Saatnya Warga +62 Unjuk Gigi Memanusiakan Pengungsi Luar Negeri

Raden Yusuf NayamenggalaRaden Yusuf Nayamenggala - Senin, 06 Juni 2022
Saatnya Warga +62 Unjuk Gigi Memanusiakan Pengungsi Luar Negeri

Geutanyoe Foundation melakukan berbagai upaya untuk memanusiakan para pengungsi asal luar negeri (Foto: pixabay/antriksh)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

INDONESIA menjadi negara transit bagi pengungsi luar negeri, khususnya dari Myanmar, Afghanistan, Irak, dan lainnya. Menurut data United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) atau dikenal dengan Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi, sedikitnya terdapat 14.000 orang pengungsi dari luar negeri teregistrasi berada di Indonesia. Bila ditambah pengungsi belum teregistrasi maka angkanya bisa lebih banyak.

Para pengungsi tersebar di sejumlah titik seluruh Indonesia, khususnya di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) atau pada akomodasi disiapkan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Baca Juga:

Alasan Pemerintah Tampung Pengungsi Rohingnya yang Terombang-ambing di Laut

Para pengungsi meninggalkan tanah kelahirannya lumrahnya lantaran perang, persekusi pada etnis tertentu, serta konflik horizontal. Tujuan utama para pengungsi meninggalkan negara asalnya, tak lain mencari keselamatan, perlindungan, dan kehidupan layak, khususnya bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.

Geutanyoe Fondation melakukan berbagai upaya untuk memanusiakan para pengungsi dari luar negeri (Foto: Merahputih.com/Raden Yusuf Nayamenggala)

Namun, tidak semua pengungsi bisa bernasib baik. Sejumlah hak dasar seperti mendapatkan pendidikan, akses kesahatan, serta pekerjaan belum bisa didapatkan para pengungsi di tempat pengungsian.

Selain itu, para pengungsi juga dilarang meniggalkan penampungan, padahal itu merupakan hak untuk mobilitas. Kondisi tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM), serta menimbulkan masalah kemanusiaan baru.

Demi membantu para pengungsi, menurut Koordinator Kemanusiaan Geutanyoe Foundation Nasruddin,perlu dilakukan berbagai upaya bantuan kemanusiaan.

"Di antaranya kerjasama dengan berbagai pihak untuk proses pendaratan pengungsi di lautan karena biasanya membutuhkan waktu cukup lama, kerentanan para pengungsi, serta ancaman dihadapi para pejuang kemanusiaan dalam upaya tersebut," jelas Nasruddin saat ditemui merahputih.com di kawasan Jakarta Selatan.

Geutanyoe Foundation, lanjutnya, acap mengelola dan merespon informasi tentang kapal terdampar di lautan dari asosiasi nelayan, lalu mengembangkan koordinasi dengan instansi terkait, seperti pemerintah, pihak imigrasi, Polisi, TNI, BIN, UNHCR, IOM, LSM, dan tokoh masyarakat.

Selain itu, Geutanyoe Foundation juga melakukan respon tanggap darurat di laut, termasuk mengirimkan makanan dan kebutuhan darurat lainnya, membantu proses pendaratan pengungsi, dan melakukan advokasi kepada pemerintah untuk mempercepat pendaratan. Setelah porses pendaratan berhasil, selanjutnya menyediakan akomodasi sementara dan beberapa layanan di tempat penampungan sementara, seperti pemeriksaan kesehatan, dapur umum, pendidikan untuk anak-anak, sosialisasi hukum adat setempat, serta sosialisasi tentang informasi pengungsi.

Baca Juga:

Indonesia Punya Kekuatan Tekan Myanmar Perjelas Nasib Muslim Rohingya

Upaya lainnya perlu dilakukan antara lain menyediakan layanan psikososial untuk perempuan dan anak-anak, mengadakan program-program berbasis kebudayaan, pendidikan, dan kesenian di lokasi serta membantu koordinasi relokasi pengungsi.

Geutanyoe Foundation melakukan berbagai langkah nyata untuk memanusiakan para pengungsi asal luar negeri (Foto: pixabay/kalhh)

Selain itu, Nasruddin juga menjelaskan, pihaknya mendorong upaya terebut agar negara asal pengungsi bisa menerima mereka kembali, karena hidup di negara orang tidak akan mudah.

Sebagai negara nan menjunjung tinggi HAM, menurut Periset Koordinator of Yayasan Geutanyoe Affan Ramli, pemerintah Indonesia harus melihat masalah pengungsi dalam kerangka kemanusiaan, alih-alih memakai kacamata hukum formal.

"Pertama, pengungsi sering dalam kondisi buruk dan memprihatinkan. Bagi pengungsi Rohingya, untuk berhasil keluar dengan selamat dari negara asalnya sudah menjadi sebuah pencapaian," jelas Affan.

Lebih lanjut Affan menambahkan, memperoleh dokumen keimigrasian lengkap merupakan hal tidak mungkin dipenuhi. Dengan sendirinya mereka menjadi undocumented immigrant. Kedua, para pengungsi membutuhkan akses terhadap kesehatan dan pendidikan layak, khususnya bagi perempuan dan anak-anak.

"Hal itu sangat sulit dilakukan karena keterbatasan dokumen dimiliki pengungsi. Di satu sisi, ini merupakan kebutuhan dasar wajib dipenuhi. Ketiga, sebagai manusia, para pengungsi perlu untuk mendapatkan penghasilan untuk membiayai kehidupan sehari-hari, serta pekerjaan merupakan perwujudan eksistensi untuk mendefinisikan siapa manusia tersebut," jelas Affan.

Affan menjelaskan kerangka hukum formal belum bisa menjawab tantangan-tantangan tersebut, sebaliknya, nilai-nilai HAM justru menjadi sebuah titik berangkat tepat untuk menyelesaikan tantangan tersebut.

Selain itu, Affan juga menuturkan, Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2016 Tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri merupakan upaya baik dari Pemerintah Indonesia untuk menangani masalah pengungsi dari luar negeri. Namun, Peraturan Presiden tersebut belum menjawab tantangan secara komprehensif serta dibutuhkan penguatan nilai-nilai HAM dalam prinsip penerapanya.

Banyak pengungsi anak-anak dan perempuan dari luar negeri yang mengalami nasib menyedihkan (Foto: pixabay/alexas_fotos)

Mengenai pengungsi luar negeri di Indonesia, Nasruddin bercerita tentang sebuah kisah pilu dua orang anak pengungsi asal Myanmar.

Nasruddin menemukan ada dua orang anak tanpa pendamping (orang tua). Dua anak tersebut dari keluarga berbeda. Nasruddin mengaku tidak bisa membayangkan siapa akan menyelimuti mereka ketika malam hari di kapal dan bagaimana proses distribusi makanan kepada mereka.

"Kami harus lari, takut kami sudah hilang, orang tua kami sudah tidak ada lagi, jadi kami harus pergi dari sana," ujar dua anak tersebut saat berusaha mengungsi dari konflik bersenjata di Myanmar sebagaimana diceritakan Nasruddin.

Dua orang anak tersebut mengaku tinggal di Aceh sangat luar biasa, dan tidak mengalami rasa ketakutan seperti di laut dengan tantangan hujan badai.

"Ketika dua anak tersebut mengungkapkan nasib mereka, rasanya perasaan saya hancur, karena membayangkan bila anak kita seperti itu, walaupun mungkin mereka punya rasa trauma dalam, tapi kekuatan mereka cukup luar biasa," jelas Nasruddin. (Ryn)

Baca Juga:

Dapat 3 Nominasi Oscar 2022, 'Flee' Kisahkan Pelarian Pengungsi Perang

#Juni +62 Saatnya Unjuk Gigi #Pengungsi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Raden Yusuf Nayamenggala

I'm not perfect but special
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
94 Orang Meninggal di Pengungsian Gempa NTT, BNPB Ungkap Penyebabnya
BNPB mengungkap penyebab 94 orang meninggal dunia di pengungsian gempa NTT. Mayoritas merupakan kelompok rentan.
Soffi Amira - 2 jam, 47 menit lalu
94 Orang Meninggal di Pengungsian Gempa NTT, BNPB Ungkap Penyebabnya
Indonesia
9.668 Kasus ISPA Muncul Usai Gempa NTT, Kemenkes Ungkap Kondisi Warga di Pengungsian
Kemenkes mencatat 9.668 kasus ISPA pada warga terdampak gempa NTT sejak 15-26 Agustus 2026. Lebih dari 185 ribu warga masih berada di pengungsian.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 27 Agustus 2026
9.668 Kasus ISPA Muncul Usai Gempa NTT, Kemenkes Ungkap Kondisi Warga di Pengungsian
Indonesia
ISPA Hingga Gastritis Serang Pengungsi Gempa Nagekeo NTT, Ratusan Orang Dirawat
Ratusan pengungsi gempa Nagekeo, NTT, mengalami ISPA, gastritis, flu, dan batuk. Hingga 24 Agustus, 400 warga dirawat di Posko Kesehatan Darurat.
Wisnu Cipto - Selasa, 25 Agustus 2026
ISPA Hingga Gastritis Serang Pengungsi Gempa Nagekeo NTT, Ratusan Orang Dirawat
Indonesia
Gibran Kunjungi SD Inpres Wairklau, Cek Kondisi Pengungsi dan Anak-anak Terdampak Bencana
Wapres Gibran Rakabuming Raka meninjau SD Inpres LXXVI Wairklau, Sikka, yang difungsikan sebagai posko pengungsian dan memastikan kondisi anak-anak aman.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 20 Agustus 2026
Gibran Kunjungi SD Inpres Wairklau, Cek Kondisi Pengungsi dan Anak-anak Terdampak Bencana
Indonesia
Pengungsi Kembali Ngemper di Kantor UNHCR Jakarta, Mereka Bawa Bantal
Pengungsi tiduran di tepi jalan dengan menggunakan karpet. Barang-barang yang ada di sekitar mereka, yakni tas, galon berisi air mineral serta bantal.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 03 Juli 2026
Pengungsi Kembali Ngemper di Kantor UNHCR Jakarta, Mereka Bawa Bantal
Indonesia
Banjir Rendam 126 RT dan 18 Ruas Jalan di Jakarta, Ratusan Warga Mengungsi
Sebanyak 126 RT dan 18 ruas jalan di Jakarta terendam banjir. Ratusan warga pun mengungsi akibat banjir tersebut.
Soffi Amira - Jumat, 23 Januari 2026
Banjir Rendam 126 RT dan 18 Ruas Jalan di Jakarta, Ratusan Warga Mengungsi
Berita
Korban Bencana Sumatra Terancam Kena Campak di Pengungsian, Kemenkes: Penularannya Paling Tinggi
Korban bencana Sumatra terancam tertular campak di pengungsian. Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penularan campak paling tinggi.
Soffi Amira - Kamis, 08 Januari 2026
Korban Bencana Sumatra Terancam Kena Campak di Pengungsian, Kemenkes: Penularannya Paling Tinggi
Indonesia
Pengungsi Banjir Sumatera Bakal Dapat BLT Rp 8 Juta Dari Pemerintah
Seluruh dana santunan tersebut akan langsung dibagikan oleh Kementerian Sosial berdasarkan data & persetujuan dari setiap bupati/walikota daerah setempat
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 25 Desember 2025
Pengungsi Banjir Sumatera Bakal Dapat BLT Rp 8 Juta Dari Pemerintah
Indonesia
Masa Tanggap Darurat Gase ke-2, BNPB Kumpulkan Pengungsi di Tempat Terpadu
Terkait dengan titik pengungsian terpadu, Abdul Muhari mengatakan pihaknya terus berupaya menarik para pengungsi yang kini mengungsi terpisah-pisah
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 12 Desember 2025
Masa Tanggap Darurat Gase ke-2, BNPB Kumpulkan Pengungsi di Tempat Terpadu
Indonesia
Tinjau Aceh dan Sumatra, Prabowo Tegaskan Negara Hadir untuk Korban Bencana
Prabowo menegaskan pemerintah bekerja keras menangani bencana di Aceh dan Sumatra, termasuk pengerahan helikopter serta rencana pembangunan rumah pengganti.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 12 Desember 2025
Tinjau Aceh dan Sumatra, Prabowo Tegaskan Negara Hadir untuk Korban Bencana
Bagikan