Fauna

Populasi Badak Bercula Satu Bertambah, dari 100 Jadi 3.700 Ekor

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Jumat, 24 September 2021
Populasi Badak Bercula Satu Bertambah, dari 100 Jadi 3.700 Ekor

Populasi badak bercula satu yang hampir punah meningkat. (Foto: Pixabay/Ben_Kerckx)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SELAMA bertahun-tahun merasa miris menyaksikan jumlah populasi hewan yang semakin menurun, akhirnya dunia mendapat kabar gembira. Berdasarkan laporan terbaru dari International Rhino Foundation (IRF), ada pertumbuhan pada populasi spesies badak yang terancam punah. Cukup signifikan, jumlahnya meningkat dari 100 menjadi 3.700 ekor.

Dalam laporan IRF yang dirilis pada September 2021 itu, pada awal 1990-an populasi spesies badak bercula satu ini turun hingga hanya tersisa 100 saja. Alasannya apalagi kalau bukan karena perburuan dan transaksi cula ilegal. Untungnya, berselang lebih dari satu abad kemudian ada peningkatan baik yang terlihat. Kini, 3.700 badak bercula satu tersebar di seluruh dunia.

Baca Juga:

5 Hewan yang Mempercantik Indonesia

Menurut yayasan tersebut, data ini tercapai karena pemerintah berhasil memperketat perlindungan dari perburuan ilegal dalam beberapa tahun terakhir. "Pertumbuhan yang berkelanjutan dari populasi badak bercula satu yang lebih besar sangat menggembirakan," kata direktur eksekutif IRF, Nina Fascione.

Setelah 121 tahun, populasi badak bercula satu bertambah menjadi 3.700 ekor. (Foto: Unsplash/Philippe Oursel)

Pertumbuhan ini tidak terlepas berkat hasil kolaborasi luar biasa antara pemerintah India dan Nepal, organisasi lokal dan internasional, serta komunitas lokal yang menghargai badak dan satwa liar lainnya sebagai harta nasional.

"Dengan upaya gabungan yang berkelanjutan, kita dapat berharap untuk melihat pertumbuhan dari populasi yang ada serta potensi untuk memperkenalkan badak ke habitat tambahan yang pernah mereka sebut sebagai rumah," tambah Fascione dalam laporannya.

Baca Juga:

Teknologi Ini Mampu Lacak Badak Lewat Foto Jejak Kaki

Indonesia perlu berbangga pula karena badak Jawa yang hanya hidup di Taman Nasional Ujung Kulon juga dikatakan meningkat. Meskipun tidak secara dramatis dan statusnya masih terancam punah, setidaknya sudah ada 75 badak Jawa di alam liar.

Badak Jawa dan Badak Hitam juga mengalami kenaikan jumlah meski tidak signifikan. (Foto: Pixabay/peterjohnball0)

Sedangkan 10 tahun lalu, jumlahnya kurang dari 50 ekor. Badak hitam, spesies lain yang juga terancam punah dikabarkan juga mengalami peningkatan populasi setelah peristiwa hilangnya perburuan liar pada 1970-an.

Akan tetapi di balik semua kabar gembira ini, tetap ada berita duka. Badak Sumatera dari Indonesia terancam punah karena jumlahnya di bawah 80 ekor. Sementara di benua lain Badak Putih dari Afrika dianggap hampir terancam dengan sisa 17.212 hingga 18.915 ekor.

Meski begitu, langkah perlindungan badak sudah terbukti lebih baik. Pemerintah dan aparat setempat harus tetap bertindak menjaga makhluk luar biasa ini agar tetap ada untuk generasi mendatang. (sam)

Baca Juga:

'Mata-Mata' Berwujud Bayi Gorila Imut

#Fauna #Sains
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Samantha Samsuddin

Be the one who brings happiness
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Lifestyle
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Kerangka itu ditemukan terkubur di sebuah makam di depan altar Gereja St Peter and Paul di Kota Maastricht, Belanda Selatan.
Dwi Astarini - Selasa, 31 Maret 2026
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Bagikan