Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Tren AI Therapy Meningkat di Kalangan Milenial - Gen Z, Psikolog: Bukan Pengganti Terapi Manusia

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Selasa, 14 April 2026
Tren AI Therapy Meningkat di Kalangan Milenial - Gen Z, Psikolog: Bukan Pengganti Terapi Manusia

(Foto: Sampoerna University)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Tren AI therapy atau terapi berbasis kecerdasan buatan kian berkembang pesat secara global, termasuk di Indonesia. Meski menawarkan kemudahan akses, metode ini dinilai bukan solusi utama dalam mengatasi masalah kesehatan mental.

Psikolog konsultan asal Australia, Belinda S.L. Khong, mengingatkan bahwa teknologi seharusnya hanya menjadi pelengkap, bukan pengganti peran manusia dalam proses terapi.

"Perlu diingat bahwa teknologi hadir hanya sebagai pelengkap di tengah keterbatasan akses tenaga medis profesional. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang bijak dalam penggunaannya dengan tetap menempatkan interaksi manusia sebagai elemen utama dalam proses terapi," ujar Khong dalam diskusi “The Battle for Your Attention: Psychology in the Age of Social Media and AI” yang digelar Sampoerna University.

Ia menilai perkembangan teknologi menghadirkan anomali—di satu sisi membuka inovasi, namun di sisi lain memunculkan tantangan baru. Salah satunya adalah meningkatnya kecenderungan individu untuk berkonsultasi terkait kesehatan mental melalui AI dibandingkan tenaga medis profesional.

Baca juga:

Ogah Hanya Jadi Konsumen Teknologi AI, Pemerintah Butuh 150 Ribu Engineer Industri Digital

Dalam konteks kondisi klinis, pendekatan konvensional melalui konsultasi langsung dengan tenaga profesional tetap menjadi pilihan yang paling dianjurkan.

AI therapy sendiri umumnya hadir dalam bentuk layanan dukungan kesehatan mental berbasis kecerdasan buatan yang memungkinkan interaksi melalui teks atau suara.

Secara global, penggunaan teknologi ini menunjukkan tren peningkatan signifikan. Nilai pasar AI therapy diproyeksikan melonjak dari sekitar USD 1,8 miliar (Rp 30,78 triliun) pada 2025 menjadi USD 8 miliar (Rp 136,8 triliun) pada 2030.

Data dari World Economic Forum juga menunjukkan bahwa sekitar 36 persen generasi Z dan milenial tertarik menggunakan AI untuk terapi kesehatan mental.

Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat. Sekitar 24 persen masyarakat tercatat telah mencoba layanan kesehatan mental berbasis AI, seiring keterbatasan akses terhadap tenaga profesional, khususnya psikolog klinis.

Baca juga:

Penggunaan ChatGPT di Indonesia Masuk 5 Besar, DPR Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI

Berdasarkan data Ikatan Psikologi Klinis Indonesia, per April 2026 terdapat 4.358 psikolog klinis yang tersebar di 32 wilayah. Dari jumlah tersebut, hanya 3.909 yang aktif praktik, dengan rasio sekitar 1,43 psikolog per 100.000 penduduk. Mayoritas tenaga profesional ini masih terpusat di Pulau Jawa dan Bali.

Meski menawarkan kemudahan akses, Khong kembali menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran manusia dalam terapi kesehatan mental.

“Selain itu, lulusan psikologi masa depan juga dituntut untuk lebih adaptif, kritis, serta mampu mengintegrasikan teknologi yang tetap berpusat pada manusia,” katanya. (Tka)

#Psikolog #Psikologi #Artificial Intelligence
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Keuntungan Ekonomi dari AI tak Boleh hanya Dirasakan Pengusaha Besar
Pemerintah diharap dapat memastikan distribusi manfaat ekonomi dari AI berlangsung lebih adil.
Dwi Astarini - Kamis, 16 Juli 2026
Keuntungan Ekonomi dari AI tak Boleh hanya Dirasakan Pengusaha Besar
Berita
PBB Serukan Pembatasan Pada Pekerjaan AI
UNICEF menyerukan kepada seluruh pemerintah, sektor swasta, dan mitra untuk menanamkan hak-hak anak dalam tata kelola AI global.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 06 Juli 2026
PBB Serukan Pembatasan Pada Pekerjaan AI
Fun
Studi AI Ungkap Spanyol Jadi 'Musuh' yang Paling Sering Disebut Lawan di Lagu Kebangsaan Piala Dunia 2026
Hasil studi AI mengungkapkan, bahwa Spanyol paling sering disebut dalam lirik lagu kebangsaan peserta Piala Dunia 2026.
Soffi Amira - Rabu, 17 Juni 2026
Studi AI Ungkap Spanyol Jadi 'Musuh' yang Paling Sering Disebut Lawan di Lagu Kebangsaan Piala Dunia 2026
Indonesia
LIBRA Platform Asisten AI Berstandar Enterprise Diluncurkan di ITB
Pemanfaatan AI dapat membantu organisasi meningkatkan efisiensi serta mendorong daya saing Indonesia serta menambah pondasi dalam bangunan kedaulatan digital di Indonesia.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 13 Mei 2026
LIBRA Platform Asisten AI Berstandar Enterprise Diluncurkan di ITB
Lifestyle
Terapkan Animasi Cerdas dengan Mudah Menggunakan Pembuat Foto ke Video Berbasis AI
Pippit menawarkan cara mengubah gambar menjadi video yang menghibur. Platform ini menyediakan gerakan hingga efek grafis.
Soffi Amira - Senin, 11 Mei 2026
Terapkan Animasi Cerdas dengan Mudah Menggunakan Pembuat Foto ke Video Berbasis AI
Fashion
Google Photos Hadirkan Fitur 'Wardrobe', Lemari Digital yang Bisa Mix & Match Outfit
Google Photos akan menghadirkan fitur AI 'Wardrobe' yang mampu mengubah foto menjadi lemari pakaian digital. Bisa mix & match outfit hingga try-on virtual.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 30 April 2026
Google Photos Hadirkan Fitur 'Wardrobe', Lemari Digital yang Bisa Mix & Match Outfit
Berita
Lukisan Denny JA Diberkati Paus Fransiskus, Nilainya Diprediksi Melonjak Sangat Tinggi
Lukisan Denny JA jadi sorotan usai diberkati Paus Fransiskus di Galeri Nasional. Analisis AI memperkirakan nilainya hingga Rp 34 miliar.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 30 April 2026
Lukisan Denny JA Diberkati Paus Fransiskus, Nilainya Diprediksi Melonjak Sangat Tinggi
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Psikiater: Mood Swing saat Menstruasi Itu Normal, Begini Cara Mengelolanya
Mood swing saat menstruasi sering disalahpahami. Psikiater Elvine Gunawan menjelaskan cara mengatasinya dan pentingnya self love serta pola hidup sehat.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 22 April 2026
Psikiater: Mood Swing saat Menstruasi Itu Normal, Begini Cara Mengelolanya
Indonesia
Produk AI Wajib Pakai Watermark
Watermark pada produk teknologi kecerdasan buatan tersebut penting guna membantu masyarakat, terutama orang tua maupun lanjut usia (lansia) yang tidak mengikuti perkembangan di era teknologi digital sekarang ini.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 17 April 2026
Produk AI Wajib Pakai Watermark
Bagikan