ingin diakui, dihargai bahwa ini adalah hal yang normal, bukti bahwa kita bisa menyelesaikan masa sulit dengan tuntutan profesional,” katanya.
Menurut Elvine, stigma tersebut tidak hanya datang dari lingkungan sosial, tetapi juga bisa berkembang menjadi tekanan dari dalam diri sendiri atau self stigma. Kondisi ini dapat membuat perempuan merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri.
“Jadi ada social stigma dan ada self stigma yang datang dari diri kita. Bentuknya kenapa kita perempuan, kenapa kita menstruasi di momen mendekati menstruasi bahkan ada yang sampai cemas,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perempuan berhak menjalani proses biologis ini dengan penuh penghargaan terhadap diri sendiri.
“Dan itu adalah hak kita menikmati momen menstruasi kita dengan segala dignity yang kita miliki. Kalau ada momen yang gak nyaman biasakan menyampaikan ‘saya tidak nyaman dengan yang kamu lakukan’. Dan ketika itu adalah langkah membela diri maka itu bukti bahwa kita mencintai diri kita sendiri,” katanya. (Tka)