Petik Laut Wujud Rasa Syukur Hasil Laut Melimpah
Ritual Petik Laut dilangsungkan setiap tahun pada tanggal 27 September. (wikimedia)
MASYARAKAT pesisir yang tinggal di wilayah pantai Sendang Biru, Kabupaten Malang, memiliki tradisi penghormatan terhadap sumber daya laut. Tradisi yang telah dilakukan cukup lama disebut sebagai ritual Petik Laut.
Ritual Petik Laut dilangsungkan setiap tahun pada tanggal 27 September. Melalui ritual Petik Laut masyarakat nelayan Sendang Biru mengungkapkan rasa syukur mereka akan hasil laut yang berlimpah yang telah mereka terima.
Baca Juga:
Secara geografis pantai Sendang Biru terletak sekitar 60 km di sebelah selatan kota Malang dan secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Malang. Pantai Sendang Biru merupakan pantai Lautan Selatan, tetapi karena pantai tersebut “tertutup” oleh pulau Sempu, maka pantai Sendang Biru memiliki perairan yang tenang, dan memiliki pula kekayaan sumber daya ikan yang berlimpah.
Berdasarkan letak geografis daerah Sendang Biru, masyarakat nelayan di wilayah tersebut dibedakan atas nelayan “atas” dan nelayan “bawah”. Nelayan atas adalah masyarakat nelayan yang beragama Kristen dan tinggal di daerah perbukitan. Mereka memiliki pekerjaan ganda, sebagai nelayan dan petani (berladang).
Nelayan bawah adalah nelayan yang tinggal di daerah sekitar pantai dan umumnya beragama Islam. Kehidupan sebagai nelayan, dijalani oleh nelayan atas dan bawah secara damai, melalui kebersamaan dan saling memiliki solidaritas terhadap berbagai kehidupan sosial.
Di samping nelayan yang menetap di Sendang Biru, terdapat pula pendatang yang disebut nelayan andon. Nelayan andon adalah nelayan yang berasal dari daerah di luar Sendang Biru, seperti Cilacap, Madura, Bugis, Banyuwangi, Kalimantan dan mereka menetap sementara di wilayah perairan Sendang Biru dengan mengontrak rumah selama musim melaut.
Proses ritual Petik Laut berlangsung sekitar empat hari dan berlangsung sangat meriah. Di pelabuhan Pondok Dadap dilangsungkan berbagai atraksi bagi masyarakat, seperti lomba permainan, pameran hasil kelautan, pertunjukan musik, barongsai dan sebagainya. Sehari sebelum ritual itu dilangsungkan, biasanya masyarakat nelayan melakukan upacara doa, baik secara Islam maupun secara Kristen, dan dilakukan di masing-masing tempat ibadah.
Baca Juga:
Arat Sabulungan,Sistem Kepercayaan Suku Mentawai yang Hampir Hilang
Sebenarnya kata “Petik laut” berasal dari kata “Petik” (Bahasa Jawa) dan laut. Petik diartikan sebagai “ambil pungut”yang merupakan kependekan dari memetik, memungut, mengambil, dan secara harafiah berarti memetik hasil usaha dari laut, atau dalam bahasa Jawa dapat berarti “ngunduh”, yang berarti memetik hasil dari kelestarian kehidupan dari laut.
Sebagian masyarakat nelayan masih percaya bahwa ada penguasa laut, yaitu Nyi Lara Kidul. Pemahaman ini muncul karena sebagian besar nelayan pantai Selatan Sendang Biru (yang berasal etnik Jawa dan Madura) menganggap Nyi lara Kidul adalah pelindung para keluarga nelayan.
Dengan demikian ritual Petik Laut memiliki simbol tertentu, dan Nyi Lara Kidul merupakan simbol sentral pada Petik Laut. Simbol-simbol itu diwujudkan melalui pemberian sesuatu (sesaji) kepada Penguasa Laut dengan melarung sesaji tersebut.
Sesaji tersebut berupa gunungan, yaitu panen hasil bumi yang disusun sedemikian rupa menyerupai gunung, dan boneka sepasang pengantin, makanan dan buah-buahan. Semua sesaji tersebut diletakkan pada getek (sampan) yang kemudian diletakkan pada kapal yang siap untuk melarungkan getek ke tengah laut.
Nyi Lara Kidul hanya sebagai simbol perantara masyarakat nelayan untuk memahami pentingnya lautan bagi mereka. Lautan harus dikuasai, dan perairan Sendang Biru harus dipertahankan agar tidak tercemar. Melalui konservasi lingkungan maka lautan menjadi sangat potensial dan fungsional untuk kehidupan para nelayan. (aru)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Whoosh Jadi Incaran Turis Asing, Hampir 300 Ribu WNA Malaysia Datang Cuma Buat Naik
Promo Ancol 2026: Tiket Masuk Rp 35 Ribu, Gratis Voucher Makan Rp 20 Ribu
Syahbandar Larang Kapal Wisata Labuan Bajo Berlayar Malam Hari
Kereta Panoramic Jadi Favorit Wisata Nataru 2025-2026, Pelanggan Capai 11.819 Orang
Cirebon Jadi Tujuan Pariwisata Baru saat Nataru 2026, KAI Catat 274 Ribu Penumpang Kereta Api Turun dan Naik
Penumpang KA Panoramic Tembus 150 Ribu Orang per Tahun, Bukti Naik Kereta Jadi Tren Baru Berlibur
Menikmati Keindahan Senja di Pantai Pattaya, Wajah Lain Wisata Alam Thailand
Teater Bintang Planetarium Buka Sampai April 2026, Fasilitas Canggih Siap Bikin Pemuda Jakarta Pintar
Menteri Fadli Janjikan Semakin Banyak Revitalisasi Cagar Budaya
Setelah Kemalingan, Museum Louvre Alami Kebocoran yang Merusak Koleksi Buku